81 Tahun Indonesia Merdeka: Harapan Generasi Muda di Tengah Zaman yang Terfragmentasi
- account_circle admin
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Putu Wahyu Widiartana, S,H., M.H
(Dosen Fakultas Hukum Universitas Pendidikan Nasional)
DENPASAR – Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka. Dalam sebuah diskusi kebangsaan pada peringatan kemerdekaan tahun ini, muncul satu kegelisahan: apakah generasi muda Indonesia sedang kehilangan harapan?
Pertanyaan itu tidak dapat dijawab secara tergesa-gesa. Generasi muda hari ini hidup dalam lanskap sosial yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah arus informasi, teknologi, kompetisi pendidikan, ketidakpastian dunia kerja, dan perubahan sosial yang cepat. Mereka terhubung hampir setiap saat, tetapi kehidupan sosial justru semakin individual.
Kita semakin sibuk membangun jalan sendiri-sendiri.
Ruang pendidikan masih sering menempatkan capaian individual sebagai ukuran keberhasilan, dunia kerja memperkuat kompetisi, sementara media sosial semakin menonjolkan personal branding. Tidak ada yang salah dengan cita-cita personal. Persoalan muncul ketika kehidupan hanya dipahami sebagai proyek individual: yang penting saya berhasil dan saya aman.
Republik ini tidak dibangun dengan cara seperti itu.
Indonesia lahir dari manusia-manusia yang melampaui kepentingan dirinya. Mereka berbeda latar belakang, pemikiran, agama, dan daerah. Mereka berdebat dan berdialektika, tetapi dipertemukan oleh satu kesadaran: ada sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri, yaitu nasib rakyat dan masa depan bangsa.
Delapan puluh satu tahun setelah kemerdekaan, pertanyaannya bukan hanya apakah generasi muda masih memiliki cita-cita, tetapi apakah kita masih mempunyai cita-cita bersama?
Kesadaran yang Dibentuk Zaman
Karl Marx memperkenalkan gagasan false consciousness atau kesadaran palsu untuk menjelaskan bagaimana manusia dapat memahami realitas melalui cara pandang yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi objektifnya. Antonio Gramsci kemudian memperluas pembacaan tersebut melalui konsep hegemoni: dominasi tidak selalu berlangsung melalui paksaan, tetapi juga melalui nilai, budaya, dan cara berpikir yang diterima sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika generasi muda terus diperlihatkan bahwa keberhasilan identik dengan kekayaan, jabatan, popularitas, dan pengakuan sosial, apakah ukuran itu benar-benar lahir dari kesadaran merdeka? Ketika algoritma menentukan apa yang kita lihat dan bicarakan, sejauh mana kita masih menjadi tuan atas pikiran sendiri?
Inilah paradoks kehidupan digital. Kita merasa semakin bebas berbicara, tetapi kebebasan berbicara tidak selalu identik dengan kemerdekaan berpikir. Banyaknya informasi juga tidak otomatis melahirkan kedalaman pengetahuan.
Kita semakin cepat mengetahui, tetapi belum tentu semakin dalam memahami.
Karena itu, dialektika menjadi penting. Dialektika bukan sekadar kemampuan berdebat. Ia adalah keberanian mempertanyakan realitas yang dianggap biasa. Mengapa ketimpangan terus terjadi? Mengapa pendidikan belum sepenuhnya menjadi jalan pembebasan? Mengapa korupsi terus berulang? Mengapa demokrasi semakin ramai secara prosedural, tetapi percakapan publik semakin miskin substansi?
Kesadaran kritis lahir ketika kita berhenti menerima keadaan hanya dengan kalimat: memang sudah seperti itu.
Generasi Muda dan Struktur Zaman
Generasi muda tidak tumbuh dalam ruang kosong. Cara berpikir, pilihan hidup, dan orientasi mereka dibentuk oleh kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, dan teknologi.
Ketika sebagian generasi muda menjadi pragmatis terhadap pekerjaan dan keamanan ekonomi, kita perlu melihat tekanan hidup yang mereka hadapi. Ketika mahasiswa semakin berorientasi pada nilai, kelulusan, dan dunia kerja, kita juga perlu bertanya apakah perguruan tinggi masih menyediakan ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan berorganisasi.
Di sinilah pendidikan memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar menghasilkan tenaga kerja.
Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan semestinya melahirkan conscientization atau kesadaran kritis. Pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan, tetapi membuat manusia mampu membaca realitas dan memahami struktur yang membentuk kehidupannya.
Kampus tidak cukup melahirkan manusia yang siap bekerja. Kampus harus melahirkan manusia yang siap berpikir.
Dalam konteks ini, gagasan Gramsci mengenai intelektual organik menjadi relevan. Intelektual tidak boleh berhenti pada kemampuan menjelaskan teori. Ia harus mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan masyarakat.
Dalam bahasa pergerakan, ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di kepala. Ia harus mempunyai kaki untuk berjalan bersama rakyat.
Dari Kesadaran Kritis Menuju Gerakan Praksis
Namun kesadaran saja belum cukup. Di sinilah praksis menjadi penting. Dalam tradisi pemikiran kritis, praksis merupakan pertemuan antara refleksi dan tindakan. Refleksi tanpa tindakan hanya menghasilkan diskusi yang tidak mengubah keadaan. Sebaliknya, tindakan tanpa refleksi mudah berubah menjadi aktivisme yang kehilangan arah.
Gerakan praksis bukan sekadar turun ke jalan atau membuat pernyataan sikap. Praksis menuntut kemampuan membaca persoalan, merumuskan gagasan, menentukan keberpihakan, bertindak, lalu mengevaluasi tindakan berdasarkan realitas.
Kegelisahan terhadap mahalnya pendidikan tidak cukup berhenti menjadi keluhan di media sosial. Ia harus berubah menjadi kajian, advokasi, kritik kebijakan, dan upaya menawarkan jalan keluar. Demikian pula persoalan korupsi, ketimpangan, kerusakan lingkungan, diskriminasi, dan kemunduran demokrasi. Kritik harus mempunyai basis pengetahuan, keberpihakan, dan tindakan.
Inilah gerakan praksis: berpikir untuk bergerak dan bergerak untuk memperbaiki cara berpikir.
Harapan yang Terfragmentasi
Lalu, apakah generasi muda Indonesia benar-benar kehilangan harapan?
Saya kira tidak.
Yang sedang kita hadapi mungkin bukan hilangnya harapan, melainkan terfragmentasinya harapan menjadi proyek-proyek individual. Ada yang berharap memperoleh pekerjaan, membangun usaha, menjadi akademisi, profesional, pejabat, kreator, atau bekerja di luar negeri. Semua harapan itu sah.
Namun bangsa tidak dapat dibangun hanya dari kumpulan cita-cita individual. Kita membutuhkan harapan kolektif.
Kita perlu bertanya: Indonesia seperti apa yang ingin kita bangun dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang? Apakah Indonesia yang maju secara ekonomi tetapi tetap timpang? Indonesia yang modern tetapi kehilangan solidaritas? Atau Indonesia yang kemajuannya berjalan bersama keadilan sosial dan martabat kemanusiaan?
Menemukan Kembali Kata “Kita”
Semangat pergerakan hari ini tidak harus mengulang seluruh bentuk perjuangan masa lalu. Setiap zaman mempunyai medan perjuangannya sendiri. Yang tidak boleh hilang adalah keberanian membangun kesadaran dan menerjemahkannya menjadi praksis.
Generasi muda perlu kembali membaca, berdiskusi, menulis, berorganisasi, meneliti, mengkritik, menguasai teknologi, melihat kehidupan masyarakat, dan berani masuk ke ruang pengambilan keputusan. Bukan untuk sekadar berteriak, tetapi untuk mengubah kegelisahan menjadi kesadaran, kesadaran menjadi gagasan, gagasan menjadi keberpihakan, dan keberpihakan menjadi tindakan.
Berdikari tidak boleh diterjemahkan sebagai berjalan sendiri-sendiri. Berdikari adalah keberanian berdiri di atas kekuatan sendiri, sekaligus kesadaran bahwa kekuatan tersebut harus diabdikan bagi kepentingan yang lebih besar.
Pada usia 81 tahun Republik Indonesia, barangkali kita tidak kekurangan anak muda yang mempunyai mimpi. Yang perlu kita perjuangkan adalah agar mimpi-mimpi itu tidak berhenti pada kata “aku”.
Sebab Indonesia tidak pernah lahir dari kata aku.
Indonesia lahir ketika manusia dengan segala perbedaannya berani menemukan kata “kita”.
Dan selama generasi muda masih mau berpikir, berdialektika, berefleksi, serta menerjemahkan kesadarannya ke dalam gerakan praksis bersama rakyat, harapan itu belum hilang.
Sebab kemerdekaan bukan sekadar warisan sejarah, melainkan kesadaran yang harus terus dihidupkan dan diwujudkan dalam praksis perjuangan.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar