BBM Bali Belum Normal, Nyoman Parta Desak WFH dan Sekolah Daring untuk Kurangi Macet
- account_circle admin
- calendar_month 6 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali memasuki hari ketiga, Rabu (14/10/2026). Distribusi BBM yang belum normal menyebabkan antrean kendaraan masih terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), khususnya di Kota Denpasar.
Pantauan pada Rabu pagi di kawasan Gatot Subroto Tengah, Pom bensin Ubung, Ahnad Yani Utara, Gatot Subroto Timur hingga Tohpati, sekitar pukul 05.00 WITA, antrean kendaraan di sejumlah SPBU masih mengular hingga ratusan meter.
Kondisi ini menunjukkan distribusi BBM belum sepenuhnya pulih dan berdampak pada kelancaran lalu lintas. Jalanan menjadi macet dan membuat aktivitas warga terganggu.
Sehari sebelumnya, Selasa (13/10/2026) malam sekitar pukul 21.00 WITA, kemacetan parah masih terjadi di kawasan perempatan Jalan Marlboro dan Teuku Umar Barat, Denpasar.
Keberadaan dua SPBU di sekitar lokasi dengan antrean kendaraan roda dua dan roda empat membuat arus lalu lintas semakin semrawut.
Menanggapi kondisi kemacetan di berbagai wilayah masih terjadi, anggota Komisi III DPR RI, I Nyoman Parta, mendesak pemerintah daerah mengambil langkah konkret untuk mengurangi kemacetan selama distribusi BBM belum kembali normal.
Parta mengusulkan agar pemerintah provinsi, kabupaten/kota, instansi vertikal, serta institusi pendidikan mempertimbangkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) selama beberapa hari.
Ia juga mendorong kampus dan sekolah menerapkan pembelajaran daring untuk sementara waktu guna mengurangi mobilitas masyarakat.
“Sehingga mengurangi kemacetan dan mobilitas distribusi BBM dari Depo Manggis dan Sanggaran bisa lebih cepat,” pintanya di Denpasar, Selasa (13/10/2026).
Selain pengurangan mobilitas, Parta meminta Kepolisian Daerah (Polda) Bali membantu pengawalan distribusi BBM agar pasokan dari depo dapat lebih cepat sampai ke SPBU.
Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan untuk membantu mengurai kemacetan sekaligus mempercepat pemulihan distribusi BBM yang berdampak pada aktivitas masyarakat.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali atas antrean panjang di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir.
“Atas nama PT Pertamina Persero, saya selaku Direktur Utama menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya, khususnya bagi warga Bali atas kejadian antrean yang beberapa hari ini kita alami bersama, khususnya di SPBU-SPBU yang berada di wilayah Bali,” ujarnya.
Simon mengatakan Pertamina terus berupaya memperbaiki distribusi energi agar pelayanan kepada masyarakat dapat kembali berjalan dengan baik.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab keterlambatan pasokan adalah kendala pada jangkar kapal saat proses pembongkaran kargo. Kondisi tersebut membuat jadwal yang semula direncanakan berlangsung sekitar pukul 06.30 WITA mundur hingga sekitar pukul 22.00 WITA.
“Namun sekali lagi, kejadian ini tidak untuk mencari pembenaran bagi kami. Bagaimanapun juga yang terpenting adalah pelayanan bagi masyarakat. Jadi sekali lagi, untuk kesekian kalinya juga saya menyampaikan permohonan maaf,” kata Simon.
Hingga Rabu pagi, antrean kendaraan yang masih terjadi di sejumlah SPBU menjadi perhatian, terutama terkait percepatan distribusi BBM dan dampaknya terhadap mobilitas masyarakat serta kelancaran lalu lintas di Bali.(iwo)
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar