Breaking News
light_mode
Trending Tags

Potensi Kelautan Besar, Tetapi SDM Pengelola Masih Terbatas

  • account_circle Admin Jakarta
  • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
  • visibility 4
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Matacompas.com Jakarta – Indonesia adalah negeri kepulauan, namun belum sepenuhnya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola laut sebagai ruang pengetahuan, pekerjaan, dan masa depan. Di pulau‑pulau kecil, laut terlihat jelas di depan mata; kapal datang dan pergi setiap hari, pelabuhan menjadi tempat pertemuan manusia, barang, dan berbagai kepentingan ekonomi. Namun orang‑orang yang memiliki kompetensi untuk mengoperasikan, merawat, mengelola, serta mengembangkan aktivitas kelautan belum tentu dipersiapkan di wilayah tersebut.

Pertanyaan ini semakin mengusik pikiran ketika melihat kondisi Ternate dan Maluku Utara. Di wilayah itu, laut bukan hanya pemandangan, melainkan jalan raya penghubung antarpulau yang mengangkut orang, menggerakkan barang, dan menopang kehidupan ekonomi masyarakat. Ketika membicarakan masa depan daerah kepulauan, kita tidak cukup hanya bertanya apa yang bisa diambil dari laut. Kita juga perlu bertanya: siapa yang akan mengelola kehidupan yang bergerak di atas laut itu?

Laut bukan hanya soal ikan
Kita sering menyederhanakan makna kelautan. Mendengar kata tersebut, pikiran langsung tertuju pada ikan, terumbu karang, sumber daya laut, atau konservasi. Padahal kehidupan maritim juga mencakup kapal, pelabuhan, transportasi, logistik, keselamatan, navigasi, teknologi, hingga bisnis. Di balik kapal yang berlayar antarpelabuhan, ada beragam pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan dan kompetensi khusus.

Kesenjangan kompetensi terasa nyata ketika industri membutuhkan tenaga ahli teknik perkapalan. Industri pelayaran memerlukan SDM yang memahami aspek teknis kapal, mulai dari pemeliharaan, perbaikan, hingga pemenuhan persyaratan teknis dan keselamatan. Namun tenaga dengan keahlian sesuai tidak selalu mudah ditemukan.

Keterbatasan tenaga ahli bukan hanya persoalan kepegawaian. Jika pekerjaan teknis tidak dapat ditangani tepat waktu, pemeliharaan dan perbaikan kapal dapat terhambat. Akibatnya jadwal pekerjaan atau produksi kapal berpotensi mundur, kesiapan armada terganggu, dan produktivitas perusahaan ikut terdampak. Dalam industri yang bergantung pada keandalan kapal dan kepastian operasional, persoalan SDM teknis dapat merambat menjadi persoalan ekonomi. Kita bisa memiliki kapal, fasilitas galangan, dan infrastruktur pendukung, tetapi semua itu tidak akan bekerja optimal tanpa manusia yang memiliki keahlian untuk memastikan kapal laik, aman, dan siap beroperasi.

Pengalaman di industri pelayaran menunjukkan bahwa persoalan sumber daya manusia bukan sekadar wacana. Banyak orang ingin bekerja, banyak juga lulusan perguruan tinggi tersedia. Namun jumlah lulusan tidak selalu sebanding dengan ketersediaan tenaga yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri. Akibatnya perusahaan kerap merekrut lulusan dari bidang terdekat, lalu memberikan pelatihan tambahan untuk mengenalkan operasional, pemahaman keselamatan, dan keterampilan lebih spesifik.

Pembelajaran di tempat kerja memang wajar. Namun muncul pertanyaan: sampai kapan industri harus menjadi kampus kedua bagi lulusan perguruan tinggi? Pertanyaan ini bukan tuntutan agar universitas mengikuti setiap kebutuhan industri. Persoalannya lebih mendasar: sejauh mana pendidikan dan dunia kerja sudah saling memahami, berbagi pengetahuan, dan mempersiapkan kompetensi yang relevan? Di sinilah pendidikan maritim perlu dilihat lebih jauh: bukan hanya penyedia lulusan, melainkan bagian dari sistem yang menjaga keberlangsungan dan daya saing industri pelayaran.

Dari kebutuhan tenaga kerja menjadi ekosistem pendidikan
Konteks Ternate dan Maluku Utara memberikan gambaran penting mengenai hal ini. Universitas Khairun misalnya telah memiliki bidang ilmu perikanan dan kelautan sebagai modal penting. Namun jika laut dipandang sebagai bagian kehidupan ekonomi secara utuh, cakupannya tentu lebih luas. Kita tidak hanya membutuhkan orang yang memahami sumber daya laut, tetapi juga tenaga profesional yang memahami operasi kapal, pengelolaan pelabuhan, distribusi barang, keselamatan kerja, serta pengembangan teknologi dan bisnis maritim.

Karena itu persoalannya bukan hanya perlu‑tidaknya membuka program studi baru. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ekosistem pendidikan kita sudah cukup menyiapkan manusia untuk masa depan ekonomi maritim daerahnya? Jawabannya tidak harus berupa pendirian jurusan baru. Penguatan program yang sudah ada, pendidikan vokasi, konsentrasi keahlian, sertifikasi profesi, maupun pembelajaran berbasis praktik bisa menjadi solusi.

Perusahaan pelayaran dapat berdialog dengan perguruan tinggi untuk memetakan kompetensi yang dibutuhkan. Pelabuhan dan galangan kapal dapat menjadi ruang belajar, praktisi dapat berbagi pengalaman di kelas, mahasiswa mendapatkan kesempatan magang terstruktur, sedangkan kebutuhan industri menjadi bahan evaluasi kurikulum. Dengan demikian hubungan kampus‑industri tidak hanya berhenti pada perekrutan setelah kelulusan, melainkan sudah terjalin sejak proses pembelajaran berlangsung. Yang perlu dibangun bukan hanya jalur masuk dari kampus ke dunia kerja, melainkan ekosistem yang membuat pengetahuan, pengalaman, dan kebutuhan industri saling memperkuat.

SDM tidak bisa dibangun mendadak
Kebutuhan ini semakin penting karena industri pelayaran terus berubah: kapal semakin modern, digitalisasi semakin kuat, standar keselamatan semakin tinggi, serta tuntutan efisiensi energi dan perlindungan lingkungan semakin besar. Pelabuhan dan sistem logistik pun semakin terintegrasi. Kompetensi yang dibutuhkan saat ini belum tentu sama dengan yang dibutuhkan sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang. Artinya perencanaan SDM tidak boleh menunggu sampai kekurangan tenaga kerja benar‑benar terasa.

Kapal bisa dibeli saat dibutuhkan, teknologi dapat didatangkan, infrastruktur dapat dibangun. Namun manusia memerlukan waktu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan sertifikasi yang diperlukan. Investasi pendidikan maritim bukan hanya upaya memenuhi kebutuhan tenaga kerja, melainkan bagian strategi membangun kapasitas ekonomi daerah.

Ketika industri tumbuh tetapi tenaga kompetennya terus didatangkan dari luar, ekonomi memang berkembang. Namun kemampuan daerah untuk mengelola, mengembangkan, dan mengambil manfaat lebih besar belum tentu ikut tumbuh. Bukan berarti tidak boleh menerima tenaga dari luar, industri memang butuh kompetensi terbaik dari mana pun. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana pertumbuhan industri juga membuka kesempatan bagi masyarakat setempat untuk belajar, bekerja, berkembang, dan mengambil peran yang semakin besar. Daerah yang mampu menyiapkan manusianya sendiri memiliki peluang lebih besar tidak hanya menjadi lokasi kegiatan ekonomi, tetapi juga pemilik kapasitas mengembangkannya.

Jangan hanya membangun lautnya, bangun manusianya
Ini bukan alasan untuk menyalahkan kampus, industri, atau pemerintah. Sebaliknya, ini alasan bagi ketiganya untuk memulai percakapan yang lebih terarah. Perguruan tinggi perlu berdialog dengan industri tentang kompetensi saat ini dan masa depan; industri perlu membuka ruang pendidikan melalui praktik kerja, pendampingan, fasilitas, dan keterlibatan praktisi; pemerintah perlu menyediakan kebijakan dan dukungan agar kolaborasi berjalan berkelanjutan.

Di saat yang sama anak‑anak muda di daerah kepulauan perlu melihat laut bukan hanya sebagai ruang lintas antarpulau, tetapi juga ruang profesi, pengetahuan, dan masa depan. Selama ini persoalan kita mungkin bukan kekurangan potensi, melainkan belum kuatnya jembatan antara potensi laut dan manusia yang mampu mengelolanya.

Ternate tidak kekurangan laut, Maluku Utara memiliki posisi penting dalam kehidupan kepulauan Indonesia, dan negeri ini memiliki potensi maritim besar. Tantangannya adalah memastikan potensi tersebut berjalan seiring dengan pembangunan kapasitas manusia. Sebagai praktisi industri pelayaran, saya melihat kebutuhan itu nyata. Maka muncul pertanyaan penting: ketika anak‑kita tumbuh di tengah laut, apakah pendidikan mereka juga memberi kesempatan membangun masa depan di atas laut itu?

Ukuran keberhasilan ekonomi maritim bukan hanya berapa banyak kapal berlayar, seberapa besar pelabuhan dibangun, atau seberapa ramai arus barang bergerak. Salah satu ukurannya adalah berapa banyak anak muda dari pulau‑pulau kita yang memiliki kesempatan dan kompetensi untuk mengoperasikan kapal, merawatnya, mengelola pelabuhan, mengembangkan logistik, serta membangun industri pendukung seluruh aktivitas tersebut. Membangun ekonomi maritim bukan hanya menghadirkan kapal dan infrastruktur, tetapi juga memastikan masyarakat kepulauan memiliki pengetahuan dan keterampilan menjadi bagian masa depannya. Lautnya sudah ada, peluangnya terbuka. Sekarang, bagaimana kita menyiapkan manusianya.

 

Oleh: ARIANI DJALAL
Komisaris Independen PT ASDP Indonesia Ferry

  • Penulis: Admin Jakarta

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ranperda Toko Modern Tuntas, DPRD Bali Tegaskan Keberpihakan Nyata pada UMKM dan Pasar Tradisional

    Ranperda Toko Modern Tuntas, DPRD Bali Tegaskan Keberpihakan Nyata pada UMKM dan Pasar Tradisional

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 20
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com – DPRD Provinsi Bali resmi merampungkan seluruh tahapan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pengendalian Toko Modern Berjejaring. Mulai dari penjelasan awal hingga proses legal drafting, seluruhnya telah dilaksanakan secara komprehensif, sistematis, dan berlandaskan ketentuan peraturan perundang-undangan, sekaligus menjawab kebutuhan riil masyarakat Bali. Ketua Panitia Khusus (Pansus) Ranperda Pengendalian Toko Modern Berjejaring, Anak […]

  • Somvir: Jangan Saling Menyalahkan, Saatnya Benahi Tata Ruang Bali Bersama

    Somvir: Jangan Saling Menyalahkan, Saatnya Benahi Tata Ruang Bali Bersama

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com — Isu krusial mengenai masa depan tata ruang Pulau Dewata kembali mencuat ke ruang publik. Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Provinsi Bali mengangkat tema strategis “Siapa Pengendali Tata Ruang Bali: Pemerintah atau Investor?” dalam diskusi publik yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali, Sabtu (11/4/2026). Diskusi yang berlangsung […]

  • DPD PDI Perjuangan Bali Gelar Utsawa Widyaswara Susastra Bali, Generasi Muda Diajak Jaga Bahasa dan Budaya Leluhur

    DPD PDI Perjuangan Bali Gelar Utsawa Widyaswara Susastra Bali, Generasi Muda Diajak Jaga Bahasa dan Budaya Leluhur

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 20
    • 0Komentar

    DENPASAR — DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga eksistensi bahasa, aksara, dan sastra Bali melalui penyelenggaraan Utsawa Widyaswara Susastra Bali serangkaian Bulan Bung Karno 2026 dan peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan. Ajang intelektual dan budaya yang digelar di Kantor DPD PDI Perjuangan Bali, Denpasar, sejak Rabu (6/5/2026) hingga Sabtu (10/5/2026) itu […]

  • Jelang Hari Tumpek Wayang, Pemprov Bali Libatkan Kampus dan Komunitas Lingkungan Angkut 3,56 Ton Sampah di Mangrove Pesanggaran

    Jelang Hari Tumpek Wayang, Pemprov Bali Libatkan Kampus dan Komunitas Lingkungan Angkut 3,56 Ton Sampah di Mangrove Pesanggaran

    • calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
    • account_circle Redaksi Bali
    • visibility 22
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matacompas.com – Aksi bersih sampah plastik Pemerintah Provinsi Bali bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lingkungan berlangsung di kawasan hutan mangrove Pesanggaran, Denpasar, Jumat (9/10/2026). Menariknya, aksi bersih lingkungan berhasil mengumpulkan 3,56 ton sampah dalam 777 karung. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan serentak di seluruh kabupaten/kota se-Bali menjelang […]

  • Streamlining Tasks: Automation Gadgets Revolutionizing Everyday Work

    Streamlining Tasks: Automation Gadgets Revolutionizing Everyday Work

    • calendar_month Rabu, 17 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 363
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Temukan Pelanggaran Tata Ruang di Kawasan UNESCO, Pansus TRAP DPRD Bali Segel Billy’s Soka dan Gong Jatiluwih

    Temukan Pelanggaran Tata Ruang di Kawasan UNESCO, Pansus TRAP DPRD Bali Segel Billy’s Soka dan Gong Jatiluwih

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 17
    • 0Komentar

    TABANAN, Matakompas.com – Panitia Khusus (Pansus) Tata Ruang, Aset dan Perizinan (TRAP) DPRD Bali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kawasan Jatiluwih, Tabanan, yang merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO. Sidak ini dilakukan untuk menindaklanjuti sejumlah laporan terkait pelanggaran aturan yang dapat merusak keaslian kawasan tersebut. Dalam sidak yang berlangsung pada Rabu, 2 Desember 2025, […]

expand_less