Breaking News
light_mode
Trending Tags

IWO Gelar Dialog Publik “Meneropong Bali dari Sudut Berbeda”, Dr. Yoga Iswara Dorong Paradigma Baru Pariwisata Bali

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR – Ikatan Wartawan Online (IWO) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14 sekaligus memperingati HUT IWO Bali yang pertama dengan menggelar dialog publik bertajuk “Meneropong Bali dari Sudut Berbeda”.

Kegiatan tersebut digelar di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Minggu (30/8/2026), menghadirkan berbagai perspektif mengenai arah pembangunan Bali, khususnya masa depan sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Pulau Dewata.

Salah satu narasumber yang memberikan pandangan strategis dalam dialog tersebut adalah Dr. Yoga Iswara, BBA., BBM., MM., CHA, Vice President IHGMA National Chapter.

Yoga Iswara melihat bahwa Bali membutuhkan cara pandang baru dalam mengukur keberhasilan pariwisatanya. Menurutnya, pendekatan yang selama ini terlalu menitikberatkan pada jumlah kunjungan wisatawan tidak lagi cukup dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pariwisata Bali.

Dalam materi yang disampaikannya, Yoga menekankan bahwa pendekatan kuantitas atau jumlah kunjungan wisatawan sudah tidak relevan sebagai faktor utama kesuksesan pariwisata Bali.

Pandangan tersebut membuka ruang refleksi bahwa semakin banyak wisatawan yang datang tidak otomatis berarti semakin besar pula manfaat yang diterima masyarakat Bali. Karena itu, orientasi pembangunan pariwisata dinilai perlu bergeser dari sekadar mengejar angka kunjungan menuju kualitas, nilai ekonomi, keberlanjutan, serta manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan.

Bali Dinilai Membutuhkan Otoritas Khusus

Salah satu gagasan strategis yang mengemuka adalah perlunya otoritas khusus untuk mengelola pariwisata Bali, terutama dari aspek regulasi.

Dalam materi presentasinya, Yoga mencantumkan bahwa Bali membutuhkan otoritas khusus untuk mengelola pariwisata dari sisi regulasi.

Gagasan ini menunjukkan pentingnya tata kelola pariwisata yang lebih terintegrasi. Bali sebagai destinasi pariwisata internasional menghadapi persoalan yang kompleks, mulai dari tata ruang, lingkungan, infrastruktur, investasi, budaya hingga kepentingan masyarakat lokal.

Karena itu, pengelolaan pariwisata tidak cukup dilakukan secara sektoral. Diperlukan arah kebijakan yang mampu melihat Bali sebagai satu kesatuan destinasi dengan karakter, daya dukung, budaya dan kepentingan masyarakat yang harus dijaga.

Pariwisata Berkelanjutan Harus Memberikan Manfaat Nyata

Yoga juga menyoroti kebutuhan akan insentif khusus dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan, termasuk pentingnya ukuran keberhasilan yang tidak hanya melihat jumlah wisatawan, tetapi juga kontribusi ekonomi yang dihasilkan.

Dalam materi yang dipaparkan, disebutkan bahwa Bali membutuhkan insentif khusus untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan salah satu tolok ukurnya adalah devisa.

Perspektif ini menjadi penting di tengah tantangan Bali dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat lokal.

Pariwisata masa depan, menurut gagasan yang dibawa dalam dialog tersebut, bukan semata-mata tentang bagaimana mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana setiap aktivitas pariwisata mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi Bali.

Memperkuat Pariwisata Budaya

Di tengah derasnya perkembangan pariwisata modern, penguatan pariwisata budaya juga menjadi salah satu perhatian penting.

Materi Yoga secara tegas menempatkan fokus penguatan pada pariwisata budaya sebagai salah satu solusi strategis bagi Bali.

Hal ini menjadi relevan karena kekuatan Bali tidak hanya terletak pada keindahan alamnya. Identitas budaya, tradisi, seni, adat istiadat, kehidupan masyarakat serta spiritualitas Bali merupakan kekuatan yang membedakan Pulau Dewata dari destinasi wisata lainnya di dunia.

Jika dikelola dengan tepat, pariwisata budaya dapat menjadi fondasi penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih bernilai sekaligus menjaga keberlanjutan identitas Bali.

Dari Sustainability Menuju Regenerative Tourism

Gagasan lain yang tidak kalah menarik adalah konsep “Beyond Sustainability: Regenerative Tourism”.

Konsep tersebut tercantum sebagai salah satu solusi strategis dalam materi Yoga Iswara.

Jika keberlanjutan selama ini berbicara mengenai bagaimana menjaga agar sumber daya tidak rusak atau habis, maka pendekatan regeneratif membawa gagasan yang lebih jauh: bagaimana aktivitas pariwisata justru dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan, budaya dan kehidupan masyarakat.

Dengan perspektif tersebut, Bali tidak hanya dituntut untuk mempertahankan apa yang masih ada, tetapi juga melakukan pemulihan dan peningkatan kualitas lingkungan serta kehidupan sosial masyarakat.

Pengusaha Jangan Hanya Mengejar Profit

Yoga juga mengangkat perspektif “Post Profit” melalui analogi “The Goose that Laid the Golden Egg”.

Gagasan tersebut menjadi pengingat bahwa orientasi keuntungan jangka pendek harus ditempatkan dalam kerangka keberlangsungan jangka panjang.

Bali adalah aset bersama. Karena itu, kepentingan ekonomi dan investasi idealnya tidak mengorbankan lingkungan, budaya maupun kehidupan masyarakat yang menjadi fondasi utama daya tarik Pulau Dewata.

Keuntungan tetap penting bagi dunia usaha. Namun, keuntungan tersebut perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menjaga sumber daya yang menjadi modal utama pariwisata Bali.

Persoalan Sampah dan Infrastruktur Turut Disoroti

Dalam materi yang dibawa Yoga Iswara, persoalan lingkungan juga mendapat perhatian melalui agenda kick off pembangunan Waste To Energy di Bali.

Pengelolaan sampah menjadi salah satu pekerjaan besar yang harus dihadapi Bali seiring tingginya aktivitas penduduk dan pariwisata.

Sementara dari sisi infrastruktur, persoalan kemacetan juga menjadi perhatian. Materi tersebut menyebut pembangunan shortcut sebagai salah satu langkah yang diharapkan dapat membantu mengurai persoalan kemacetan.

Dengan demikian, masa depan pariwisata Bali tidak dapat dipisahkan dari kualitas infrastruktur dan kemampuan daerah dalam menyediakan sistem transportasi serta pengelolaan lingkungan yang memadai.

Proteksi UMKM Lokal

Perspektif lain yang disampaikan adalah mengenai investasi dan keberadaan pelaku usaha lokal.

Dalam materi solusi strategis, disebutkan gagasan pembatasan KBLI untuk PMA sebagai bentuk proteksi UMKM lokal.

Persoalan ini menyentuh salah satu tantangan penting pembangunan ekonomi Bali: bagaimana investasi tetap dapat berkembang, tetapi pada saat yang sama tidak membuat pelaku usaha lokal kehilangan ruang untuk tumbuh di daerahnya sendiri.

UMKM lokal harus menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata, bukan hanya menjadi penonton dari pertumbuhan investasi dan industri pariwisata.

Menatap Bali 100 Tahun ke Depan

Seluruh gagasan tersebut pada akhirnya bermuara pada kebutuhan untuk menentukan arah pembangunan Bali dalam jangka panjang.

Materi dialog mencantumkan “Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun, Bali Era Baru (2025–2125)” sebagai salah satu kerangka pemikiran.

Perspektif 100 tahun menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan Bali tidak seharusnya hanya dirancang untuk menjawab persoalan hari ini. Setiap keputusan yang diambil saat ini akan menentukan wajah Bali bagi generasi berikutnya.

Di sinilah pentingnya dialog publik yang mempertemukan berbagai perspektif.

IWO Dorong Ruang Diskusi untuk Masa Depan Bali

Peringatan HUT ke-14 IWO dan HUT pertama IWO Bali melalui dialog publik “Meneropong Bali dari Sudut Berbeda” menjadi momentum untuk menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membicarakan perkembangan Bali dari satu sisi.

Persoalan Bali membutuhkan keberanian untuk melihat berbagai sudut pandang—ekonomi, pariwisata, budaya, lingkungan, investasi, infrastruktur hingga kepentingan masyarakat lokal.

Pandangan Dr. Yoga Iswara dalam forum tersebut memberikan satu pesan penting: Bali tidak cukup hanya menjadi destinasi yang ramai dikunjungi, tetapi harus menjadi destinasi yang berkualitas, berkelanjutan, berbudaya dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakatnya.

Pada akhirnya, tantangan Bali bukan sekadar bagaimana mempertahankan statusnya sebagai destinasi wisata dunia, melainkan bagaimana memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak menggerus fondasi yang membuat Bali dikenal dunia.

Sebab, ketika pariwisata tumbuh tanpa kendali, yang dipertaruhkan bukan hanya angka kunjungan atau nilai investasi, tetapi juga lingkungan, budaya dan masa depan Bali.

Dan dari dialog publik inilah, IWO menghadirkan sebuah pertanyaan besar untuk dijawab bersama:

Bali ingin terus mengejar jumlah, atau mulai mengutamakan kualitas dan keberlanjutan?

Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari upaya meneropong Bali dari sudut berbeda—melihat Pulau Dewata bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai rumah yang harus dijaga untuk generasi hari ini dan generasi yang akan datang.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bali Interfood 2026 Resmi Dibuka, Bali Jadi Titik Temu Industri F&B dan Hospitality Internasional

    Bali Interfood 2026 Resmi Dibuka, Bali Jadi Titik Temu Industri F&B dan Hospitality Internasional

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 20
    • 0Komentar

    NUSA DUA — Bali kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri makanan dan minuman (F&B) serta hospitality di Indonesia. Hal itu tercermin dari penyelenggaraan Bali Interfood 2026 yang resmi dibuka di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, Rabu (2/9/2026). Memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh, Bali Interfood 2026 berlangsung selama tiga hari, […]

  • Tegaskan Komitmen Disiplin dan Penegakan Hukum Prajurit, Kodam IX/Udayana Gelar Operasi Gaktib dan Yustisi.

    Tegaskan Komitmen Disiplin dan Penegakan Hukum Prajurit, Kodam IX/Udayana Gelar Operasi Gaktib dan Yustisi.

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Matakompas
    • visibility 20
    • 0Komentar

    DENPASAR, MataKompas.com – Kodam IX/Udayana kembali menunjukkan komitmen kuatnya dalam membangun prajurit yang disiplin, profesional, dan taat hukum. Komitmen tersebut ditegaskan melalui Upacara Gelar Pasukan Operasi Penegakan Ketertiban (Gaktib) dan Operasi Yustisi Polisi Militer TNI TA 2026 yang dipimpin langsung Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Piek Budyakto, di Lapangan Makorem 163/Wira Satya, Jalan PB. Sudirman, Denpasar, […]

  • Gempa Guncang Flores, Lima Warga Meninggal Dunia, Pemerintah NTT Kerahkan Seluruh Kekuatan

    Gempa Guncang Flores, Lima Warga Meninggal Dunia, Pemerintah NTT Kerahkan Seluruh Kekuatan

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 58
    • 0Komentar

    KUPANG – Gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi, memicu situasi darurat di sejumlah daerah. Pemerintah Provinsi NTT bersama TNI-Polri, Basarnas, BPBD dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) langsung bergerak melakukan penanganan terhadap masyarakat terdampak. Gempa yang terjadi sekitar pukul 05.58 WITA tersebut berlangsung ketika […]

  • PPAD – PIPAD DPD Provinsi Bali Tegaskan Perkuat Kerukunan Lintas Agama Lewat Halal Bihalal

    PPAD – PIPAD DPD Provinsi Bali Tegaskan Perkuat Kerukunan Lintas Agama Lewat Halal Bihalal

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 26
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com | Dewan Pengurus Daerah (DPD) PPAD dan DPC PPAD serta PIPAD Prop Bali menegaskan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama melalui rangkaian tradisi keagamaan Simekrama dan Halalbihalal di Aula Kantor DPD PPAD, Jalan PB Sudirman G-21, Denpasar Bali pada Selasa 14 April 2026. Kegiatan dengan tema Simekrama dan Halalbihalal ini menggabungkan tiga momentum keagamaan […]

  • Dewan Pembina Flobamora Tindak Tegas Oknum Pencoreng Nama Baik

    Dewan Pembina Flobamora Tindak Tegas Oknum Pencoreng Nama Baik

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 22
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com | Aksi nekad Yulius Moruk (20), pria asal Belu, Nusa Tenggara Timur, yang mengendarai motor secara ugal-ugalan di Denpasar tanpa helm dan memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi hingga nyaris menabrak petugas, menuai respons keras dari Dewan Pembina Flobamora Bali. Dewan Pembina Flobamora menilai tindakan tersebut telah mencoreng nama baik warga asal NTT di […]

  • Dispora Ucapkan Selamat dan Sukses Pelantikan PJ Sekdaprov Bengkulu

    Dispora Ucapkan Selamat dan Sukses Pelantikan PJ Sekdaprov Bengkulu

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 77
    • 0Komentar
expand_less