Dr. I Ketut Rochineng Ajak Pemuda Bali Kobarkan Semangat Sumpah Pemuda ke-98: Patriotik, Gigih, dan Berempati untuk Indonesia
- account_circle admin
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BULELENG, MATACOMPAS.COM — Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum penting untuk kembali membangkitkan semangat persatuan, nasionalisme, dan perjuangan generasi muda dalam membangun bangsa. Semangat yang diwariskan para pemuda pada 28 Oktober 1928 diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Anggota DPRD Provinsi Bali Daerah Pemilihan (Dapil) Buleleng dari Fraksi PDI Perjuangan, Dr. I Ketut Rochineng, S.H., M.H., menyampaikan pesan kebangsaan melalui tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.” Tema tersebut menegaskan bahwa pemuda Indonesia tidak hanya dituntut memiliki rasa cinta Tanah Air, tetapi juga harus gigih dalam memperjuangkan cita-cita serta memiliki empati terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat.
Menurut semangat yang terkandung dalam Sumpah Pemuda, kekuatan bangsa Indonesia terletak pada persatuan di tengah keberagaman. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekayaan yang harus dijaga bersama demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Patriotisme Harus Diwujudkan dalam Tindakan Nyata
Patriotisme di era modern tidak cukup hanya diwujudkan melalui simbol-simbol kebangsaan atau seremoni peringatan. Semangat cinta Tanah Air perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, mulai dari menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menaati aturan, hingga berkontribusi dalam pembangunan sesuai kemampuan masing-masing.
Generasi muda juga memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai Pancasila dan memperkuat semangat kebangsaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Arus informasi yang semakin terbuka harus dimanfaatkan untuk menyebarkan gagasan positif, memperluas wawasan, serta mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di sisi lain, pemuda perlu memiliki ketahanan terhadap informasi bohong, provokasi, ujaran kebencian, dan berbagai konten yang berpotensi memecah belah persatuan. Kecakapan digital harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral serta kesadaran untuk menjaga ruang publik yang sehat.
Gigih Menghadapi Tantangan dan Berani Berinovasi
Selain patriotisme, kegigihan menjadi nilai penting yang harus dimiliki generasi muda. Persaingan global, perubahan dunia kerja, perkembangan kecerdasan buatan, serta tantangan ekonomi menuntut pemuda untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan berani menciptakan peluang.
Pemuda Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng, memiliki potensi besar untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah. Potensi pariwisata, pertanian, ekonomi kreatif, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta kekayaan seni dan budaya dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk berinovasi dan menciptakan lapangan kerja.
Dengan bekal pendidikan, kreativitas, dan semangat pantang menyerah, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta peluang yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Kegigihan tersebut juga perlu disertai karakter yang kuat, integritas, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab. Keberhasilan tidak semata-mata diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari kontribusi yang diberikan bagi kemajuan masyarakat dan bangsa.
Berempati, Menjaga Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Nilai ketiga dalam tema peringatan tahun ini adalah empati. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang adil, inklusif, dan saling menghormati.
Pemuda diharapkan mampu melihat persoalan di sekitarnya, mendengarkan aspirasi masyarakat, serta mengambil bagian dalam kegiatan sosial yang membantu kelompok yang membutuhkan. Kepedulian terhadap pendidikan, lingkungan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan masyarakat merupakan contoh nyata bagaimana semangat Sumpah Pemuda dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Empati juga berarti memberikan ruang bagi perbedaan pendapat tanpa harus bermusuhan. Generasi muda perlu membangun budaya dialog, gotong royong, dan solidaritas agar perbedaan dapat dikelola menjadi kekuatan bersama.
Sumpah Pemuda sebagai Pengingat Perjuangan Generasi Bangsa
Ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak penting perjalanan sejarah Indonesia. Para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Semangat tersebut tetap relevan hingga saat ini. Tantangan yang dihadapi memang berbeda, tetapi nilai persatuan dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan bernegara.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 karena itu tidak seharusnya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Momentum ini perlu menjadi ruang refleksi bagi seluruh elemen masyarakat untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda agar tumbuh, berkarya, dan terlibat aktif dalam pembangunan.
Bagi generasi muda Bali, semangat tersebut dapat diwujudkan dengan menjaga budaya dan kearifan lokal, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengembangkan potensi daerah, serta memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
Melalui pesan kebangsaan yang diusung Dr. I Ketut Rochineng, S.H., M.H., semangat “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa membutuhkan generasi yang mencintai Tanah Air, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, dan tetap peduli terhadap sesama.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar