Johni Asadoma: Generasi Muda NTT Harus Siap Kerja, Berwirausaha dan Bangun Daerah
- account_circle Redaksi Matakompas
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Matakompas.com- Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma menegaskan generasi muda harus dipersiapkan bukan hanya untuk mendapatkan pendidikan, tetapi juga memiliki keterampilan, karakter, dan keberanian untuk bekerja, berwirausaha, serta ikut membangun daerah.
Pesan tersebut disampaikan Johni Asadoma saat membacakan Pidato Pembangunan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Sabtu (15/8/2026).
Dalam pidato tersebut, Gubernur Melki menempatkan penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu perhatian penting pembangunan NTT, khususnya melalui pengembangan pendidikan vokasi yang berbasis pada potensi daerah.
Menurut Melki, masa depan NTT sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan angka partisipasi sekolah, tetapi harus mampu menghasilkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, kesehatan, serta kesiapan menghadapi dunia kerja dan berbagai tantangan masa depan.
“Kita tidak hanya ingin membangun sekolah, tetapi membangun manusia. Kita ingin anak-anak NTT memiliki ilmu, keterampilan, karakter, kesehatan, dan keberanian untuk mengambil peluang serta menjadi bagian dari kemajuan daerahnya,” tegas Melki dalam pidato yang dibacakan Johni.
Pendidikan Harus Terhubung dengan Dunia Kerja
Pemprov NTT terus memperluas akses sekaligus meningkatkan mutu pendidikan.
Pada 2025, Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK mencapai 100,51 persen, sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) mencapai 70,18 persen.
Rata-rata Lama Sekolah meningkat dari 8,02 tahun pada 2024 menjadi 8,22 tahun pada 2025. Sementara Harapan Lama Sekolah naik dari 13,23 tahun menjadi 13,34 tahun.
Dari sisi mutu pendidikan, tercatat 218 sekolah berakreditasi A, 432 sekolah berakreditasi B, dan 364 sekolah berakreditasi C.
Penguatan sarana dan prasarana juga terus dilakukan melalui pembangunan SMAN 13 Kota Kupang, SMAN 1 Lamboya Barat, serta pengembangan Asrama Sekolah Vokasi Berasrama SMKN Sokoria.
Pada 2026, fasilitas SMAN 13 Kota Kupang, SMA Negeri Ndondo di Ende, SMKN 1 Restorasi Golewa, dan SMKN 1 Amarasi Selatan memasuki tahap serah terima.
Pemprov NTT juga memperkuat jaringan internet sekolah untuk mendukung proses pembelajaran dan memperluas akses terhadap sumber belajar.
3.003 Siswa Berhasil Masuk Perguruan Tinggi Negeri
Kesempatan generasi muda untuk melanjutkan pendidikan juga diperkuat melalui Program Pendampingan Seleksi UTBK, TNI, POLRI, dan Sekolah Kedinasan.
Program tersebut diikuti 1.984 peserta dari 22 kabupaten/kota, dengan pendampingan disesuaikan dengan minat dan rencana masa depan masing-masing siswa.
Hasilnya, tercatat 3.003 siswa berhasil diterima di Perguruan Tinggi Negeri.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan anak-anak NTT memiliki akses dan persiapan yang lebih baik untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia profesional.
Enam SMK Vokasi Unggul Disiapkan
Di bidang pendidikan vokasi, Pemprov NTT memperkuat enam SMK Vokasi Unggul Potensi Daerah.
Kompetensi yang dikembangkan diselaraskan dengan kebutuhan pembangunan dan dunia kerja sehingga lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan yang dapat langsung dimanfaatkan.
Melki menegaskan pendidikan vokasi harus mampu menghubungkan sekolah dengan potensi ekonomi di daerah masing-masing.
“Sekolah vokasi harus terhubung dengan potensi daerah dan kebutuhan dunia kerja. Anak-anak kita harus memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk bekerja, berwirausaha, sekaligus mengembangkan potensi ekonomi di daerahnya,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan mampu melihat potensi daerah sebagai peluang. Mereka tidak hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga menjadi pencipta lapangan kerja.
Generasi Muda Dipersiapkan Menuju PON 2028
Pembangunan sumber daya manusia juga dilakukan melalui pembinaan kepemudaan dan olahraga.
Pemprov NTT memperkuat pembinaan atlet melalui PPLD dan PPLMD sebagai bagian dari regenerasi atlet menuju PON XXII Tahun 2028, saat NTT bersama NTB menjadi tuan rumah.
Menjelang PON XXII, pemerintah memperkuat seleksi atlet potensial, latihan berkelanjutan, pemantauan kondisi fisik dan teknik, try out nasional, serta pengembangan basis data atlet.
Menurut Melki, olahraga bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter, kedisiplinan, kesehatan, dan mental generasi muda.
79 Kelompok Usaha Pemuda Diperkuat
Semangat mendorong anak muda menjadi pelaku ekonomi juga diwujudkan melalui berbagai program kewirausahaan.
Pelatihan kriya, desain grafis, fesyen, kuliner, dan pengelasan telah menjangkau 656 peserta dari 12 kabupaten/kota.
Dari pelatihan tersebut terbentuk 79 kelompok usaha pemuda yang kemudian memperoleh bantuan modal.
Program ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak muda untuk mengembangkan keterampilan menjadi usaha produktif sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.
Melki menegaskan pendidikan, vokasi, kepemudaan, dan olahraga harus berjalan sebagai satu kesatuan dalam membangun manusia NTT.
“Kita tidak hanya ingin membangun sekolah, tetapi membangun manusia. Kita ingin anak-anak NTT memiliki ilmu, keterampilan, karakter, kesehatan, dan keberanian untuk mengambil peluang serta menjadi bagian dari kemajuan daerahnya,” tegas Melki.
Melalui penguatan pendidikan dan vokasi berbasis potensi daerah, pemerintah berharap generasi muda NTT ke depan tidak hanya siap menghadapi dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang, membangun usaha, dan menjadi motor pembangunan di daerahnya sendiri.***
- Penulis: Redaksi Matakompas


Saat ini belum ada komentar