Gerakan Langit Biru Demokrat Bali, Made Mudarta: Cintai Bali dengan Menjaga Kebersihan dan Merawat Bumi
- account_circle admin
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR | Semangat memperingati HUT ke-25 Partai Demokrat berpadu dengan gerakan kepedulian lingkungan melalui kegiatan Gerakan Langit Biru dan lomba kerakyatan yang digelar DPC Partai Demokrat Kota Denpasar, Minggu (23/8/2026).
Kegiatan berlangsung di halaman Kantor DPC Partai Demokrat Kota Denpasar, Jalan Ir. H. Juanda Nomor 4, Renon, Denpasar. Lokasi tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan DPD Partai Demokrat Provinsi Bali dalam menyambut HUT ke-25 Partai Demokrat sekaligus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejumlah kegiatan digelar untuk membangun semangat kebersamaan, mulai dari lomba membuat canang sari dan kwangen, pakaian tradisional Bali, permainan tradisional Bali seperti gale-gale dan mecepatan, membawa kelereng dengan sendok gigit, gigi uang dalam buah melon, hingga makan roti melalui mata.
Seluruh peserta juga diwajibkan mengenakan pakaian adat Bali sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan identitas lokal.
Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Bali Made Mudarta menegaskan, pemilihan lokasi kegiatan di lingkungan kantor Partai Demokrat Bali memiliki makna tersendiri. Kantor tersebut berada di kawasan Renon yang berhadapan dengan pusat pemerintahan Provinsi Bali.
Menurut Mudarta, kawasan yang menjadi wajah pemerintahan sekaligus ruang publik masyarakat Bali tersebut harus dijaga kebersihannya.
“Yang mencintai Bali itu adalah menjaga kebersihannya. Tidak hanya membersihkan sampah, tetapi juga jangan membuang sampah sembarangan,” tegas Mudarta.
Ia menilai persoalan sampah di Bali membutuhkan perubahan pola pengelolaan. Menurutnya, penanganan sampah idealnya dilakukan berbasis desa sehingga sampah tidak terus berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
“Ke depan sampah itu harus dikelola berbasis desa. Sehingga tidak ada sampah yang bergerak dari satu desa ke desa yang lain,” ujarnya.
Mudarta menggambarkan persoalan tersebut seperti memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lainnya. Jika sampah terus dibawa menuju kawasan perkotaan atau pusat pemerintahan, persoalan tersebut justru akan menjadi wajah buruk Bali di hadapan masyarakat maupun wisatawan.
“Kalau sampah dibawa ke ibu kota, itu dilihat oleh tamu dan masyarakat. Kelihatan jorok, baunya juga menyengat dan mencemari udara,” katanya.
Karena itu, menurut Mudarta, Gerakan Langit Biru tidak boleh dimaknai sebatas kegiatan membersihkan lingkungan. Gerakan tersebut harus menjadi gerakan bersama untuk membangun kesadaran masyarakat agar tidak menghasilkan maupun membuang sampah sembarangan.
Menanam Pohon, Merawat Bumi
Selain persoalan sampah, Mudarta juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dengan merawat pepohonan dan mencegah lahan menjadi gundul.
Ia mengajak seluruh kader dan masyarakat untuk tidak sekadar menebang pohon, tetapi aktif melakukan penghijauan dengan menanam dan merawat pohon.
“Merawat bumi itu adalah tidak membiarkan tanah gundul, tidak menebang pohon, tetapi menanam pohon. Itu bentuk bukti nyata dan konkret,” tegasnya.
Menurut Mudarta, upaya menjaga lingkungan merupakan bagian dari nilai kehidupan masyarakat Bali yang menempatkan hubungan manusia dengan alam sebagai sesuatu yang harus dijaga secara berkelanjutan.
Ia menyebut Partai Demokrat ingin mengambil bagian secara nyata dalam menjaga kebersihan sekaligus merawat bumi.
“Demokrat terdepan untuk menjaga kebersihan dan merawat bumi,” ujarnya.
Mudarta menegaskan, kegiatan tersebut merupakan implementasi instruksi Partai Demokrat dalam rangka menyambut HUT ke-25 Partai Demokrat yang puncak peringatannya akan berlangsung pada 9 September 2026.
Rangkaian kegiatan juga dikaitkan dengan semangat peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia yang baru saja dirayakan masyarakat.
Rangkaian Menuju HUT ke-25 Demokrat
Mudarta menjelaskan, kegiatan Gerakan Langit Biru dan berbagai lomba kerakyatan yang digelar di Denpasar merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju puncak HUT ke-25 Partai Demokrat.
Ia berharap seluruh rangkaian tersebut semakin mendekatkan Partai Demokrat dengan masyarakat.
“Demokrat berjuang sama rakyat,” katanya.
Mudarta bahkan menyampaikan optimisme menghadapi Pemilu 2029. Menurutnya, kerja politik harus dibangun melalui kerja nyata dan kedekatan dengan masyarakat, bukan hanya melalui momentum politik.
Ia menyebut angka sembilan memiliki makna tersendiri bagi Partai Demokrat dan berharap kerja keras seluruh kader dapat memberikan hasil terbaik pada Pemilu 2029.
“Mudah-mudahan Pemilu nasional nanti 2029, yang ujungnya 2029 itu menjadi miliknya Demokrat. Itu doa dan usaha kami,” ungkapnya.
Renon Dipilih karena Ruang Publik Masyarakat
Terkait pemilihan kawasan Renon sebagai lokasi kegiatan, Mudarta menyebut kawasan tersebut merupakan salah satu ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama pada akhir pekan.
Setiap Minggu pagi, kawasan Renon menjadi tempat aktivitas masyarakat dari berbagai wilayah Bali untuk berolahraga dan menjaga kesehatan.
Karena itu, menurutnya, kebersihan kawasan tersebut harus mendapat perhatian bersama. Tidak hanya kebersihan, keberadaan pepohonan dan ruang hijau juga perlu dipertahankan bahkan ditambah.
“Kalau buminya dirawat dengan menanam dan merawat pohon, langitnya akan tetap biru,” kata Mudarta.
Ia berharap lingkungan yang bersih, hijau, dan nyaman dapat memberikan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
“Ketika ada langit biru, kita bisa hidup di bawahnya dengan nyaman dan tenang,” pungkasnya.
Melalui Gerakan Langit Biru, Partai Demokrat Bali ingin menegaskan bahwa peringatan hari ulang tahun partai bukan sekadar seremoni politik. Momentum tersebut diarahkan menjadi ruang untuk membangun kebersamaan sekaligus menghadirkan aksi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar