Anggrek Kembali: Putri Koster Dorong Anggrek Lokal Bali Jadi Primadona dan Penggerak Ekonomi.
- account_circle Redaksi Bali
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, Matakompas.com – Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Bali, Putri Koster, mendorong gerakan pelestarian dan pengembangan anggrek lokal Bali agar kembali menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi dan pariwisata yang berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan Putri Koster saat menjadi keynote speaker dalam Focus Group Discussion (FGD) Adaptasi dan Pengembangan Sumber Daya Genetik Anggrek Lokal Bali yang digelar di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Selasa (8/9/2026).
Mengusung tajuk “Anggrek Kembali”, FGD ini menjadi langkah awal untuk mengembalikan kejayaan anggrek lokal Bali yang keberadaannya semakin tergerus seiring perubahan zaman.
Putri Koster mengatakan, perhatian saat ini difokuskan pada sektor hulu, terutama melalui konservasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek asli Bali. Menurutnya, upaya pelestarian tidak cukup hanya dengan menjaga tanaman yang masih ada, tetapi harus dibarengi dengan penelitian, pengembangan, perbanyakan, serta adaptasi agar anggrek lokal mampu kembali diminati masyarakat.
“Banyak sekali anggrek lokal Bali, seperti anggrek linjong, anggrek Vanda tricolor, dan lainnya, yang dahulu banyak dijumpai di rumah-rumah masyarakat. Namun, setelah berpuluh-puluh tahun, keberadaannya mulai berkurang, kurang diminati, dan perlahan ditinggalkan,” ujar Putri Koster.
Ia berharap gerakan “Anggrek Kembali” mampu menjadikan anggrek lokal Bali kembali menjadi primadona di daerah asalnya sendiri.
Untuk mewujudkan hal tersebut, PAI Bali menggandeng berbagai pihak, mulai dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, hingga Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali.
Kolaborasi lintas sektor ini diarahkan untuk melakukan identifikasi, karakterisasi, konservasi, adaptasi, hingga pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali.
Putri menilai, anggrek lokal Bali tidak semestinya hanya dipandang sebagai tanaman hias. Di balik keindahannya terdapat kekayaan genetik, nilai budaya, potensi ekonomi, sekaligus peluang pengembangan pariwisata yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, mengatakan sejumlah langkah yang dapat dilakukan mencakup adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali, perbanyakan secara massal, serta pengembangan kawasan wisata berbasis anggrek.
Salah satu yang didorong adalah pengembangan desa wisata anggrek di Dusun Dosang, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Menurutnya, anggrek lokal Bali mempunyai potensi besar menjadi daya tarik wisata dengan karakter dan keunikan tersendiri. Pengembangan tersebut diharapkan mampu mempertemukan kepentingan konservasi dengan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Dengan konsep tersebut, pengembangan anggrek tidak berhenti pada upaya menyelamatkan tanaman dari kepunahan, tetapi diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal.
“Anggrek lokal Bali memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata yang memiliki keunikan tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Pulau Dewata,” demikian pandangan yang disampaikan dalam forum tersebut.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menambahkan bahwa anggrek merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi, estetika, dan budaya.
Lebih jauh, anggrek juga memiliki potensi sebagai sumber daya genetik yang dapat dikembangkan menjadi varietas unggul pada masa mendatang.
Karena itu, upaya konservasi dinilai perlu dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, terutama untuk memastikan kekayaan genetik anggrek lokal Bali tidak hilang akibat perubahan lingkungan maupun menurunnya minat masyarakat terhadap tanaman lokal.
FGD tersebut juga menjadi ruang bertemunya akademisi, peneliti, pemerintah, dan para pemangku kepentingan untuk bertukar informasi serta merumuskan strategi bersama terkait identifikasi, karakterisasi, konservasi, pelestarian, dan pengembangan anggrek lokal Bali.
Tiga narasumber turut dihadirkan dalam forum tersebut, yakni Aninda Retno Utami Wibowo dari BRIN, Made Dwi Jayanti dari BKSDA Bali, dan Dr. I Putu Sudana dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.
Putri Koster menegaskan, gerakan “Anggrek Kembali” diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan penelitian atau diskusi akademik. Lebih dari itu, hasil FGD diharapkan diterjemahkan menjadi program konkret yang mampu menjaga keberlangsungan anggrek lokal Bali sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dengan demikian, pelestarian anggrek lokal Bali tidak hanya berbicara mengenai menjaga keindahan dan kekayaan alam, tetapi juga tentang menjaga identitas, kekayaan genetik, serta menciptakan peluang kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan dan berkeadilan.
Anggrek Kembali bukan sekadar mengembalikan bunga ke halaman rumah masyarakat Bali, tetapi mengembalikan kekayaan lokal menjadi kebanggaan, kekuatan ekonomi, dan daya tarik Pulau Dewata.
Reporter : Putu Ivan.
Redaktur : Agus Jaya.
Sumber : Rilis Pemprov Bali.
- Penulis: Redaksi Bali









Saat ini belum ada komentar