Polda Bali dan Disdikpora Perkuat Sinergi Kawal Siswa ADEM Papua, Bali Ditegaskan sebagai Rumah Kedua
- account_circle admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Pendekatan humanis menjadi kunci dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas), khususnya terhadap peserta Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) asal Papua yang sedang menempuh pendidikan di Bali. Semangat itu mengemuka dalam kegiatan silaturahmi yang digelar Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, guru pendamping, serta koordinator siswa ADEM di Warung Be Sanur, Jalan Tantular, Denpasar, Jumat (8/8/2026).
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban tersebut menjadi ruang diskusi untuk memperkuat sinergi dalam membina sekaligus mengawal 65 siswa ADEM yang saat ini tersebar di 25 sekolah di berbagai kabupaten/kota di Bali.
Kasubdit I Ditintelkam Polda Bali, AKBP Agung Budiarto, menegaskan bahwa pengawasan terhadap siswa ADEM tidak cukup hanya mengedepankan aturan, tetapi harus dibangun melalui pendekatan kekeluargaan agar para siswa merasa aman, nyaman, dan diterima selama menjalani pendidikan di Pulau Dewata.
“Kegiatan ini bertujuan menjalin sinergitas antara Polda Bali, Disdikpora, guru pendamping, dan seluruh pihak terkait dalam mendampingi adik-adik kita dari Papua agar dapat belajar dengan tenang dan berkembang dengan baik selama berada di Bali,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan latar belakang budaya dan kebiasaan merupakan tantangan yang harus disikapi secara bijaksana. Oleh karena itu, pola pembinaan harus mengedepankan komunikasi, pendampingan, dan sentuhan emosional agar setiap persoalan dapat diselesaikan secara persuasif.
Meski demikian, AKBP Agung menegaskan bahwa pembinaan tetap harus dibarengi dengan ketegasan apabila terjadi pelanggaran. Pemberian surat peringatan menjadi tahapan awal dalam proses pembinaan. Apabila berbagai upaya tidak membuahkan hasil, maka pemulangan siswa ke daerah asal dapat menjadi langkah terakhir demi kepentingan terbaik bagi yang bersangkutan.
65 Siswa di 25 Sekolah Jadi Tanggung Jawab Bersama
Sementara itu, Kabid Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK dan PLK) Disdikpora Provinsi Bali, Made Vitri Apsari, S.STP., M.A.P., menjelaskan bahwa Program ADEM merupakan program pemerintah pusat yang bertujuan memberikan kesempatan pendidikan bagi putra-putri Papua di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bali.
Tahun ini, Bali menerima sebanyak 65 siswa ADEM yang tersebar di 25 sekolah. Jumlah tersebut, menurutnya, membutuhkan pengawasan dan koordinasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan.
“Kami terus melakukan pengawasan secara maksimal agar adik-adik kita tidak terjerumus pada hal-hal yang bertentangan dengan hukum selama menempuh pendidikan di Bali,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Ditintelkam Polda Bali yang telah memprakarsai forum silaturahmi tersebut.
“Diskusi seperti ini sangat penting karena menjadi wadah bertukar informasi dan mencari solusi bersama terhadap berbagai persoalan yang dihadapi siswa di lapangan,” tambahnya.
Pendamping Bangun Kedekatan Lewat Kegiatan Positif
Koordinator Siswa ADEM mengungkapkan bahwa mendampingi para siswa yang jauh dari keluarga bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu, pendekatan dilakukan melalui berbagai kegiatan positif agar mereka tetap merasa memiliki keluarga selama berada di Bali.
Berbagai program seperti kunjungan wisata edukatif, kompetisi futsal rutin, hingga fasilitasi perayaan Natal menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan emosional sekaligus menjaga kesehatan mental para siswa.
Selain itu, komunikasi juga terus dijalin dengan mahasiswa Papua yang telah lebih dahulu menempuh pendidikan di Bali sebagai bagian dari pembinaan dan penguatan jejaring sosial bagi siswa ADEM.
“Kami berupaya mendampingi mereka dengan pendekatan kekeluargaan. Namun apabila ada siswa yang memang sudah tidak dapat dibina, maka pemulangan ke Papua menjadi keputusan yang harus diambil demi kebaikan bersama,” ujarnya.
Ia berharap koordinasi lintas instansi dapat terus ditingkatkan, termasuk dukungan sistem pemantauan yang memudahkan proses pengawasan terhadap para siswa.
Tantangan: Tempat Tinggal hingga Pengaruh Lingkungan
Dalam forum tersebut, guru pendamping juga menyampaikan sejumlah tantangan yang masih dihadapi di lapangan. Salah satunya adalah masih adanya masyarakat yang belum bersedia menerima siswa Papua sebagai penghuni rumah kos, sehingga proses pencarian tempat tinggal kerap menjadi kendala.
Selain persoalan tempat tinggal, pengaruh lingkungan di luar sekolah juga menjadi perhatian. Tidak sedikit siswa yang berinteraksi dengan senior atau mahasiswa sehingga berpotensi terpengaruh pada perilaku yang bertentangan dengan hukum apabila tidak mendapat pendampingan yang memadai.
Para guru berharap pembinaan kerohanian dapat dilakukan secara berkala melalui tokoh agama, disertai pemberian ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi di bidang olahraga, seni, maupun akademik.
Dengan prestasi dan aktivitas positif, para siswa diyakini akan lebih percaya diri, merasa diterima, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial di Bali.
Komitmen Bersama Demi Masa Depan Generasi Papua
Pertemuan yang berlangsung hingga pukul 16.00 WITA itu ditutup dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Seluruh peserta sepakat bahwa menjaga keamanan dan masa depan siswa ADEM bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan ataupun pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari sekolah, guru, pendamping, masyarakat hingga para siswa itu sendiri.
Silaturahmi tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan humanis tetap menjadi fondasi utama dalam membangun keamanan yang berkelanjutan. Dengan sinergi yang semakin kuat, diharapkan seluruh siswa ADEM dapat menjalani pendidikan dengan aman, nyaman, berprestasi, serta menjadikan Bali sebagai rumah kedua selama menempuh masa depan mereka.
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar