Aksi Sosial Membina dan Berbagi Perkuat Peran Kader Posyandu sebagai Penghubung Masyarakat dan Pemerintah.
- account_circle Redaksi Bali
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, Matakompas.com – Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali kembali menggelar Aksi Sosial Membina dan Berbagi di Kota Denpasar, Senin (7/9/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Balai Banjar Bun, Kelurahan Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, dan Banjar Kelod, Kelurahan Renon, ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas kader sekaligus bentuk apresiasi atas pengabdian mereka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, hadir memberikan pembinaan kepada para kader. Kegiatan tersebut turut melibatkan Tim Pembina Posyandu Kota Denpasar, tim pembina tingkat kecamatan dan kelurahan, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, serta para kader Posyandu.
Dalam pembinaannya, Ny. Putri Suastini Koster menekankan posisi strategis kader Posyandu sebagai pihak yang paling dekat dengan masyarakat. Kedekatan tersebut membuat kader memiliki peran penting dalam mengetahui secara langsung kondisi, kebutuhan, persoalan, maupun aspirasi warga di wilayah masing-masing.
Menurutnya, transformasi Posyandu telah memperluas fungsi lembaga tersebut. Posyandu tidak lagi semata-mata berorientasi pada pelayanan kesehatan, tetapi kini menjalankan pelayanan yang berkaitan dengan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), yakni pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, serta sosial.
Perluasan fungsi itu sekaligus menuntut peningkatan kapasitas kader. Selain melaksanakan kegiatan pelayanan Posyandu, kader diharapkan mampu melakukan pendataan dan mencatat berbagai kebutuhan maupun persoalan yang ditemukan di lingkungan masyarakat.
Data dan aspirasi tersebut selanjutnya dapat diteruskan kepada pemerintah kelurahan maupun perangkat daerah terkait sebagai bahan tindak lanjut. Dengan pola tersebut, kader Posyandu diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan di tingkat masyarakat, tetapi juga berperan sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah.
Peran tersebut dinilai penting agar berbagai persoalan masyarakat dapat diketahui sejak dini sehingga pelayanan dasar dapat diberikan secara lebih dekat, cepat, dan tepat sasaran.
Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Denpasar, Sagung Antari Jaya Negara, menyampaikan bahwa Kota Denpasar saat ini memiliki 459 kelompok Posyandu yang tersebar di 27 desa dan kelurahan. Seluruh Posyandu tersebut terus didorong untuk beradaptasi dengan transformasi Posyandu dan menjalankan pelayanan berdasarkan enam SPM.
Penguatan kapasitas kader juga dilakukan melalui empat Tim Pembina Posyandu Kecamatan di Kota Denpasar. Tim Pembina Posyandu Kota Denpasar bersama OPD pengarah secara berkelanjutan memberikan sosialisasi dan pembinaan agar para kader semakin memahami tugas serta peran mereka dalam pelaksanaan transformasi Posyandu.
Selain pembinaan, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penyerahan bantuan sosial sebagai bentuk perhatian terhadap para kader yang selama ini meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mendampingi masyarakat.
Di Kelurahan Dangin Puri, bantuan diberikan kepada 105 kader dari tujuh kelompok Posyandu. Masing-masing kader menerima 30 kilogram beras, dua krat atau 60 butir telur, serta dua kotak susu.

Secara keseluruhan, bantuan yang disalurkan di lokasi tersebut mencapai 3.150 kilogram beras, 210 krat atau 6.300 butir telur, dan 210 kotak susu.
Sementara di Kelurahan Renon, bantuan diberikan kepada 75 kader dari lima lingkungan atau lima Posyandu. Setiap kader memperoleh 30 kilogram beras, dua krat telur, dan dua kotak susu.
Total bantuan yang disalurkan di Renon mencapai 2.250 kilogram beras, 150 krat atau 4.500 butir telur, serta 150 kotak susu. Dengan demikian, aksi sosial di dua lokasi tersebut secara keseluruhan menyasar 180 kader Posyandu.
Ny. Putri Suastini Koster menegaskan, bantuan tersebut tidak semata-mata harus dilihat berdasarkan bentuk maupun jumlahnya. Lebih dari itu, bantuan merupakan bentuk perhatian, kepedulian, dan penghargaan terhadap para kader yang telah mengabdikan diri dalam mendampingi serta memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Sementara itu, Pengarah Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Putu Anom Agustina, menegaskan bahwa keberhasilan transformasi Posyandu membutuhkan kolaborasi seluruh unsur masyarakat dan pemerintah.
Menurutnya, pembangunan lingkungan tidak dapat hanya dibebankan pada satu sektor. Selain kesehatan, berbagai aspek lain seperti keamanan, kebersihan lingkungan, kondisi jalan, hingga kualitas permukiman juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan lingkungan yang layak dan sehat.
“Membangun banjar atau wilayah menjadi tanggung jawab kita semua. Bukan hanya kesehatan, tetapi juga keamanan lingkungan, kebersihan lingkungan, jalan yang layak, serta permukiman yang sehat. Ini tentu menjadi bagian yang harus dikerjakan bersama, tidak hanya oleh perseorangan,” tegas Putu Anom Agustina.
Melalui transformasi enam SPM, Posyandu diharapkan semakin responsif dalam membaca kebutuhan masyarakat. Kader didorong untuk aktif memberikan edukasi, mendeteksi berbagai persoalan di lingkungannya, sekaligus membantu menghubungkan masyarakat dengan layanan pemerintah yang diperlukan.
Aksi Sosial Membina dan Berbagi pun menjadi momentum memperkuat sinergi antara Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Kota Denpasar, kecamatan, kelurahan, OPD terkait, dan para kader.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting agar transformasi Posyandu tidak berhenti pada perubahan administrasi maupun penambahan jenis pelayanan. Lebih dari itu, transformasi diharapkan benar-benar menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kader yang semakin berdaya, memiliki kapasitas, dan memahami enam SPM, Posyandu diharapkan semakin kuat sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat. Dari tingkat lingkungan, kader dapat mengenali persoalan lebih awal, memberikan edukasi, mendata kebutuhan, serta memastikan masyarakat terhubung dengan pelayanan pemerintah secara lebih efektif.
Pada akhirnya, penguatan Posyandu bukan hanya tentang memperluas cakupan pelayanan, melainkan membangun sistem pelayanan dasar yang semakin dekat dengan masyarakat—dimulai dari lingkungan terkecil, melalui kader yang hadir, memahami persoalan, dan mampu menjadi penghubung antara kebutuhan warga dengan pemerintah.
Reporter : Putu Ivan
Redaktur : Agus Jaya
Sumber : Rilis Pemprov Bali.
- Penulis: Redaksi Bali









Saat ini belum ada komentar