Mentri ESDM Bahlil Turun ke Bali, Pastikan Cadangan BBM Capai 12 Hari dan Targetkan Naik Jadi 15 Hari
- account_circle admin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, MATACOMPAS.COM — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kondisi cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Provinsi Bali mulai membaik setelah sempat mengalami penurunan akibat keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Jawa.
Dalam konferensi pers di Depot Pertamina Pesanggaran, Bali, Senin (19/10/2026), Bahlil menyampaikan bahwa cadangan BBM di wilayah Bali saat ini rata-rata telah mencapai 11 hingga 12 hari. Pemerintah menargetkan cadangan tersebut kembali ditingkatkan hingga 15 hari guna memperkuat ketahanan pasokan dan mengantisipasi gangguan distribusi.
Pernyataan itu disampaikan setelah Bahlil melakukan koordinasi bersama Gubernur Bali, Kapolda Bali, jajaran TNI, serta sejumlah petinggi Pertamina yang telah berada di Bali selama beberapa hari terakhir untuk menangani persoalan pasokan BBM.
“Alhamdulillah, puji Tuhan, untuk di sini sudah bisa teratasi,” ujar Bahlil dalam konferensi pers tersebut.
Menurut Bahlil, secara nasional cadangan BBM untuk jenis Pertalite RON 90 berada di atas 16 hari, dengan kisaran sekitar 16 hingga 18 hari. Sementara itu, cadangan produk BBM lainnya secara umum berada di atas 20 hari, sesuai standar minimum nasional yang disampaikan dalam pemaparannya.
Namun, kondisi di Bali sempat mengalami penurunan sekitar tiga hingga empat hari akibat keterlambatan kapal yang mengangkut BBM dari Jawa menuju Pulau Dewata.
Gangguan tersebut berdampak terhadap kelancaran distribusi BBM di sejumlah wilayah Bali dan menjadi salah satu faktor yang memicu persoalan antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Dua Terminal Penyimpanan, Kapasitas Cadangan Berbeda
Bahlil menjelaskan, sistem penyimpanan BBM di Bali ditopang oleh dua terminal utama, yakni di wilayah Manggis, Kabupaten Karangasem, dan Pesanggaran, Denpasar Selatan.
Kedua terminal tersebut memiliki kapasitas dan cadangan yang berbeda. Terminal Pesanggaran, yang menjadi lokasi konferensi pers, memiliki cadangan sekitar empat hingga lima hari. Sementara itu, cadangan di terminal Manggis disebut berada di atas 11 hari.
Perbedaan kapasitas dan cadangan pada kedua terminal tersebut menjadi bagian penting dalam pengaturan distribusi BBM di Bali, terutama ketika terjadi hambatan dalam pengiriman dari luar pulau.
Untuk mempercepat pemulihan pasokan, pemerintah meminta Pertamina meningkatkan cadangan BBM di Bali dari posisi saat ini yang rata-rata mencapai 11 hingga 12 hari menjadi 15 hari.
Target tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan stok sekaligus mengurangi risiko terulangnya gangguan pasokan apabila terjadi keterlambatan transportasi laut.
Jumlah Kapal Pengangkut BBM dari Jawa Ditambah
Selain meningkatkan cadangan, pemerintah juga mempercepat distribusi BBM dari Jawa ke Bali dengan menambah armada kapal pengangkut.
Bahlil mengungkapkan, sebelumnya hanya ada tiga kapal yang melayani pengiriman BBM untuk kebutuhan Bali. Setelah dilakukan koordinasi dan percepatan distribusi, jumlah kapal yang melayani pengiriman tersebut telah ditingkatkan menjadi tujuh unit.
Penambahan armada ini diharapkan dapat mempercepat pergerakan pasokan, menjaga kesinambungan pengisian terminal penyimpanan, serta membantu menormalkan distribusi BBM ke SPBU.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dan Pertamina untuk memulihkan kondisi pasokan secara bertahap setelah terjadi gangguan pada rantai logistik.
Bahlil menegaskan bahwa percepatan distribusi telah menjadi perhatian pemerintah sejak dirinya menggelar rapat koordinasi di Jakarta beberapa hari sebelumnya.
Bahlil Akui Ada Persoalan Teknis di Internal Pertamina
Di hadapan awak media, Bahlil secara terbuka menyebut persoalan BBM yang terjadi di Bali berkaitan dengan masalah teknis dalam manajemen internal arus logistik Pertamina.
Ia menegaskan, persoalan tersebut harus menjadi tanggung jawab bersama untuk diselesaikan agar tidak terus membebani masyarakat.
“Memang ini kejadian teknis yang terjadi pada manajemen internal arus logistik yang ada pada Pertamina, tapi apa pun itu masih bagian yang harus kita tanggung jawab bersama-sama,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada penambahan stok, tetapi juga pada pembenahan distribusi agar kejadian serupa tidak kembali mengganggu kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, pemulihan cadangan di tingkat terminal perlu diikuti dengan kelancaran penyaluran ke SPBU. Ketersediaan stok di depot tidak serta-merta menjamin antrean langsung hilang apabila distribusi ke setiap wilayah belum berjalan optimal.
Karena itu, efektivitas penambahan armada kapal, penguatan cadangan, serta pengaturan penyaluran BBM menjadi faktor penting dalam memastikan kondisi di lapangan benar-benar kembali normal.
Apresiasi kepada Gubernur, Kapolda, TNI, dan Masyarakat
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Bali, Kapolda Bali, jajaran TNI, serta masyarakat yang telah bekerja sama dalam upaya mengurai persoalan BBM.
Menurutnya, koordinasi lintas sektor diperlukan untuk mempercepat penanganan gangguan distribusi dan memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.
Sebelum memberikan kesempatan kepada Gubernur Bali untuk menyampaikan penjelasan, Bahlil kembali menekankan pentingnya kerja sama seluruh pihak dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan Pertamina diharapkan terus mengawal proses pemulihan, mulai dari kedatangan kapal pengangkut, ketersediaan stok di terminal, hingga penyaluran BBM kepada masyarakat.
Pemulihan Pasokan Harus Dirasakan Masyarakat
Perkembangan cadangan BBM Bali yang disebut telah mencapai 11 hingga 12 hari menjadi sinyal awal perbaikan pasokan setelah sebelumnya mengalami gangguan.
Namun, masyarakat masih membutuhkan kepastian bahwa perbaikan tersebut benar-benar berdampak terhadap kelancaran pengisian BBM di SPBU, sehingga tidak lagi menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan bahan bakar.
Bagi Bali, kelancaran pasokan BBM juga memiliki arti penting karena aktivitas ekonomi daerah sangat berkaitan dengan mobilitas masyarakat, transportasi, distribusi barang, dan sektor pariwisata.
Dengan target cadangan 15 hari dan penambahan kapal pengangkut dari tiga menjadi tujuh unit, pemerintah dan Pertamina kini dituntut memastikan seluruh langkah tersebut berjalan efektif.
Publik pun menanti konsistensi perbaikan distribusi, transparansi informasi mengenai ketersediaan stok, serta evaluasi terhadap persoalan teknis yang sebelumnya menyebabkan gangguan pasokan.
Pemulihan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui angka cadangan di terminal. Ukuran keberhasilan yang paling nyata adalah ketika masyarakat dapat kembali membeli BBM secara normal, tanpa antrean panjang dan tanpa kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan bakar.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar