Breaking News
light_mode
Trending Tags

IHSG ke Selat Malaka, Menguji Kedaulatan Ekonomi Indonesia

  • account_circle Admin Jakarta
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Matacompas.com Jakarta – Di tengah persaingan ekonomi global, kedaulatan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki modal dan sumber daya, tetapi juga oleh siapa yang menguasai teknologi, mengorganisasi jaringan perdagangan, dan memiliki daya tawar dalam menentukan arah hubungan ekonomi.

Persoalan ini terlihat dari dua hal yang sekilas berbeda: gejolak pasar modal Indonesia dan posisi strategis Selat Malaka. Yang pertama memperlihatkan keterhubungan Indonesia dengan sistem keuangan global, sedangkan yang kedua menunjukkan posisinya dalam jaringan perdagangan dunia. Keduanya membawa kita pada pertanyaan yang sama: sejauh mana Indonesia mampu mengubah keterhubungan global menjadi kekuatan ekonomi nasional?

Pasar Modal dan Ruang Gerak Ekonomi Nasional

Pada 15 Oktober 2026, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi indeks Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan keputusan final dijadwalkan pada akhir Juni 2027. Transparansi, struktur kepemilikan saham, dan tata kelola pasar menjadi bagian dari persoalan yang disorot.

Perkembangan ini penting bagi kredibilitas pasar modal Indonesia. Namun, dalam konteks ekonomi politik internasional, peristiwa tersebut juga memperlihatkan bahwa pasar keuangan nasional terhubung dengan sistem penilaian, arus modal, dan ekspektasi yang melampaui batas negara. Perubahan persepsi investor global dapat memengaruhi valuasi aset, biaya pendanaan, dan ruang gerak ekonomi domestik.

Keputusan lembaga indeks internasional tentu tidak dengan sendirinya menentukan nasib perekonomian Indonesia. Namun, peristiwa tersebut mengundang pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa besar kemampuan Indonesia memengaruhi kondisi yang menentukan posisinya dalam sistem ekonomi global?

Pertanyaan ini semakin relevan ketika pergerakan pasar berlangsung di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan harga komoditas. Dalam perdagangan 12‑16 Oktober 2026, sektor energi dan infrastruktur termasuk sektor dengan penurunan indeks terdalam di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan saham di sektor‑sektor tersebut tidak hanya berkaitan dengan kinerja perusahaan, tetapi juga dengan ekspektasi terhadap harga energi, arus modal, kebijakan negara‑negara besar, dan risiko dalam rantai pasok internasional.

Dengan demikian, analisis fundamental perusahaan perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Perusahaan energi dapat menghadapi perubahan biaya dan prospek keuntungan akibat konflik geopolitik atau kebijakan negara pemasok. Perusahaan infrastruktur pun bergantung pada kondisi pembiayaan, teknologi, dan jaringan ekonomi yang menopang kegiatannya.

Kedaulatan ekonomi menjadi relevan ketika kita mempertanyakan bukan hanya kemampuan perusahaan menghadapi gejolak, melainkan juga kapasitas nasional dalam mengelola dampaknya. Ketika arus modal berubah arah atau akses terhadap teknologi dan pasar dipengaruhi pertimbangan geopolitik, seberapa banyak pilihan yang tersedia bagi Indonesia?

Warisan Pembangunan dan Persoalan Kemandirian

Pertanyaan tentang kemampuan menentukan arah pembangunan mengingatkan saya pada Confessions of an Economic Hit Man karya John Perkins, yang pertama kali saya baca pada 2005. Terlepas dari perdebatan mengenai sejumlah klaim dalam buku tersebut, pengalaman yang diceritakan Perkins mengajukan pertanyaan penting: apakah pembangunan memperbesar kemampuan suatu negara menentukan masa depannya sendiri, atau justru membentuk ketergantungan baru?

Besarnya investasi, pertumbuhan produk domestik bruto, dan pembangunan infrastruktur tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan itu. Pembangunan juga perlu dinilai dari kemampuan yang ditinggalkannya: apakah negara menguasai teknologi, memiliki industri yang kompetitif, dan mampu menentukan syarat keterlibatan pihak lain dalam perekonomiannya?

Dalam konteks Indonesia, pertanyaan mengenai kemandirian ekonomi membawa kita kembali pada pemikiran Sumitro Djojohadikusumo, ekonom yang berperan penting dalam perkembangan pemikiran ekonomi nasional. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pemikiran tentang hubungan antara peran negara, industrialisasi, dan pembentukan kemampuan ekonomi nasional tetap relevan untuk ditinjau.

Pengalaman Orde Baru memperlihatkan kompleksitas pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan, investasi, dan infrastruktur. Kapasitas ekonomi dapat berkembang, tetapi hasilnya juga dipengaruhi distribusi kekuasaan, konsentrasi kepemilikan, dan kualitas institusi. Karena itu, keterlibatan negara tidak otomatis menghasilkan kemandirian, sebagaimana keterbukaan ekonomi tidak selalu berujung pada ketergantungan.

Negara yang mengandalkan proteksi tanpa membangun kemampuan industri berisiko kehilangan daya saing. Sebaliknya, keterbukaan yang tidak disertai strategi nasional dapat menempatkan industri domestik pada posisi lemah di hadapan pelaku yang memiliki modal, teknologi, dan jaringan global lebih kuat.

Pengalaman Tiongkok memberi perspektif lain. Integrasinya ke dalam perdagangan global berjalan bersamaan dengan pembangunan manufaktur, pengembangan teknologi, peningkatan keterampilan, dan penguatan posisi dalam rantai pasok. Pengalaman itu tidak dapat disalin begitu saja, tetapi memperlihatkan bahwa keterbukaan dan kemandirian tidak harus saling bertentangan. Persoalannya adalah bagaimana keterlibatan dalam ekonomi global diarahkan untuk memperkuat kapasitas nasional.

Selat Malaka: Geografi dan Penguasaan Jaringan Perdagangan
Persoalan yang sama dapat dilihat dari posisi Indonesia di sekitar Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran utama yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan dan kawasan Asia Timur.

Letak geografis memberi Indonesia potensi strategis, tetapi potensi tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi. Kapal‑kapal yang melintasi jalur perdagangan di sekitar Indonesia tidak dengan sendirinya menjadikan perusahaan nasional sebagai penyedia layanan, pengelola jaringan logistik, atau penerima manfaat terbesar dari aktivitas tersebut.

Sejarah Sriwijaya memberi perspektif mengenai hubungan antara geografi dan kekuatan maritim. Pengaruhnya tidak hanya bertumpu pada lokasi, tetapi juga pada keterlibatan dalam jaringan perdagangan regional dan kemampuannya membangun hubungan politik serta ekonomi dengan pelaku perdagangan pada zamannya. Konteksnya tentu berbeda dari perdagangan modern, tetapi pelajarannya tetap relevan: posisi strategis perlu disertai kemampuan mengorganisasi hubungan ekonomi.

Perbandingan dengan Singapura memperlihatkan bagaimana kemampuan tersebut dapat dibangun dalam konteks kontemporer. Kekuatan Singapura sebagai pusat maritim tidak hanya bersumber dari lokasinya, tetapi juga dari keterpaduan pelabuhan, jasa pelayaran, pembiayaan, logistik, regulasi, dan jaringan bisnis internasional. Nilai ekonomi tumbuh bukan sekadar karena kapal melintas, melainkan karena beragam kegiatan dan layanan berkembang di sekitar arus perdagangan.

Bagi Indonesia, tantangannya adalah memperkuat keterlibatan dalam jaringan tersebut. Pengembangan pelabuhan perlu dihubungkan dengan perusahaan pelayaran yang kompetitif, galangan kapal, industri komponen, pembiayaan dan asuransi pelayaran, teknologi navigasi, serta jasa logistik. Keterhubungan antarsektor ini penting agar aktivitas maritim turut membangun kemampuan industri dan usaha nasional.

Ukuran keberhasilannya bukan semata besarnya investasi atau bertambahnya infrastruktur. Kita juga perlu melihat apakah perusahaan nasional mampu mengambil bagian lebih besar dalam layanan perdagangan internasional, apakah penguasaan teknologi meningkat, dan apakah nilai ekonomi yang dihasilkan dapat dipertahankan lebih banyak di dalam negeri.

Hal itu tidak berarti seluruh rantai industri harus dimiliki negara atau perusahaan nasional. Kerja sama lintas negara merupakan bagian dari ekonomi global. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kerja sama tersebut memperbesar kemampuan Indonesia memilih mitra, menegosiasikan kepentingan, membangun alternatif, dan mengembangkan kapasitas domestik.

Mengubah Posisi Menjadi Daya Tawar
Gejolak IHSG dan posisi strategis Selat Malaka memperlihatkan dua sisi persoalan yang sama. Pasar modal menunjukkan keterhubungan Indonesia dengan sistem keuangan internasional, sementara Selat Malaka menempatkannya di sekitar salah satu simpul perdagangan dunia. Keduanya menghadirkan peluang sekaligus kerentanan.

Arus modal dapat mendukung investasi, tetapi juga dapat berubah arah. Perdagangan memperluas pasar, tetapi dapat membentuk ketergantungan. Investasi membawa peluang memperoleh teknologi, tetapi tidak otomatis menghasilkan kemampuan untuk menguasainya.

Karena itu, agenda kedaulatan ekonomi tidak cukup dirumuskan sebagai pilihan antara keterbukaan dan proteksi, modal asing dan modal domestik, atau negara dan pasar. Persoalan utamanya adalah bagaimana Indonesia membangun kapasitas untuk menentukan syarat keterlibatannya dalam ekonomi global.

Hal tersebut menuntut kebijakan yang saling terhubung di bidang industri, energi, perdagangan, teknologi, pembiayaan, dan diplomasi ekonomi. Penguasaan sumber daya tanpa teknologi pengolahan, misalnya, menghasilkan posisi yang berbeda dari penguasaan sumber daya yang disertai industri, pengetahuan, dan akses pasar.

Indonesia memiliki sumber daya, pasar domestik, dan posisi geografis yang strategis. Namun, semua itu bukan jaminan kedaulatan ekonomi. Nilainya bergantung pada kemampuan negara dan pelaku ekonominya membangun kapasitas produktif, memperluas pilihan strategis, dan menegosiasikan hubungan dengan kekuatan ekonomi lain.

Kedaulatan ekonomi bukan berarti berdiri di luar jaringan perdagangan dan keuangan global. Kedaulatan berarti mampu terlibat tanpa kehilangan ruang untuk menentukan pilihan, bekerja sama tanpa menyerahkan seluruh kendali strategis, dan memanfaatkan keterhubungan global untuk memperkuat posisi ekonomi nasional.

Tantangan Indonesia bukan sekadar menjadi pasar bagi modal global atau wilayah yang dilalui kapal‑kapal perdagangan dunia. Tantangannya adalah membangun kemampuan untuk ikut menentukan arah kegiatan ekonomi tersebut dan memperoleh manfaat yang lebih besar dari keterhubungan Indonesia dengan dunia.

 

Penulis : Ariani Djalal
Komisaris Independen PT ASDP Indonesia Ferry (Persero)

Tags
  • Penulis: Admin Jakarta

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dispora Bengkulu Bangga, Bripda Viona Sabet Emas di Kejurnas IPSI

    Dispora Bengkulu Bangga, Bripda Viona Sabet Emas di Kejurnas IPSI

    • calendar_month Selasa, 25 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 118
    • 0Komentar

    BENGKULU, jarrakpos.com – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Bengkulu tak henti-hentinya memberikan apresiasi dan ucapan selamat setinggi-tingginya kepada Bripda Viona Try Lutfiah atas keberhasilannya meraih medali emas di Kejuaraan Nasional Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) kategori Kelas C Putri yang diselenggarakan di Palembang. Kejurnas IPSI II tahun 2025 yang digelar dari tanggal 20 hingga […]

  • Tumbuhkan Kebersamaan di Perbatasan, Satgas Pamtas Yonarned 11 Kostrad Laksanakan Karya Bakti Pembersihan Gereja

    Tumbuhkan Kebersamaan di Perbatasan, Satgas Pamtas Yonarned 11 Kostrad Laksanakan Karya Bakti Pembersihan Gereja

    • calendar_month Kamis, 6 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 205
    • 0Komentar

    NUNUKAN,JARRAKPOS.COM – Dalam upaya mempererat hubungan dengan masyarakat serta tokoh agama di wilayah perbatasan, Satgas Pamtas Yonarmed 11 Kostrad Pos Lumbis melaksanakan kegiatan Karya Bakti pembersihan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) St. Imanuel Tau Lumbis, Desa Tau Lumbis, Kecamatan Lumbis Hulu, Kabupaten Nunukan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian Satgas terhadap kebersihan dan kenyamanan tempat […]

  • Dari Santunan Kematian Rp70 Juta hingga Satu Rumah Satu Sarjana, I Wayan Bawa Buktikan Desa Adat Seseh Mampu Sejahterakan Krama

    Dari Santunan Kematian Rp70 Juta hingga Satu Rumah Satu Sarjana, I Wayan Bawa Buktikan Desa Adat Seseh Mampu Sejahterakan Krama

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 27
    • 0Komentar

    BADUNG – Desa Adat Seseh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, membuktikan bahwa desa adat tidak hanya menjadi benteng pelestarian adat, tradisi, dan budaya Bali, tetapi juga mampu menjadi pilar utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai program sosial, pendidikan, ekonomi, hingga perlindungan bagi krama yang dijalankan secara konsisten menjadikan Desa Adat Seseh sebagai salah satu model pengelolaan […]

  • Beberapa Kasus Berhasil Diungkap Polres Magelang Kota Dalam Operasi Cipta Kondisi Bulan Ramadhan

    Beberapa Kasus Berhasil Diungkap Polres Magelang Kota Dalam Operasi Cipta Kondisi Bulan Ramadhan

    • calendar_month Jumat, 21 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 844
    • 0Komentar

    KOTA MAGELANG,JARRAKPOS.COM – Selama Operasi Cipta Kondisi menjelang bulan Ramadan, Polres Magelang Kota berhasil mengungkap sejumlah kasus. Yakni  kasus Narkoba, perjudian, miras, premanisme dan pelaku Tawuran serta asusila. Para tersangka serta barang bukti diamankan Polres Magelang Kota dan para pelaku dihadirkan dalam konferensi pers, narkoba 2 pelaku,judi dan premanisme 7 pelaku, miras dan 11 sudah […]

  • MK Kabulkan Gugatan H. Budi Antoni dan Henny, PSU Empat  Lawang Digelar Dua Paslon

    MK Kabulkan Gugatan H. Budi Antoni dan Henny, PSU Empat Lawang Digelar Dua Paslon

    • calendar_month Senin, 24 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.579
    • 0Komentar

    EMPAT LAWANG, jarrakpos – Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan yang diajukan oleh pasangan H. Budi Antoni dan Henny terkait hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Empat Lawang. Putusan dengan nomor perkara 24/PHPU.BUP-XXIII/2025 ini menyatakan bahwa pemungutan suara sebelumnya tidak sah dan harus dilakukan pemungutan suara ulang (PSU). Dalam pertimbangannya, MK menilai adanya perbedaan penafsiran terkait periodeisasi […]

  • Pertamina Jelaskan Suara Letupan di Kilang Dumai, Pastikan Kondisi Kilang Aman

    Pertamina Jelaskan Suara Letupan di Kilang Dumai, Pastikan Kondisi Kilang Aman

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Riau
    • visibility 27
    • 0Komentar

      Dumai,Matakompas.com 3 September 2026 — Dengan ini disampaikan bahwa benar adanya suara letupan akibat adanya kendala pada salah satu unit operasional PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai. Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai mengatakan suara yang terdengar merupakan suara release tekanan ke api obor (flare) saat […]

expand_less