I Wayan Bawa Sulap Desa Adat Seseh Jadi Desa Berbasis Kesejahteraan, Krama Dapat Santunan Rp73,5 Juta dan Bonus Cumlaude Rp10 Juta
- account_circle admin
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG – Desa Adat Seseh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, membuktikan bahwa desa adat tidak hanya menjadi benteng pelestarian adat, tradisi, dan budaya Bali, tetapi juga mampu menjadi pilar utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai program sosial, pendidikan, ekonomi, hingga perlindungan bagi krama yang dijalankan secara konsisten menjadikan Desa Adat Seseh sebagai salah satu model pengelolaan desa adat yang berhasil di Pulau Dewata.
Di balik berbagai terobosan tersebut, terdapat sosok I Wayan Bawa, S.H., Bendesa Adat Seseh yang juga merupakan Anggota DPRD Provinsi Bali Komisi I dari Fraksi PDI Perjuangan. Selama bertahun-tahun, ia membangun Desa Adat Seseh dengan filosofi kebersamaan, gotong royong (ngayah), serta pengelolaan aset desa yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Menurut I Wayan Bawa, ukuran keberhasilan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh megahnya pembangunan fisik atau besarnya investasi yang masuk, melainkan dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Desa adat harus hadir memberikan rasa aman, membantu masyarakat ketika mengalami kesulitan, memberikan kesempatan pendidikan yang lebih baik kepada generasi muda, serta memastikan seluruh krama dapat menjalankan kewajiban adat tanpa merasa terbebani,” ujarnya.
Santunan Kematian Capai Rp73,5 Juta, Ringankan Beban Krama
Salah satu program unggulan yang menjadi perhatian banyak pihak adalah program santunan kematian bagi seluruh krama Desa Adat Seseh. Program yang telah berjalan sekitar lima hingga enam tahun tersebut merupakan bentuk perlindungan sosial yang dikelola melalui kolaborasi antara desa adat, pemerintah, dan BPJS Ketenagakerjaan.
Ketika seorang krama meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan dapat menerima bantuan dengan total sekitar Rp73,5 juta, yang terdiri dari:
Santunan BPJS Kematian yang difasilitasi Desa Adat Seseh sebesar Rp42 juta.
Bantuan bagi krama lanang sebesar Rp10 juta.
Bantuan bagi krama istri sebesar Rp5 juta.
Dana apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Badung sebesar Rp10 juta.
Bantuan biaya ngaskara dari Desa Dinas sebesar Rp6,5 juta.
Melalui skema tersebut, keluarga yang sedang berduka tidak lagi harus memikirkan seluruh biaya upacara adat yang selama ini dikenal cukup besar.
“Ketika ada krama yang meninggal dunia, keluarga tidak lagi terlalu terbebani biaya upacara karena desa adat telah hadir memberikan perlindungan. Inilah fungsi desa adat yang sesungguhnya, hadir bersama masyarakat dalam suka maupun duka,” kata I Wayan Bawa.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata implementasi konsep menyama braya, di mana seluruh warga saling menopang ketika menghadapi musibah.
Satu Rumah Minimal Satu Sarjana
Selain perlindungan sosial, Desa Adat Seseh juga memberikan perhatian besar terhadap pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Sejak sekitar enam tahun lalu, Desa Adat Seseh menggulirkan program “Satu Rumah Minimal Satu Sarjana.” Program tersebut bertujuan memastikan setiap keluarga memiliki minimal satu anggota yang mampu mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.
Hasilnya mulai terlihat secara signifikan. Hampir seluruh lulusan SMA di Desa Adat Seseh kini melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sementara jumlah sarjana dari desa tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut I Wayan Bawa, investasi terbaik bukanlah membangun gedung semata, melainkan membangun kualitas manusia.
“Kami ingin anak-anak Desa Adat Seseh memiliki pendidikan yang tinggi sehingga mampu bersaing di masa depan. Pendidikan adalah jalan utama meningkatkan kesejahteraan keluarga,” jelasnya.
Lulus Cumlaude Dihadiahi Rp10 Juta
Sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras generasi muda, Desa Adat Seseh juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan dengan predikat cum laude.
Setiap mahasiswa yang lulus dengan predikat tersebut memperoleh penghargaan sebesar Rp10 juta dari Desa Adat Seseh.
Tidak hanya mahasiswa, apresiasi juga diberikan kepada siswa SD, SMP, dan SMA yang berhasil menjadi juara umum, juara kelas, maupun meraih prestasi akademik maupun nonakademik.
Penghargaan juga diberikan kepada atlet maupun pelajar yang mengharumkan nama desa pada tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, dengan nominal yang disesuaikan berdasarkan tingkat prestasi yang dicapai.
“Penghargaan ini kami berikan agar anak-anak semakin termotivasi belajar, berprestasi, dan memiliki cita-cita yang tinggi,” ujar I Wayan Bawa.
Galungan, Seluruh Krama Mendapat Pembagian Daging Babi
Semangat kebersamaan di Desa Adat Seseh juga diwujudkan melalui program pembagian daging babi kepada seluruh krama setiap Hari Raya Galungan.
Tradisi tersebut bukan sekadar pembagian bantuan, tetapi menjadi simbol bahwa hasil pengelolaan ekonomi desa benar-benar kembali kepada masyarakat secara merata.
Program ini sekaligus memperkuat rasa persaudaraan di antara seluruh krama sekaligus menjaga nilai-nilai gotong royong yang telah diwariskan secara turun-temurun.
BUPDA Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Desa
Berbagai program sosial yang dijalankan Desa Adat Seseh tidak lepas dari keberhasilan pengelolaan Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA).
Melalui pengelolaan berbagai potensi ekonomi desa secara profesional, BUPDA mampu menghasilkan pendapatan yang kemudian dikembalikan sepenuhnya kepada masyarakat dalam bentuk program pendidikan, sosial, adat, keagamaan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Model tersebut menjadikan desa adat tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi mampu mandiri melalui pengelolaan aset yang produktif.
Semangat Ngayah Menjadi Fondasi
Menurut I Wayan Bawa, seluruh keberhasilan tersebut bukanlah sesuatu yang hadir secara instan.
Fondasi utama Desa Adat Seseh dibangun dari budaya ngayah yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu.
Ia menceritakan bahwa sejak dahulu masyarakat terbiasa bergotong royong membantu pembangunan pura maupun kegiatan adat dengan membawa hasil ternak, hasil panen, maupun tenaga secara sukarela.
“Kalau dilakukan dengan tulus dan ikhlas, karma baik itu akan kembali menjadi kemakmuran. Sejak tahun 1999 kami tidak pernah berhenti membangun pura, melaksanakan piodalan maupun berbagai kegiatan adat lainnya,” tuturnya.
Menjaga Tanah Adat untuk Generasi Mendatang
Sebagai desa yang memiliki sejumlah pura bersejarah peninggalan Kerajaan Mengwi, Desa Adat Seseh memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlangsungan adat dan budaya Bali.
Karena itu, I Wayan Bawa terus mengingatkan masyarakat agar mempertahankan aset desa maupun tanah adat.
Ia mendorong masyarakat untuk tidak menjual tanah warisan, melainkan mengelolanya secara produktif melalui sistem sewa atau pemanfaatan ekonomi lainnya sehingga manfaatnya dapat dinikmati oleh anak cucu di masa mendatang.
“Tanah adat jangan dijual. Kalau bisa disewakan, manfaat ekonominya akan terus dinikmati keluarga dan generasi berikutnya,” tegasnya.
Siapkan Program Khusus bagi Lansia
Ke depan, Desa Adat Seseh juga tengah mempersiapkan program khusus bagi para lanjut usia sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka selama puluhan tahun menjaga desa adat.
Program tersebut dirancang agar para lansia memperoleh perhatian yang lebih baik sebagai wujud penghargaan terhadap generasi yang telah membangun pondasi Desa Adat Seseh hingga seperti sekarang.
“Para lansia adalah orang-orang yang telah membangun desa ini. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan perhatian melalui program khusus yang sedang kami siapkan,” ungkapnya.
Desa Adat Harus Hadir Menyejahterakan Krama
Mengakhiri keterangannya, I Wayan Bawa mengajak seluruh masyarakat Desa Adat Seseh untuk terus menjaga persatuan, semangat gotong royong, serta memanfaatkan seluruh program yang telah disiapkan desa adat.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama seluruh kebijakan yang dijalankan adalah agar masyarakat hidup lebih tenang, bahagia, dan sejahtera, tanpa merasa terbebani oleh kewajiban adat maupun biaya pendidikan.
“Harapan saya sederhana, seluruh krama Seseh bisa hidup lebih sejahtera dan bahagia. Jangan sampai masyarakat merasa berat menjalankan kewajiban adat karena desa adat harus hadir membantu. Begitu juga dengan pendidikan, kami ingin semakin banyak generasi muda yang berprestasi. Selama mereka mau berjuang, desa adat akan terus memberikan dukungan dan penghargaan,” pungkas I Wayan Bawa.
Keberhasilan Desa Adat Seseh menunjukkan bahwa ketika aset desa dikelola secara profesional, budaya gotong royong terus dijaga, dan hasil pembangunan dikembalikan kepada masyarakat, maka desa adat mampu menjadi pusat kesejahteraan sekaligus benteng pelestarian budaya Bali. Model pembangunan yang diterapkan Desa Adat Seseh pun kini menjadi inspirasi bahwa kemajuan desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas hidup masyarakat yang semakin baik, berpendidikan, terlindungi, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai adat, budaya, serta kearifan lokal Bali.
- Penulis: admin



Saat ini belum ada komentar