Agung Gede Dalem Pemayun Raih Doktor UNHI, Dorong Sewaka Dharma Jadi Fondasi Pelayanan Kesehatan Biddokkes Polda Bali
- account_circle admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Komitmen memperkuat kualitas pelayanan kesehatan melalui nilai-nilai kearifan lokal Bali menjadi perhatian utama Anak Agung Gede Dalem Pemayun, SH., M.A.P., CCMS., dalam Ujian Promosi Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Rabu (26/8/2026).
Bertempat di Aula Lantai III Gedung Rektorat UNHI, Jalan Sangalangit, Tembau, Penatih, Denpasar Timur, Dalem Pemayun berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Implementasi Sewaka Dharma dalam Mengoptimalisasikan Pelayanan Kesehatan di Biddokkes Polda Bali.”
Setelah melalui Sidang Akademik Ujian Terbuka Promosi Doktor, Dalem Pemayun dinyatakan lulus dan resmi menyandang gelar Doktor. Promosi doktor tersebut sekaligus menjadi momentum akademik untuk mengangkat nilai Sewaka Dharma sebagai landasan moral dan budaya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Sidang terbuka dipimpin Rektor UNHI sekaligus Ketua Tim Penguji, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si., dengan menghadirkan Dekan Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya UNHI Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si., serta Koordinator Program Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si.
Dalam proses akademiknya, Dalem Pemayun didampingi Promotor Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si., dan Ko-Promotor Dr. I Made Sumarya, M.Si. Sementara anggota penguji terdiri dari Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si., Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si., Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS., dan Prof. Dr. Drs. Wayan Paramartha, SH., M.Pd. Adapun penguji eksternal adalah Prof. Dr. Dewa Putu Oka Prasiasa, A.Par., MM.
Soroti Kualitas Pelayanan Kesehatan
Dalam pemaparan disertasinya, Dalem Pemayun menjelaskan bahwa Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Bali (Biddokkes Polda Bali) merupakan lembaga strategis di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia yang memiliki tugas mengelola berbagai aspek medis dan kesehatan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan pelayanan.
Dalam menjalankan pelayanan kepada masyarakat, Biddokkes Polda Bali mengusung jargon Sewaka Dharma, yang menempatkan pelayanan dan kepuasan masyarakat sebagai salah satu orientasi penting.
Namun, menurut hasil penelitian Dalem Pemayun, implementasi nilai tersebut belum sepenuhnya berjalan optimal. Masih ditemukan keluhan masyarakat terkait pelayanan yang dinilai lambat dan belum sepenuhnya menunjukkan empati sebagaimana nilai pelayanan yang ingin diwujudkan.
Kondisi tersebut menjadi titik awal penelitian Dalem Pemayun untuk melihat lebih jauh kesenjangan antara nilai ideal Sewaka Dharma dengan realitas pelayanan kesehatan di lapangan.
Dari persoalan tersebut, penelitian kemudian merumuskan tiga pertanyaan utama. Pertama, mengapa implementasi Sewaka Dharma belum optimal dalam pemberian layanan kesehatan di Biddokkes Polda Bali. Kedua, bagaimana implementasi Sewaka Dharma dalam pemberian layanan kesehatan. Ketiga, bagaimana implikasinya terhadap kehidupan sosial, budaya, perilaku pasien dan keluarganya, serta manajemen Biddokkes Polda Bali.
“Dari gap research tersebut muncullah tiga permasalahan,” terang Dalem Pemayun dalam pemaparannya.
Perkuat SDM, Komunikasi dan Sarana Prasarana
Penelitian tersebut bertujuan mengeksplorasi implementasi Sewaka Dharma dalam pelayanan kesehatan sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan rumah sakit.
Penelitian menggunakan tiga landasan teori, yakni teori fenomenologi, teori manajemen pelayanan, dan teori resepsi. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan agama dan budaya serta paradigma interpretatif.
Untuk memperoleh data, Dalem Pemayun menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum optimalnya implementasi Sewaka Dharma di Biddokkes Polda Bali dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya keterbatasan sumber daya manusia, sosialisasi dan komunikasi yang belum optimal, serta keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pelayanan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penguatan kualitas pelayanan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis tenaga medis, tetapi juga menyangkut bagaimana nilai budaya dan etika pelayanan diterapkan secara konsisten dalam setiap proses interaksi dengan pasien dan keluarganya.
Sinergikan Kearifan Lokal dengan Manajemen Modern
Salah satu poin penting dalam disertasi Dalem Pemayun adalah adanya upaya mensinergikan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bali dengan prinsip-prinsip manajemen modern.
Implementasi Sewaka Dharma di Biddokkes Polda Bali, menurut penelitian tersebut, berjalan melalui empat fungsi manajemen, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan atau kontrol.
Sinergi tersebut dipandang penting karena pelayanan kesehatan bukan sekadar persoalan administratif maupun teknis medis. Di dalamnya terdapat dimensi kemanusiaan, sosial, budaya, komunikasi, serta penghormatan terhadap pasien sebagai penerima layanan.
Dengan demikian, Sewaka Dharma tidak berhenti sebagai jargon institusi, tetapi perlu diterjemahkan menjadi perilaku pelayanan yang nyata, mulai dari cara berkomunikasi, kecepatan memberikan layanan, perhatian terhadap kebutuhan pasien, hingga kemampuan membangun rasa nyaman dan kepercayaan.
Implementasi nilai tersebut juga dinilai memiliki implikasi terhadap manajemen Biddokkes Polda Bali serta kehidupan sosial dan budaya pasien maupun keluarganya.
Tegaskan Kontribusi Akademik
Dalam kesimpulan penelitiannya, Dalem Pemayun menyampaikan sejumlah temuan penting. Penelitian tersebut mengafirmasi teori fenomenologi Alfred Schutz, khususnya dalam melihat pengalaman dan pemaknaan aktor terhadap realitas pelayanan.
Penelitian juga mengafirmasi teori manajemen melalui penerapan empat fungsi manajemen, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan kontrol.
Sementara dari perspektif teori resepsi, penelitian tersebut menemukan adanya konstruksi respons yang terbentuk melalui telaah terhadap teks secara total maupun sebagian, termasuk respons yang bersifat oposisional.
Berbagai temuan tersebut memperlihatkan bahwa penerapan Sewaka Dharma membutuhkan proses yang berkelanjutan dan tidak cukup hanya melalui penyampaian nilai atau slogan. Nilai tersebut harus diinternalisasi oleh seluruh unsur pelayanan sehingga menjadi budaya kerja yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Doktor Baru, Pesan untuk Pelayanan yang Lebih Humanis
Keberhasilan Dalem Pemayun meraih gelar doktor bukan hanya menjadi pencapaian akademik pribadi, tetapi juga membawa pesan penting mengenai pentingnya menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih humanis, responsif dan berakar pada nilai-nilai budaya lokal.
Disertasi tersebut menempatkan Sewaka Dharma sebagai jembatan antara kearifan lokal Bali dan kebutuhan manajemen pelayanan kesehatan modern.
Ketika nilai pelayanan benar-benar diterapkan dalam perilaku sehari-hari, pelayanan kesehatan diharapkan tidak hanya memenuhi standar administratif dan profesional, tetapi juga mampu memberikan rasa dihargai, dilayani dan diperhatikan kepada setiap pasien.
Bagi Dalem Pemayun, penguatan Sewaka Dharma pada akhirnya bukan sekadar bagaimana institusi memberikan pelayanan, tetapi bagaimana nilai pengabdian kepada masyarakat diwujudkan secara konkret dalam setiap proses pelayanan kesehatan.
“Sewaka Dharma” pun menjadi pesan utama dari perjalanan akademik Dalem Pemayun: pelayanan yang baik bukan hanya tentang apa yang diberikan kepada masyarakat, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat merasakan pelayanan tersebut.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar