Prabowo Luncurkan PLTS 100 GWp, Gilimanuk Jadi Motor Kemandirian Energi Bali.
- account_circle Redaksi Bali
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JEMBRANA, Matakompas.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan sekaligus melakukan groundbreaking Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp di Site Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026).
Didampingi Gubernur Bali Wayan Koster, Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah mempercepat transformasi energi nasional menuju kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Bupati dan Wakil Bupati Jembrana serta sejumlah pejabat terkait.
PLTS Gilimanuk menjadi salah satu proyek strategis dalam program nasional PLTS 100 GWp yang dirancang untuk mengeliminasi penggunaan pembangkit berbahan bakar minyak pada sistem kelistrikan Bali melalui kombinasi PLTS dan Battery Energy Storage System (BESS). Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 2028.
Secara teknis, PLTS Gilimanuk memiliki kapasitas pembangkit sebesar 300 MWp, dilengkapi BESS berkapasitas 1.000 MWh. Proyek ini diproyeksikan menghasilkan energi sekitar 470 GWh per tahun, dengan kebutuhan lahan sekitar 321 hektare dan nilai investasi mencapai Rp9,157 triliun.
Kehadiran PLTS Gilimanuk juga diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi penggunaan energi fosil.
Pembangkit ini diperkirakan mampu menghemat konsumsi BBM hingga sekitar 151 ribu kiloliter per tahun, sekaligus memperkuat bauran energi bersih dalam sistem kelistrikan Bali.
Presiden Prabowo Subianto dalam peluncuran tersebut menyampaikan bahwa program PLTS 100 GWp merupakan langkah besar pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia.
“Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini secara resmi meluncurkan program pembangkit listrik tenaga surya 100 GWp,” ujar Prabowo.
Program tersebut diawali dengan pembangunan 14 PLTS yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Pemerintah menargetkan kapasitas PLTS 100 GWp tersebut dapat direalisasikan dalam waktu tiga tahun, bahkan diupayakan lebih cepat.
Secara nasional, tahap awal program ini mencakup total kapasitas sekitar 5,2 GWp di 14 lokasi. Selain PLTS Gilimanuk, proyek tersebut meliputi PLTS Madura berkapasitas 605 MWp, PLTS Cirata 1.250 MWp, PLTS Jatigede 636 MWp, PLTS Jatiluhur 1.688 MWp, PLTS Lahan Bank Tanah 69 MWp, serta sejumlah PLTS lainnya yang berada dalam tahap peresmian, konstruksi maupun groundbreaking.
Tak hanya menyasar ketahanan energi, program PLTS 100 GWp juga diproyeksikan memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional. Total kebutuhan investasi program mencapai sekitar Rp1.140 triliun, dengan potensi penghematan BBM sekitar Rp73,9 triliun per tahun. Program ini juga berpotensi menciptakan sekitar 3,465 juta tenaga kerja konstruksi dan 2,053 juta tenaga kerja manufaktur.
Bagi Bali, pembangunan PLTS Gilimanuk menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem energi sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Proyek tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap BBM, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan sistem kelistrikan Bali yang lebih efisien, tangguh dan ramah lingkungan.
Peluncuran PLTS 100 GWp di Gilimanuk sekaligus menandai babak baru transformasi energi Indonesia. Dari Bali, pemerintah memulai langkah besar menuju target energi surya berskala nasional, dengan harapan kemandirian energi dapat diwujudkan lebih cepat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta perekonomian Indonesia. (red).
- Penulis: Redaksi Bali









Saat ini belum ada komentar