Pertamina Janji Normalisasi, Antrean BBM Bali Belum Reda, Warga Kecewa: Jangan Hanya Omon-Omon
- account_circle Redaksi Bali
- calendar_month 29 menit yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, Matacompas.com – Gubernur Bali Wayan Koster memanggil jajaran PT Pertamina Patra Niaga ke Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, Senin (12/10/2026).
Langkah ini bertujuan untuk meminta penjelasan sekaligus mempercepat penanganan antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) akibat terbatasnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Gubernur Koster meminta Pertamina bergerak cepat memperkuat pasokan dan mengoptimalkan distribusi BBM, khususnya jenis Pertalite dan Pertamax, agar kebutuhan masyarakat di seluruh Bali segera terpenuhi.
“Pengelolaan BBM di Bali agar dilakukan secara ketat. Hal ini penting untuk menjaga kondusivitas Bali di mata masyarakat dunia,” kata Gubernur Koster.
Pertemuan tersebut dihadiri jajaran Pertamina Patra Niaga, perwakilan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas), serta Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan.
Gubernur Koster menekankan pentingnya percepatan distribusi agar masyarakat tidak terus menghadapi kesulitan memperoleh BBM.
Pasalnya, antrean panjang dan kekosongan stok di sejumlah SPBU telah mengganggu aktivitas warga serta mobilitas kendaraan di beberapa wilayah Bali.
Bahkan, antrean kendaraan dilaporkan terjadi sejak pagi hingga malam hari. Di sejumlah SPBU di Denpasar, Badung, dan Tabanan, warga mengaku harus mengantre hingga satu jam lebih, sementara pengendara lainnya terpaksa berkeliling mencari SPBU yang masih memiliki persediaan BBM.
Gubernur Koster Minta Distribusi BBM Dipercepat
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Koster meminta Pertamina memastikan penyaluran BBM berjalan optimal, terutama ke SPBU yang mengalami kekosongan stok dan menjadi titik antrean kendaraan.
Menurut Gubernur Koster, ketersediaan BBM perlu dijaga agar aktivitas masyarakat dan perekonomian Bali tidak terganggu. Ia berharap distribusi segera kembali normal sehingga warga dapat memperoleh bahan bakar tanpa harus mengantre panjang.
Sementara itu, Sales Area Manager Retail Bali PT Pertamina Patra Niaga, Alam Kanda Winali menjelaskan bahwa Pertamina terus memantau kondisi stok dan konsumsi BBM di lapangan serta mengoptimalkan penyaluran setelah kapal pengangkut BBM bersandar.
Pertamina juga menyesuaikan distribusi dengan kondisi persediaan dan tingkat konsumsi di masing-masing wilayah untuk memenuhi kebutuhan SPBU.
Pasokan 26.200 KL Dijadwalkan Masuk Bali
Pertamina Patra Niaga menjadwalkan kedatangan kapal pengangkut BBM secara bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober 2026 melalui Terminal BBM Pesanggaran dan Manggis. Total muatan yang dijadwalkan mencapai 26.200 kiloliter (KL).
Rata-rata konsumsi Pertalite di Bali mencapai sekitar 2.200 KL per hari. Tingginya kebutuhan tersebut menjadi salah satu acuan Pertamina dalam menyusun rencana pasokan dan menentukan prioritas distribusi ke SPBU.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi mengatakan kedatangan kapal pengangkut BBM menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan di Pulau Dewata.
“Dengan sandarnya kapal pengangkut BBM, kami memperkuat pasokan Pertalite dan Pertamax untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bali. Penyaluran ke SPBU terus kami optimalkan dengan mempertimbangkan kondisi stok dan tingkat konsumsi di masing-masing wilayah,” kata Ahad.
Selanjutnya, Pertamina mengoptimalkan pembongkaran muatan dan penyaluran BBM dari terminal menuju SPBU. Evaluasi juga dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan stok dan konsumsi di setiap wilayah.
“Kami akan terus mengupayakan percepatan pemulihan pasokan dan melakukan evaluasi secara berkala agar kondisi ketersediaan BBM dapat segera kembali normal,” kata pihak Pertamina.
Warga Tunggu Kepastian Pasokan Normal
Ditengah upaya percepatan distribusi tersebut, masyarakat berharap langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama Pertamina segera berdampak pada ketersediaan BBM di lapangan.
Warga menilai kepastian pasokan menjadi hal penting, karena BBM menunjang berbagai aktivitas, mulai dari perjalanan bekerja, kegiatan usaha, hingga operasional transportasi dan mobilitas wisatawan.
Sebelumnya, Pertamina menghimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Masyarakat juga diminta mengacu pada kanal komunikasi resmi Pertamina untuk memperoleh informasi yang akurat dan terverifikasi.
Gubernur Koster berharap pengelolaan dan distribusi BBM di Bali segera kembali normal. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan Pertalite maupun Pertamax, sekaligus segera mengatasi antrean panjang di sejumlah SPBU di Bali.
Meski demikian, antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali mengular sejak pagi hingga malam hari, Senin (12/10/2026).
Warga mengaku harus mengantre hingga satu jam untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite maupun Pertamax.
Kelangkaan stok BBM di sejumlah SPBU di Denpasar, Badung, dan Tabanan membuat masyarakat kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Bahkan, antrean kendaraan masih terpantau hingga pukul 22.00 WITA.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah SPBU tetap beroperasi, tetapi kehabisan stok BBM. Kondisi tersebut membuat pengendara harus berkeliling mencari SPBU yang masih memiliki persediaan.
Antrean panjang mulai terjadi sekitar pukul 09.00 WITA. Berdasarkan keterangan petugas SPBU, banyaknya kendaraan yang mengantre sempat memicu kemacetan di sekitar lokasi pengisian BBM.
Salah seorang warga Denpasar mengaku telah mengantre sekitar satu jam demi mendapatkan BBM. Ia menilai kondisi tersebut tidak biasa, karena baru kali ini harus menunggu begitu lama di SPBU tersebut.
“Saya antre sudah satu jam lebih baru dapat BBM. Capek-Capek ngantre ternyata dapat Pertamax dibilang petugas ternyata Pertalite lagi kosong,” kata warga Denpasar, usai ngantre di SPBU Kawasan Gatsu Tengah Denpasar.
Untuk mengurai kepadatan kendaraan, sejumlah pihak turut turun ke lapangan, mulai dari relawan pengatur lalu lintas, personel kepolisian, hingga petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
SPBU Kosong, Warga Berkeliling Cari BBM
Kelangkaan BBM tidak hanya memicu antrean panjang, tetapi juga membuat warga harus berkeliling mencari SPBU yang masih memiliki stok.
Pemantauan sejak pagi dilakukan dari kawasan Ubung Kaja, Denpasar Utara, menuju Kota Tabanan, kemudian berlanjut ke selatan melalui Jalan Raya Tanah Lot hingga Jalan Raya Canggu, Badung.
Di sepanjang jalur tersebut, sejumlah SPBU dilaporkan tidak memiliki stok BBM. Kondisi serupa terlihat di kawasan Jalan Bypass Soekarno, Kediri, hingga Pesiapan, Tabanan.
Sejumlah pengendara bahkan memilih menunggu di tepi SPBU meski belum memperoleh kepastian mengenai kedatangan truk tangki pengangkut BBM.
Seorang ibu rumah tangga mengaku kecewa, karena tidak mendapatkan informasi mengenai jadwal kedatangan pasokan BBM.
“Siang-siang begini tidak ada BBM, bagaimana warga dapat beraktivitas,” keluh ibu rumah tangga tersebut sambil meninggalkan SPBU dengan indikator bahan bakar kendaraannya yang nyaris kosong.
Di Jalan Raya Tanah Lot, sejumlah wisatawan juga terpaksa memutar arah setelah mendapati SPBU kosong dan dipasangi tali pembatas.
Pengendara Beralih ke Pertamax Akibat Pertalite Kosong
Ditengah kelangkaan tersebut, seorang warga Badung mengaku harus berkeliling sekitar 1,5 jam dari Ubung hingga Dalung, Kuta Utara, sebelum menemukan SPBU di Jalan Kebo Iwa Utara, Padangsambian Kaja, Denpasar Barat, yang masih memiliki stok Pertamax.
Sejumlah warga kemudian mendatangi SPBU tersebut, termasuk pengendara yang sehari-hari menggunakan Pertalite. Mereka memilih beralih ke Pertamax agar bisa menggunakan kendaraan sampai di rumahnya.
“Daripada mogok kehabisan bensin (BBM) lebih baik isi saja dengan pertamax, meski dibilang petugas pertalite kosong. Yang penting sampai di rumah,” terangnya.
Pengemudi ojek online juga merasakan dampak kelangkaan BBM. Mereka harus mengantre demi memastikan kendaraan tetap bisa digunakan saat membawa penumpang.
“Masih satu strip, tapi saya takut kehabisan BBM di tengah jalan. Beli pertamax sajalah daripada ditinggal penumpang,” kata pengemudi ojek online.
Kekosongan stok dan antrean panjang juga terpantau di sejumlah kawasan Denpasar, seperti Hayam Wuruk, Puputan Renon, Kereneng, hingga sepanjang Jalan Gatot Subroto. Kepadatan kendaraan di sekitar SPBU turut berdampak pada kelancaran lalu lintas.
Warga Desak Pasokan BBM Kembali Normal
Sejumlah warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera memastikan kelancaran distribusi BBM ke seluruh wilayah Bali. Mereka menilai ketersediaan bahan bakar sangat penting untuk mendukung aktivitas masyarakat, kegiatan usaha, serta mobilitas wisatawan.
“Kalau pasokan BBM seret, semuanya akan terganggu. Situasi ini harus menjadi perhatian pihak terkait, terutama pemerintah, agar tidak menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat,” kata warga Tabanan.
Masyarakat berharap adanya kepastian normalisasi pasokan agar antrean panjang yang membuat pengendara menunggu hingga satu jam tidak terus berulang lagi.
Reporter : Putu Ivan
Editor : Agus Jaya
Sumber : Rilis Pemprov Bali
- Penulis: Redaksi Bali










Saat ini belum ada komentar