Jelang Puncak Pengabenan Agung Jro Mangku Gede I Wayan Tang, Rangkaian Ngaskara hingga Mepegat Berlangsung Khidmat di Ungasan
- account_circle admin
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG – Suasana penuh khidmat menyelimuti kediaman keluarga besar Paibon Bandesa Tangkas Kori Agung Delod Bingin, Desa Adat Ungasan, Jumat (7/8/2026), saat digelarnya rangkaian Upacara Ngaskara, Mepetik, Meras, Mepegat, Munggah Tumpang Salu, hingga Nyukat Bambang Ring Serta sebagai bagian dari Karya Pitra Yadnya Ngewangun Nyawa Wedana Utamaning Utama “Atma Wedana” Maligia Kurung Metatah untuk almarhum Jro Mangku Gede I Wayan Tang.
Rangkaian yadnya tersebut menjadi tahapan penting menjelang puncak pengabenan yang akan dilaksanakan pada Sabtu (8/8/2026). Almarhum merupakan Pemangku Pura Paibon Bandesa Tangkas Kori Agung Delod Bingin Ungasan sekaligus ayahanda dari Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, Jro Mangku Gede I Wayan Disel Astawa.
Prosesi sakral dipuput oleh Ida Ratu Rsi Agung Nabe Wayahan Suta Dharma Jaya Giri dari Geria Gede Pundukdawa, Klungkung, yang juga bertindak sebagai Yajamana Karya. Upacara diikuti keluarga besar, kerabat, serta krama Paibon Bandesa Tangkas Kori Agung Delod Bingin Ungasan. Pada prosesi Meras, Mepetik, dan Mepegat, seluruh anak, menantu, cucu hingga buyut turut mengikuti prosesi sebagai simbol penghormatan terakhir kepada leluhur.
Di sela-sela pelaksanaan upacara, Jro Mangku Gede I Wayan Disel Astawa menjelaskan bahwa rangkaian hari itu diawali dengan Upacara Ngaskara yang dilanjutkan Mepetik, Meras hingga Mepegat.
“Upacara Meras dilakukan kepada anak, cucu hingga kompiang. Setelah seluruh tahapan selesai, dilanjutkan dengan Upacara Mepegat sebagai simbol memutus ikatan sekala dan niskala agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengikhlaskan kepergian almarhum menuju alam yang lebih suci,” ujarnya.
Menurut Disel Astawa, seluruh rangkaian karya merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang memiliki makna mendalam dalam ajaran Hindu Bali, yakni menghantarkan roh leluhur menuju penyucian tertinggi melalui prosesi yang dilaksanakan secara bertahap dan penuh ketulusan.
Puncak pengabenan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (8/8/2026). Prosesi diawali dengan mlaspas bade, petulangan, pekiriman, hingga memanjang sebelum iring-iringan menuju setra untuk prosesi pembakaran jenazah. Setelah itu dilanjutkan dengan nganyud ke segara dan mekekelud sebagai bagian dari penyucian akhir.
Disel Astawa mengungkapkan, sejak pagi seluruh piranti upacara dan banten akan dipersiapkan untuk dibawa ke setra, termasuk tirta beji dan tirta penembak. Jenazah kemudian akan dinaikkan ke bade sebelum diarak menuju lokasi pengabenan. Beberapa cucu yang telah dewasa juga akan menaiki lembu sebagai bagian dari simbol penghormatan dalam prosesi tersebut.
Sebagai Bandesa Adat Ungasan, Disel Astawa menyebut pelaksanaan Karya Agung Utamaning Utama melibatkan kekuatan gotong royong dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari Paiketan Warga Gerih Tangkas Kori Agung, Paibon Jambe Sari, enam banjar di Desa Adat Ungasan, hingga Paiketan Sabha Pemangku se-Desa Adat Ungasan.
Karena tinggi bade mencapai sekitar 11 meter, panitia juga telah berkoordinasi untuk melakukan rekayasa lalu lintas satu arah serta penyesuaian jaringan utilitas berupa pemotongan sementara kabel di sejumlah titik demi kelancaran dan keamanan jalannya prosesi.
Meski demikian, Disel Astawa mengungkapkan bahwa semasa hidup sang ayah sebenarnya tidak pernah menghendaki upacara yang besar. Namun, keluarga memutuskan tetap melaksanakan karya tingkat Utamaning Utama sebagai bentuk bakti, penghormatan, dan ungkapan terima kasih terakhir kepada sosok yang selama hidupnya mengabdi sebagai pemangku.
“Beliau sebenarnya berpesan agar tidak dibuatkan upacara besar. Namun bagi kami sekeluarga, ini adalah wujud bakti dan penghormatan terakhir kepada orang tua. Sebagai anak, kami ingin mempersembahkan yang terbaik atas segala pengabdian beliau semasa hidup,” tutur Disel Astawa.
Atas nama keluarga besar, Disel Astawa juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh krama desa adat, pasemetonan, tokoh masyarakat, serta para undangan yang telah memberikan dukungan dan doa, termasuk Bupati Badung, Ketua DPRD Kabupaten Badung, Puri Mengwi, Pasemetonan Tangkas Kori Agung, Ketua DPD Partai Gerindra Bali Made Muliawan Arya, serta berbagai pihak lainnya.
Ia berharap seluruh rangkaian puncak pengabenan dapat berlangsung dengan lancar, tertib, dan damai sehingga cita-cita keluarga dalam menghantarkan almarhum menuju kesucian dapat terlaksana dengan baik.
“Semoga seluruh prosesi berjalan lancar, damai, dan penuh kedamaian sehingga semua harapan keluarga dapat tercapai dengan baik. Om Santhi, Santhi, Santhi Om,” pungkasnya.
Sementara itu, rangkaian Puncak Maligia Kurung dijadwalkan berlangsung pada Rabu (12/8/2026) dengan sejumlah prosesi lanjutan, di antaranya Mapurwa Daksina, Metiti Mamah Kebo, Memukur, Mejaya-jaya, Metatah, Mepetik, hingga Mendak Dateng sebagai penutup keseluruhan Karya Pitra Yadnya tingkat Utamaning Utama tersebut.
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar