Satu Jiwa, Tiga Rupa: Putri Koster Dorong Wastra Bali Menembus Panggung Mode Dunia.
- account_circle Redaksi Bali
- calendar_month 23 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JEMBRANA, Matakompas.com – Wastra Bali tidak boleh hanya bertahan sebagai warisan budaya yang disimpan dan dikenang. Lebih dari itu, kain tradisional Bali harus mampu hidup, berkembang, menggerakkan perekonomian masyarakat, sekaligus tampil percaya diri di panggung mode nasional hingga internasional.
Semangat inilah yang digaungkan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, melalui konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa” dalam Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana, Kamis (27/8/2026).
Konsep tersebut menjadi strategi dalam membangun masa depan wastra Bali. Bukan hanya sebagai produk budaya, tetapi sebagai kekuatan ekonomi kreatif yang memiliki karakter, nilai, identitas, dan daya saing global.
Menurut Ny. Putri Koster, perjalanan wastra Bali menuju panggung dunia membutuhkan satu jiwa yang kuat dan diwujudkan melalui tiga rupa, yakni seni, bisnis, dan politik kebudayaan.
“Satu jiwa itu muncul dari rasa seni dan estetika masyarakat Bali, baik dari leluhur kita maupun generasi muda yang ada saat ini, yang diwujudkan dalam bentuk wastra tradisional. Kemudian ada tiga rupa yang bisa memunculkan, mengagungkan, dan memuliakan wastra kita, yaitu seni, bisnis, dan politik kebudayaan,” jelasnya.
Bagi Ny. Putri Koster, seni merupakan fondasi utama yang memberikan roh dan karakter pada setiap helai kain tradisional Bali. Motif, warna, dan teknik tenun tidak sekadar menghasilkan keindahan visual, tetapi juga membawa filosofi, identitas, hingga nilai spiritual masyarakat Bali.
Di tengah perkembangan industri tekstil modern dan produksi massal, nilai seni inilah yang menjadi pembeda utama wastra tradisional.
“Seni akan mengangkat sehingga kain itu punya taksu. Itulah yang membedakan tenun tradisional dengan bahan tekstil pabrikan yang begitu dingin,” ungkapnya.
Namun, pelestarian budaya saja dinilai tidak cukup. Wastra Bali juga harus mampu memberikan kehidupan bagi para perajinnya. Karena itu, unsur bisnis menjadi rupa kedua yang tidak dapat dipisahkan dari upaya pelestarian.
Wastra Bali harus memiliki nilai ekonomi yang mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat, terutama para penenun dan perajin yang selama ini menjaga tradisi dari generasi ke generasi. Ketika kesejahteraan perajin meningkat, regenerasi pun diharapkan terus berjalan sehingga tradisi menenun tidak berhenti di tangan generasi saat ini.
Sementara itu, rupa ketiga adalah politik kebudayaan. Pemerintah dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan wastra melalui kebijakan dan perlindungan hukum.
Ny. Putri Koster menegaskan, tanpa regulasi yang kuat, produk budaya lokal berpotensi kehilangan ruang dan identitas di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
“Politik kebudayaan ini menjadi pemungkas dari semuanya karena di dalamnya ada aturan-aturan hukum. Bila kain tenun ini tidak kita lindungi dengan aturan hukum, maka akan hilang,” tegasnya.
Menurutnya, kekuatan ekonomi dan keberlangsungan budaya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Pasar memang mampu memberikan peluang, tetapi tanpa aturan dan perlindungan, produk budaya lokal dapat kehilangan nilai, karakter, bahkan roh yang selama ini menjadi kekuatannya.
“Perekonomian tidak akan terjaga jika tidak ada aturan. Karena dalam dunia bisnis seperti hutan rimba. Kain-kain kita akan menjadi terpuruk dan turun kastanya, tidak punya roh dan taksu-nya,” katanya.
Melalui konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa”, Ny. Putri Koster mengajak seluruh pihak untuk melihat pengembangan wastra Bali sebagai sebuah gerakan bersama. Pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan kreativitas, inovasi desain, penguatan pasar, peningkatan kesejahteraan perajin, serta perlindungan melalui kebijakan yang berpihak pada produk lokal.
“मारी kita tenun sepenuh jiwa dan kita lestarikan. Syaratnya harus kontinu dan konsisten. Mari bergerak bersama,” ajaknya.
Komitmen tersebut juga diwujudkan Dekranasda Provinsi Bali melalui tiga program besar, yakni Dekranasda Bali Fashion Day, Dekranasda Bali Fashion Week, dan Dekranasda Bali Fashion Road Show.

Ketiga program tersebut dirancang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem industri mode berbasis wastra sekaligus meninggalkan warisan bagi perkembangan dunia fashion Bali.
“Dekranasda Provinsi Bali ingin mendapatkan legacy terkait dengan fashion di Pulau Bali. Astungkara, ke depannya Bali bisa menjadi pusat mode dunia. Ini harus kita lakukan secara kontinu dan konsisten,” ujarnya.
Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana sendiri merupakan pelaksanaan ketiga setelah sebelumnya digelar di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan panggung peragaan busana. Lebih jauh, road show menjadi ruang pertemuan antara kreativitas desainer, keterampilan perajin, pelaku industri kecil dan menengah, pelaku usaha, serta masyarakat.
Khusus bagi Jembrana, Ny. Putri Koster berharap semakin banyak desainer lokal yang tumbuh dan memiliki kemampuan membawa karya berbasis kekayaan budaya daerah menuju pasar yang lebih luas.
“Di Jembrana saya ingin tumbuh lagi desainer-desainer lokal yang kemampuannya mengglobal. Kalau itu tumbuh, maka akan terbangun ekosistem,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Jembrana, Ny. Ani Setiawarini Kembang Hartawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Jembrana sebagai bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara”.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam mempertemukan berbagai elemen yang terlibat dalam pengembangan ekonomi kreatif, mulai dari desainer, pelaku IKM, pelaku UMKM, hingga pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi produk lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin.
“Kami berharap melalui kegiatan ini dapat menjadi momentum dalam mempertemukan para desainer, pelaku IKM, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya sehingga tercipta kolaborasi yang berkelanjutan dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan para perajin dan pelaku UMKM,” ujarnya.
Jembrana sendiri memiliki sejumlah potensi budaya yang terus dikembangkan, salah satunya penggunaan cepaka purih sebagai salah satu ciri khas masyarakat setempat. Dekranasda Jembrana juga telah memilih Duta Tenun Jembrana sebagai upaya memperkenalkan sekaligus mengedukasi generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan tenun daerah.
Dalam perhelatan tersebut, tujuh desainer menampilkan karya-karya berbasis wastra, yakni Busana Adat AAA Turah Mayun, Body N Mine, Urban Etnik, Kacarita, Deluxe, Luh Jaum, dan Taksu. Peragaan busana semakin semarak dengan iringan musik dari Gus Teja.
Selain fashion show, kegiatan juga dimeriahkan oleh pameran produk IKM dan UKM yang menampilkan beragam karya lokal Jembrana.
Sebanyak 11 IKM ambil bagian, yakni Putri Mas Collection, Kembar Sari, Arca Collection, Ani Galery, Caka Kembang, Bali Rajut, Linggasari, Ariati Embroidery & Handlace, Butik Jepun, Surya Putra, dan Dana Jaya.
Sementara 10 UKM kuliner turut meramaikan kegiatan, yakni Sibabui, Warung Bu Alit, Lumpia Potong Tugu, Kopi Kelana, Jamu Kunyit Asam, Uma Pia Kasih, Umah Tuak, Sambal Gorlin, Bakii, dan JeCo.
Melalui Fashion Road Show “Wastra Hita Kara”, Dekranasda Provinsi Bali dan Dekranasda Kabupaten Jembrana ingin menunjukkan bahwa masa depan wastra tidak hanya berada di ruang-ruang tradisi.
Dengan jiwa seni yang kuat, pengelolaan bisnis yang berkelanjutan, serta perlindungan melalui politik kebudayaan, wastra Bali diharapkan mampu terus hidup, memberi kesejahteraan bagi perajinnya, dan membawa identitas Pulau Dewata melangkah lebih jauh menuju panggung mode dunia.
Satu jiwa yang lahir dari kebudayaan Bali, diwujudkan dalam tiga kekuatan: seni yang memberi taksu, bisnis yang menghidupi perajin, dan politik kebudayaan yang menjaga warisan tetap lestari. (red).
- Penulis: Redaksi Bali









Saat ini belum ada komentar