Agung Alit Wiraputra Gerakkan Sister City Tabanan-Korea, Bupati Sanjaya Bidik Teknologi Sampah hingga Pertanian
- account_circle admin
- calendar_month 5 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TABANAN — Hubungan Bali dan Korea Selatan (Korsel) berpeluang memasuki babak baru. Kota Sampyong di Korea Selatan menjajaki kerja sama sister city atau kota kembar dengan Kabupaten Tabanan, Bali.
Gagasan tersebut mengemuka dalam audiensi tim Bumiband Blockchain yang dipimpin Ketua Umum Dr. A.A. Ngurah Alit Wiraputra, S.H., M.H., bersama Ketua Divisi Pengelolaan Sampah Digital Bumiband, Mr. Kim Kwang Jo, serta Ketua Divisi Tour and Travel, I Putu Santika, dengan Bupati Tabanan Dr. Komang Gede Sanjaya di ruang kerja Bupati Tabanan, Selasa (22/9/2026).
Dalam audiensi tersebut, Bupati Sanjaya didampingi Asisten III Bidang Administrasi Umum pada Setda Tabanan I Nyoman Gede Gunawan, S.Sos., beserta jajaran.
Ketua Umum Bumiband Blockchain, Agung Alit Wiraputra, mengatakan penjajakan sister city tersebut dilandasi adanya sejumlah kemiripan antara Tabanan dengan Korea Selatan, terutama dalam sektor pertanian serta seni dan budaya.
Menurut Agung Alit Wiraputra, kerja sama yang ditawarkan tidak sebatas pertukaran budaya dan pariwisata. Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah berbasis teknologi.
Korea Selatan, kata dia, memiliki teknologi pengolahan sampah yang dapat dikolaborasikan dengan kebutuhan daerah di Bali, khususnya Tabanan. Teknologi tersebut diharapkan mampu membantu mengolah sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat.
“Kerja sama ini tidak hanya budaya. Korea juga ingin menawarkan kerja sama pengelolaan sampah di Tabanan sehingga persoalan sampah bisa mendapatkan solusi. Setidaknya ada teknologi atau mesin pengolah sampah yang canggih sehingga sampah dapat diolah menjadi benda yang bermanfaat,” ujar Gung Alit.
Selain pengelolaan sampah, pihak Tabanan juga membuka peluang kerja sama di sejumlah sektor lainnya, mulai dari pertanian, pendidikan hingga transportasi.
Salah satu gagasan yang mencuat adalah kemungkinan kerja sama penyediaan bus sekolah bagi para siswa. Sementara di sektor pertanian, teknologi Korea dinilai memiliki peluang untuk dikolaborasikan dengan potensi pertanian Tabanan.
Kemajuan teknologi Korea Selatan yang pesat menjadi salah satu pertimbangan dalam penjajakan tersebut.
Bupati Tabanan Komang Gede Sanjaya menyambut positif gagasan kerja sama kota kembar tersebut. Menurutnya, hubungan Bali dengan Korea Selatan selama ini telah terbangun melalui pariwisata, budaya dan interaksi masyarakat kedua negara.
“Bali dan Korea sudah sangat familiar. Kalau orang Korea mendengar nama Bali pasti sudah di hati. Begitu pun orang Bali tak asing lagi dengan seni-budaya Korea,” ujar Sanjaya di hadapan Mr. Kim Kwang Jo dan tim Bumiband Blockchain.
Sanjaya menilai, karakter pariwisata Bali yang bertumpu pada budaya menjadi salah satu modal penting untuk memperkuat hubungan dengan Korea Selatan.
Melalui sister city, kata dia, hubungan tersebut dapat dikembangkan tidak hanya dalam bidang pariwisata, tetapi juga melalui pertukaran budaya, informasi, teknologi dan kunjungan masyarakat kedua daerah.
“Dengan adanya sister city tentu nanti ada pertukaran budaya kedua bangsa dan transformasi informasi. Keduanya akan dimudahkan untuk saling mengunjungi,” ungkapnya.
Bidik Kota Heritage Berkarakter Bali
Di sisi lain, Sanjaya tengah mendorong penguatan identitas Tabanan sebagai kota yang memiliki karakter heritage atau warisan budaya dan sejarah.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah memasang huruf Bali di seluruh toko sepanjang Jalan Gajah Mada, Kota Singasana, Tabanan.
Menurut Sanjaya, penguatan identitas lokal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun wajah kota yang memiliki karakter berbeda dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia.
“Saya membangun kota heritage yang beda dengan kota lainnya di Indonesia,” tegasnya.
Gagasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa modernisasi kota tidak harus menghilangkan identitas budaya. Sebaliknya, teknologi dan kemajuan zaman diharapkan berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal.
Dalam konteks kerja sama dengan Korea, Sanjaya melihat adanya titik temu yang cukup kuat. Korea dikenal dengan kemajuan teknologinya, sementara Tabanan memiliki kekayaan budaya serta potensi pertanian yang besar.
Belajar dari Kerja Sama dengan Jepang
Sanjaya juga mengungkapkan bahwa Tabanan sebelumnya telah menjalin kerja sama sister city dengan Kota Toyama, Jepang.
Saat masih menjabat sebagai Wakil Bupati Tabanan, Sanjaya mengaku beberapa kali melakukan kunjungan ke Toyama dalam rangka kunjungan balasan antarkedua pejabat daerah.
Kerja sama dengan Toyama dilatarbelakangi adanya kesamaan potensi, khususnya sektor persawahan dan pertanian yang didukung teknologi maju.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pijakan bagi Tabanan untuk membuka peluang kerja sama serupa dengan kota-kota di Korea Selatan.
“Mengingat kemiripan seni-budaya dan pertanian, makanya saya sangat setuju untuk mewujudkan sister city dengan kota-kota di Korea,” tandas Sanjaya.
Meski demikian, rencana tersebut masih berada dalam tahap penjajakan. Sanjaya berharap komunikasi antarkedua pihak terus dilakukan hingga menghasilkan bentuk kerja sama yang konkret dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia menekankan pentingnya diskusi lebih lanjut antarkedua kota, termasuk penyusunan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) sebagai landasan kerja sama.
Kim Kwang Jo Bawa Misi ke Korea
Sementara itu, Ketua Divisi Pengelolaan Sampah Digital Bumiband Blockchain, Mr. Kim Kwang Jo, menyampaikan apresiasi kepada Bupati Tabanan yang telah menerima audiensi tim yang mempertemukan unsur Korea dan Bali tersebut.
Usai pertemuan, Kim dijadwalkan kembali ke Korea Selatan untuk menyampaikan hasil pembahasan serta rencana penjajakan sister city tersebut kepada pihak terkait di Korea.
Ia berharap gagasan kota kembar Tabanan-Korea dapat direalisasikan dalam bentuk kerja sama konkret.
Selain memperkuat hubungan budaya, kerja sama tersebut diharapkan mampu membuka ruang lebih luas bagi peningkatan kunjungan wisatawan Korea ke Bali. Sebaliknya, masyarakat Bali juga diharapkan semakin memiliki akses untuk mengenal Korea melalui hubungan antarkota.
Korea Selatan sendiri menjadi salah satu pasar wisatawan penting bagi Bali. Berdasarkan data yang disampaikan dalam audiensi, Korea berada di jajaran negara penyumbang wisatawan terbesar ke Bali setelah Australia, China dan India.
Pada periode Januari hingga Juli 2026, kunjungan wisatawan Korea ke Bali tercatat mencapai sekitar 174.000 orang melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, sementara berdasarkan catatan data regional tercatat 164.846 kunjungan.
Teknologi, Budaya dan Lingkungan
Bumiband Blockchain sendiri merupakan wadah komunitas yang bergerak di bidang pengembangan, edukasi dan implementasi teknologi blockchain serta pelestarian lingkungan di Indonesia, khususnya Bali.
Melalui kolaborasi lintas negara tersebut, Bumiband mendorong agar perkembangan teknologi tidak berhenti pada inovasi digital, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat, termasuk pengelolaan lingkungan.
Penjajakan sister city Tabanan dengan kota di Korea Selatan pun membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Tidak hanya pertukaran budaya dan peningkatan pariwisata, tetapi juga transfer teknologi, pengelolaan sampah, pertanian, pendidikan hingga pengembangan kota heritage.
Jika nantinya terealisasi dalam bentuk kerja sama resmi, hubungan Tabanan-Korea diharapkan tidak sekadar menjadi hubungan simbolis antarkota, melainkan berkembang menjadi kemitraan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua wilayah.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar