Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026, Dr Somvir: Momentum Mengenang Sejarah dan Meneguhkan Pancasila
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2026 menjadi momentum untuk kembali mengenang perjalanan sejarah bangsa sekaligus meneguhkan Pancasila sebagai dasar negara dan nilai pemersatu kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober memiliki keterkaitan erat dengan peristiwa politik dan kekerasan pada akhir September 1965 serta gugurnya sejumlah perwira TNI Angkatan Darat yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Pemerintah secara rutin memperingati momentum tersebut melalui upacara dan penghormatan kepada para korban. Pada 2026, upacara tingkat pusat dilaksanakan di Monumen Pancasila Sakti, Kamis, 1 Oktober 2026.
Ketua Fraksi Demokrat-NasDem DPRD Bali, Dr Somvir, mengatakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, momentum tersebut perlu menjadi ruang refleksi untuk memahami perjalanan sejarah bangsa sekaligus memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai Pancasila.
“Hari Kesaktian Pancasila merupakan momentum untuk mengenang sejarah, menghormati jasa para pahlawan revolusi, sekaligus meneguhkan kembali Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara kita,” ujar Dr Somvir, Kamis (1/10/2026) di Denpasar.
Ia menilai generasi saat ini perlu memahami sejarah bangsa secara utuh agar nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Somvir, Pancasila memiliki posisi penting sebagai titik temu di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta keadilan sosial, kata dia, harus terus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata.
“Kita harus menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Persatuan, toleransi, gotong royong, penghormatan terhadap perbedaan dan keadilan harus terus kita jaga,” katanya.
Somvir juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak melupakan sejarah bangsa. Baginya, mengenang peristiwa masa lalu bukan semata-mata untuk mengungkit kembali konflik, melainkan mengambil pelajaran agar kehidupan berbangsa ke depan semakin mengedepankan persatuan dan nilai kemanusiaan.
“Sejarah harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Jangan sampai perbedaan menjadi alasan untuk memecah persatuan. Justru Pancasila harus menjadi perekat bangsa di tengah berbagai perbedaan,” tegasnya.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 berlangsung di tengah upaya pemerintah untuk terus memperkuat pemahaman dan pengamalan Pancasila. Sebelumnya, dalam peringatan Hari Lahir Pancasila 2026, pemerintah mengangkat tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, yang menekankan posisi Pancasila sebagai konsensus kebangsaan dan pemersatu masyarakat Indonesia.
Bagi Dr Somvir, semangat tersebut juga relevan dalam kehidupan masyarakat Bali yang memiliki keberagaman sosial, budaya dan agama. Persatuan, menurutnya, harus dijaga melalui sikap saling menghormati serta mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Ia berharap peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Mari kita hormati jasa para pahlawan, kita kenang sejarah bangsa, dan yang paling penting kita amalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, semangat Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya diperingati setiap 1 Oktober, tetapi benar-benar hidup dalam kehidupan masyarakat,” pungkasnya.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar