BBM Langka Lumpuhkan Wisata Bali! John Purna: Turis Terpaksa Bertahan di Hotel, Citra Pulau Dewata Terancam
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG | Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memasuki hari kelima di Bali mulai memukul sektor pariwisata. Tidak hanya memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), kondisi ini juga mengganggu operasional agen perjalanan wisata hingga menyebabkan pembatalan kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi.
Dampaknya mulai dirasakan secara nyata oleh pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kabupaten Tabanan. Keterbatasan BBM membuat sejumlah pengemudi kesulitan mengantarkan wisatawan ke destinasi yang terkenal dengan panorama persawahan terasering tersebut.
Situasi ini mendapat perhatian serius dari Ketua DPC Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Kabupaten Tabanan, I Ketut Purna, yang akrab disapa John Purna. Praktisi sekaligus tokoh senior pariwisata Bali yang menjabat Manajer Operasional DTW Jatiluwih itu mengungkapkan, penurunan kunjungan wisatawan terjadi secara signifikan dalam dua hari terakhir.
Menurutnya, kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih turun sekitar 30 persen pada dua hari sebelumnya. Penurunan tersebut kemudian semakin tajam hingga mendekati 50 persen pada hari berikutnya.
Kondisi itu terjadi karena sejumlah pengemudi tidak memiliki cukup BBM untuk mengoperasikan kendaraan dan mengantar wisatawan menuju destinasi wisata.
” Kita benar-benar merasa dirugikan dengan dampak kelangkaan BBM yang ada di Bali. Dan saya yakin, bukan di tourism saja, suplai makanan juga kayaknya kita akan masalah banget di Bali, kalau terus kelangkaan ini berjalan,” ujar John Purna.
Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela pembukaan dan pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XV ASITA Bali Tahun 2026 bertema Repositioning the Future of Tourism di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Kabupaten Badung, Jumat (16/10/2026).
Kunjungan Anjlok, Karyawan Ikut Terdampak
Dampak kelangkaan BBM tidak hanya dirasakan melalui berkurangnya jumlah wisatawan yang berkunjung. Sejumlah karyawan DTW Jatiluwih juga dilaporkan kesulitan berangkat bekerja akibat keterbatasan bahan bakar.
Di sisi lain, pembatalan kunjungan mulai dirasakan oleh pelaku usaha pariwisata, termasuk restoran yang berada di kawasan Jatiluwih.
John Purna menjelaskan, meskipun reservasi sebelumnya cukup banyak berasal dari wisatawan domestik, gangguan transportasi membuat rencana perjalanan wisatawan tidak dapat terlaksana sebagaimana mestinya.
Informasi pembatalan tersebut diterima dari pemandu wisata (guide) maupun agen perjalanan (travel agent) yang kesulitan menyediakan kendaraan untuk mengantar tamu.
“Memang reservasi yang paling banyak kemarin ke Jatiluwih itu kan datang dari wisatawan domestik. Tapi memang dari reservasi, saya dengar dari restoran yang ada di Jatiluwih yang masuk itu memang banyak sekali juga ada pembatalan untuk datang ke Jatiluwih,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan utama bukan karena wisatawan kehilangan minat terhadap Jatiluwih, melainkan karena keterbatasan BBM yang menghambat mobilitas mereka.
Akibatnya, potensi pendapatan pengelola destinasi, restoran, pengemudi, pemandu wisata, hingga pelaku usaha lain yang bergantung pada kunjungan wisatawan ikut terancam.
Bukan Pindah Destinasi, Wisatawan Justru Bertahan di Hotel
John Purna menegaskan, pembatalan kunjungan ke DTW Jatiluwih akibat kelangkaan BBM tidak serta-merta membuat wisatawan beralih ke destinasi lain di Bali.
Sebaliknya, sebagian wisatawan terpaksa membatalkan perjalanan dan tetap berada di hotel karena tidak tersedia kendaraan dengan pasokan BBM yang memadai untuk mengantarkan mereka ke objek wisata.
Situasi ini dinilai jauh lebih mengkhawatirkan karena wisatawan yang datang ke Bali tentu berharap dapat menikmati berbagai destinasi dan pengalaman wisata yang telah direncanakan sebelumnya.
“Tamu itu berhenti di hotel dia. Itu kan dampaknya jelek banget. Dia sebenarnya ke Bali untuk berkunjung ke objek wisata yang ada di Bali, tapi sekarang tidak bisa. Ini sebenarnya komplain dari tamu sudah mulai banyak,” tegasnya.
John Purna menilai, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kepuasan wisatawan terhadap pengalaman berlibur di Bali.
Jika persoalan berlarut-larut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu destinasi, tetapi juga dapat merembet ke berbagai lini usaha pariwisata yang bergantung pada kelancaran transportasi.
John Purna Peringatkan Citra Bali di Mata Dunia
John Purna mengingatkan bahwa kelangkaan BBM tidak boleh dipandang sebatas persoalan distribusi energi. Bagi Bali sebagai destinasi pariwisata internasional, kelancaran mobilitas wisatawan merupakan bagian penting dari kualitas pelayanan dan pengalaman berlibur.
Ia menilai, situasi tersebut dapat merugikan citra Bali di tengah persaingan dengan destinasi wisata negara lain, seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
Menurutnya, persaingan pariwisata saat ini tidak hanya berlangsung antardaerah di Indonesia, tetapi juga melibatkan berbagai negara yang sama-sama berupaya menarik kunjungan wisatawan mancanegara.
“Nama Bali juga akan jelek. Saat ini, sebenarnya kita bersaing bukan antara pulau di Indonesia saja, sebenarnya kita bersaing banget dengan negara seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan lain sebagainya. Ini akan jelek banget mata Bali di dunia internasional,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta pemerintah dan pihak-pihak yang memiliki kewenangan menangani distribusi BBM agar segera menyelesaikan persoalan tersebut secara serius dan terukur.
John Purna menegaskan, keberlangsungan pariwisata Bali membutuhkan dukungan pasokan energi yang memadai agar aktivitas transportasi, perjalanan wisata, serta operasional berbagai usaha tetap berjalan normal.
Berharap Pasokan BBM Segera Pulih
Mengenai langkah antisipasi di tingkat pengelola destinasi, John Purna mengakui pihaknya memiliki keterbatasan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Pasalnya, ketika pengemudi tidak mendapatkan BBM dan kendaraan tidak dapat beroperasi, pengelola destinasi tidak memiliki banyak pilihan untuk memastikan wisatawan tetap bisa datang.
Ia berharap pemulihan pasokan BBM segera terjadi sehingga perjalanan wisata kembali berjalan dan kunjungan ke DTW Jatiluwih berangsur normal.
John Purna mengaku melihat adanya perubahan kondisi pasokan BBM dibandingkan dua hingga tiga hari sebelumnya yang dinilainya lebih parah. Namun, ia berharap perbaikan tersebut benar-benar berdampak pada mobilitas masyarakat dan wisatawan.
“Mudah-mudahan hari ini kita lihat ada perubahan, besok mungkin saya akan kasih statement lagi tentang penurunan. Mudah-mudahan kemarin saya lihat kunjungannya sudah hampir 50 persen turun, dari 30 persen dua hari yang lalu,” katanya.
Ia juga menyebut wisatawan asal Eropa sebagai salah satu segmen yang banyak mengunjungi DTW Jatiluwih. Karena itu, kelancaran perjalanan menuju destinasi menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pengalaman wisatawan mancanegara.
Musda ASITA Bali Jadi Momentum Suarakan Dampak Krisis
Di sela-sela Musda XV ASITA Bali Tahun 2026, John Purna berharap para pelaku industri pariwisata dapat memperkuat kekompakan dan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi kepada para pemangku kebijakan, termasuk wakil rakyat di Bali.
Menurutnya, dampak kelangkaan BBM sudah cukup serius sehingga diperlukan perhatian bersama dan langkah konkret dari pihak yang berwenang.
Ia berharap forum Musda tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga momentum untuk menyuarakan persoalan aktual yang menghambat operasional industri pariwisata Bali.
John Purna menjelaskan, DPC PUTRI Kabupaten Tabanan menaungi sekitar 10 hingga 13 anggota yang bergerak dalam pengelolaan daya tarik wisata, termasuk sejumlah objek wisata berskala kecil.
Dalam kepengurusan tersebut, Tanah Lot menjabat sebagai bendahara dan Ulun Danu sebagai sekretaris.
Menurutnya, keberlangsungan usaha daya tarik wisata sangat bergantung pada kelancaran arus kunjungan wisatawan. Karena itu, persoalan BBM yang menghambat mobilitas perlu segera ditangani agar kerugian tidak semakin meluas.
Krisis BBM yang berkepanjangan berpotensi menjadi persoalan berantai: kendaraan kesulitan beroperasi, perjalanan wisata dibatalkan, kunjungan destinasi menurun, dan pendapatan pelaku usaha ikut tertekan.
Bagi Bali yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama perekonomian, pemulihan pasokan BBM menjadi kebutuhan mendesak. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya jumlah kunjungan wisatawan hari ini, melainkan juga kepercayaan wisatawan terhadap kesiapan Bali memberikan pengalaman berlibur yang aman, nyaman, dan lancar.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar