Ida Bagus Putu Madeg Apresiasi Pelantikan Dua Wamenhan, Sebut Langkah Visioner Prabowo Perkuat Pertahanan Nasional
- account_circle admin
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA | MATACOMPAS.COM — Penguatan struktur kepemimpinan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melalui pelantikan dua Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat pertahanan nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melantik Jenderal TNI Richard Taruli Horja Tampubolon dan Marsekal TNI Yusuf Jauhari sebagai Wakil Menteri Pertahanan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Jenderal TNI Richard Taruli Horja Tampubolon dipercaya mengemban tugas di bidang strategi, doktrin, dan pembangunan kekuatan pertahanan. Sementara itu, Marsekal TNI Yusuf Jauhari bertugas menangani bidang logistik, industri pertahanan, dan teknologi.
Pelantikan tersebut mendapat apresiasi dari Ida Bagus Putu Madeg, S.H., M.H., hakim purnatugas yang juga menjabat sebagai Penasihat Bidang Hukum DPP Forum Bela Negara.
Menurut Putu Madeg, penempatan dua figur dengan pengalaman dan kompetensi berbeda dalam struktur kepemimpinan Kementerian Pertahanan merupakan langkah visioner untuk memperkuat kapasitas pertahanan Indonesia secara menyeluruh.
Ia menilai, pembagian tugas yang berfokus pada strategi dan pembangunan kekuatan di satu sisi, serta logistik, industri pertahanan, dan teknologi di sisi lain, dapat menjadi fondasi penting bagi percepatan modernisasi pertahanan nasional.
“Selamat mengemban amanah kepada Jenderal TNI Richard Tampubolon dan Marsekal TNI Yusuf Jauhari. Semoga kepercayaan negara ini dijalankan dengan dedikasi, integritas, dan loyalitas penuh untuk mendukung kebijakan strategis pertahanan negara,” ujar Putu Madeg.
Richard Tampubolon dan Penguatan Strategi Pertahanan
Putu Madeg menilai, pengalaman Jenderal TNI Richard Taruli Horja Tampubolon menjadi modal penting dalam menjalankan tugas di bidang strategi, doktrin, dan pembangunan kekuatan pertahanan.
Richard diketahui pernah menjabat sebagai Kepala Staf Umum TNI pada periode 2024–2026 serta Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III pada periode 2023–2024.
Pengalaman tersebut dinilai memberikan bekal dalam memahami kebutuhan operasi gabungan, koordinasi lintas matra, serta pembangunan kekuatan TNI yang terintegrasi.
Menurut Putu Madeg, tantangan pertahanan saat ini tidak hanya berkaitan dengan kesiapan personel dan persenjataan, tetapi juga kemampuan merumuskan strategi yang adaptif terhadap perkembangan ancaman, perubahan teknologi militer, serta pergeseran keseimbangan kekuatan global.
Karena itu, penguatan strategi dan doktrin pertahanan perlu diarahkan untuk memastikan Indonesia memiliki postur pertahanan yang tangguh, terukur, dan sesuai dengan karakteristik geografis negara kepulauan.
Pembangunan kekuatan pertahanan, lanjutnya, juga harus didukung perencanaan jangka panjang yang mampu menyelaraskan kebutuhan operasional TNI, pengembangan teknologi, serta kemampuan industri pertahanan dalam negeri.
Yusuf Jauhari dan Tantangan Kemandirian Industri Pertahanan
Di sisi lain, penunjukan Marsekal TNI Yusuf Jauhari untuk menangani bidang logistik, industri pertahanan, dan teknologi dipandang memiliki arti strategis bagi upaya membangun kemandirian pertahanan Indonesia.
Putu Madeg menilai, ketersediaan logistik, keberlanjutan pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista), penguasaan teknologi, serta penguatan industri pertahanan nasional merupakan elemen penting dalam menjaga kesiapan operasional pertahanan negara.
“Di tengah persaingan teknologi dan industri pertahanan global, Indonesia membutuhkan sosok yang memahami rantai pasok logistik dan transfer teknologi. Marsekal Yusuf Jauhari memiliki pengalaman di bidang logistik pertahanan yang diharapkan dapat mendukung penguatan ekosistem pertahanan nasional,” kata Putu Madeg.
Menurutnya, kemandirian pertahanan tidak cukup diukur dari jumlah alutsista yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan negara menjamin ketersediaan suku cadang, pemeliharaan, dukungan logistik, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan kapasitas industri nasional.
Ketergantungan yang terlalu besar terhadap pemasok luar negeri berpotensi menjadi tantangan ketika terjadi gangguan rantai pasok internasional atau perubahan situasi geopolitik.
Oleh sebab itu, penguatan industri pertahanan dalam negeri perlu ditempatkan sebagai agenda strategis yang berjalan seiring dengan modernisasi alutsista dan peningkatan kemampuan teknologi nasional.
Sinergi Strategi, Teknologi, dan Industri
Lebih lanjut, Putu Madeg memandang bahwa pembagian tugas kedua Wamenhan tersebut berpotensi menciptakan sinergi antara perencanaan strategis pertahanan dan dukungan industri serta logistik.
Strategi dan doktrin yang kuat harus didukung ketersediaan alutsista, kesiapan logistik, penguasaan teknologi, serta kemampuan industri untuk memenuhi kebutuhan pertahanan secara berkelanjutan.
Sebaliknya, pengembangan industri pertahanan juga harus mengacu pada kebutuhan nyata TNI, perkembangan ancaman, dan prioritas pembangunan kekuatan nasional.
Dengan koordinasi yang efektif, kedua bidang tersebut diharapkan mampu memperkuat proses perencanaan pertahanan, meningkatkan efisiensi pengadaan, serta mendorong pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Putu Madeg menilai, keberhasilan penguatan struktur Kementerian Pertahanan nantinya akan sangat ditentukan oleh kemampuan menerjemahkan kebijakan strategis menjadi program yang terukur, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata terhadap kesiapan pertahanan negara.
Pertahanan Modern Harus Berorientasi Jangka Panjang
Di tengah perubahan lingkungan strategis internasional, Indonesia dituntut membangun sistem pertahanan yang tidak hanya kuat dari sisi personel, tetapi juga tangguh dalam aspek teknologi, logistik, industri, dan kemampuan beradaptasi terhadap ancaman baru.
Menurut Putu Madeg, penguatan kepemimpinan di Kementerian Pertahanan menjadi momentum untuk mempercepat pembenahan sistem pertahanan secara menyeluruh.
Ia berharap kedua Wamenhan dapat menjalankan amanah dengan mengedepankan profesionalisme, koordinasi lintas sektor, serta orientasi pada kepentingan nasional.
Modernisasi pertahanan, menurutnya, juga perlu dilaksanakan secara terencana dengan memperhatikan efektivitas anggaran, penguatan kapasitas industri dalam negeri, dan keberlanjutan pengembangan teknologi.
Pelantikan Richard Tampubolon dan Yusuf Jauhari pun diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pertahanan Indonesia dalam menghadapi tantangan masa depan.
Bagi Putu Madeg, pertahanan nasional yang kuat merupakan hasil perpaduan strategi yang matang, personel profesional, dukungan logistik yang andal, serta industri pertahanan yang terus berkembang.
Sinergi seluruh unsur tersebut diharapkan dapat memperkuat kedaulatan negara sekaligus mendukung terwujudnya sistem pertahanan Indonesia yang modern, mandiri, dan berdaya saing.
Pewarta: Ranu
Editor: Ivan Ernawan
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar