Grand Launching Kana Hill, Wayan Disel Astawa Tegaskan Investor Wajib Bersinergi dengan Desa Adat
- account_circle admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG, MATACOMPAS.COM — Kehadiran investasi pariwisata di Bali harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap adat, budaya, dan kearifan lokal. Investor tidak cukup hanya membangun usaha dan mengejar keuntungan, tetapi juga perlu berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat serta menjaga keberlanjutan lingkungan sosial dan budaya Bali.
Pesan tersebut ditegaskan Bendesa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa, S.E., saat memberikan sambutan dalam acara grand launching Kana Hill di Ungasan, Bali, Jumat (23/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Disel Astawa menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kana Hill sebagai bagian dari perkembangan investasi di kawasan Ungasan. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan investasi di Bali tidak dapat dilepaskan dari dukungan masyarakat adat yang selama ini turut menjaga keamanan, kenyamanan, serta kelestarian budaya setempat.
Menurutnya, penting bagi investor dan masyarakat adat untuk membangun pemahaman bersama agar aktivitas usaha dapat berjalan harmonis dan memberikan manfaat bagi semua pihak.
“Bali adalah gula bagi para investor dan wisatawan. Kalau Bali tidak memiliki daya tarik, tidak mungkin para investor berbondong-bondong datang untuk membangun usaha di sini,” ujar Disel Astawa.
Budaya Bali Menjadi Daya Tarik Utama Investasi
Disel Astawa yang juga Wakil Ketua I DPRD Bali menjelaskan, daya tarik pariwisata Bali tidak semata-mata terletak pada keindahan alam maupun fasilitas akomodasi yang ditawarkan kepada wisatawan.
Lebih dari itu, Bali memiliki kekuatan berupa agama, adat istiadat, budaya, serta tradisi gotong royong yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat.
Menurutnya, faktor-faktor tersebut menjadi pembeda Bali dengan destinasi wisata lainnya, termasuk Labuan Bajo yang juga memiliki keindahan alam luar biasa.
Ia berpandangan, wisatawan dan investor memilih Bali bukan hanya karena keindahan pantai atau fasilitas pariwisatanya, tetapi juga karena karakter budaya dan kehidupan masyarakatnya yang memiliki daya tarik tersendiri.
Karena itu, ia mengingatkan agar perkembangan investasi tidak mengabaikan unsur budaya yang menjadi fondasi utama pariwisata Bali.
“Kalau tidak ada budaya, tidak mungkin wisatawan datang ke Bali. Budaya, agama, adat, dan gotong royong itulah yang menjadi daya tarik Bali,” tegasnya.
Ia berharap para investor yang menanamkan modal di Bali memiliki komitmen untuk ikut menjaga nilai-nilai tersebut, sehingga perkembangan usaha tidak justru menggerus identitas budaya masyarakat setempat.
Kontribusi kepada Desa Adat Bukan Sekadar Beban
Dalam sambutannya, Disel Astawa juga menjelaskan pentingnya kontribusi pelaku usaha terhadap desa adat sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitar kawasan investasi.
Ia menuturkan, ketika sebuah usaha pariwisata beroperasi, tanggung jawab menjaga keamanan, ketertiban, serta kenyamanan kawasan juga melekat pada lingkungan tempat usaha tersebut berdiri.
Desa adat, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk menjaga kawasan, melaksanakan kegiatan adat dan keagamaan, serta mempertahankan tradisi yang menjadi bagian dari identitas Bali.
Seluruh kegiatan tersebut membutuhkan dukungan sumber daya dan pembiayaan yang tidak sedikit.
Ia mencontohkan, kegiatan upacara adat dan keagamaan membutuhkan biaya besar, sementara upaya menjaga keamanan lingkungan pariwisata juga memerlukan dukungan operasional, termasuk kegiatan patroli pada malam hari.
Oleh karena itu, ia mengajak investor membangun pola hubungan yang saling menghargai dan menguntungkan, bukan memandang kontribusi kepada desa adat semata-mata sebagai pengeluaran tambahan.
“Ini bukan saling memerah, tetapi saling menghargai. Bagaimana menjaga taksu Bali kalau kita tidak bersama-sama menjaga adat, budaya, keamanan, dan kenyamanan lingkungan?” ungkapnya.
Ia menegaskan, kontribusi tersebut harus dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlanjutan Bali sebagai destinasi pariwisata yang memiliki identitas budaya kuat.
Dorong Penyerapan Tenaga Kerja Lokal
Selain kontribusi terhadap desa adat, Disel Astawa menekankan pentingnya investasi memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat setempat.
Menurutnya, keberadaan usaha pariwisata semestinya membuka kesempatan kerja, mengurangi pengangguran, serta meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar lokasi investasi.
Ia berharap perusahaan yang beroperasi di wilayah Ungasan dapat memberikan ruang bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam aktivitas usaha, sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
Dalam sambutannya, ia juga memaparkan gagasan mengenai dukungan tenaga kerja dan kontribusi operasional bagi desa adat melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia mencontohkan kebutuhan tenaga pendukung untuk membantu aktivitas desa adat, termasuk dalam upaya menjaga keamanan kawasan wisata.
Namun, ia menekankan bahwa pengelolaan kontribusi tersebut perlu dilakukan secara tertib dan transparan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Bagi Disel Astawa, investasi yang ideal bukan hanya menghasilkan keuntungan bagi pemilik usaha, melainkan juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial dan ekonomi di sekitarnya.
Dengan demikian, hubungan antara investor, masyarakat, dan desa adat dapat berkembang menjadi kemitraan yang berkelanjutan.
Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa Adat
Disel Astawa turut menjelaskan bahwa kontribusi yang dihimpun desa adat perlu dikelola melalui mekanisme anggaran yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Ia menyebutkan bahwa dana tersebut dibutuhkan untuk mendukung berbagai kegiatan desa adat, termasuk kegiatan adat dan keagamaan, serta operasional penjagaan keamanan kawasan.
Menurutnya, pengelolaan melalui anggaran pendapatan dan belanja desa adat menjadi bagian penting untuk memastikan penggunaan dana berjalan secara terarah dan transparan.
Ia berharap investor memahami bahwa keberadaan desa adat bukan hanya berkaitan dengan pelaksanaan upacara dan pelestarian tradisi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab menjaga kehidupan sosial masyarakat Bali.
Dengan pemahaman tersebut, ia optimistis hubungan antara pelaku usaha dan masyarakat adat dapat terbangun secara lebih harmonis.
Investasi Harus Memberikan Manfaat bagi Masyarakat
Lebih lanjut, Disel Astawa menyambut positif kehadiran Kana Hill di kawasan Ungasan. Ia berharap investasi tersebut dapat berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian masyarakat.
Menurutnya, pertumbuhan sektor pariwisata perlu diikuti dengan pemerataan manfaat ekonomi agar masyarakat di sekitar kawasan usaha tidak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan investasi.
Ia juga menyinggung kondisi perekonomian Bali yang dinilainya perlu terus dijaga melalui sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Stabilitas ekonomi, keamanan, serta kenyamanan lingkungan menjadi faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan wisatawan dan investor terhadap Bali.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk menjaga suasana kondusif dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang berpotensi merugikan citra pariwisata Bali.
Baginya, menjaga citra Bali bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk investor yang menjalankan usaha di Pulau Dewata.
Jaga Taksu Bali di Tengah Pesatnya Investasi
Menutup sambutannya, Disel Astawa kembali menekankan pentingnya membangun kerja sama yang sehat antara investor dan masyarakat adat.
Ia berharap kehadiran Kana Hill tidak hanya menjadi bagian dari pertumbuhan industri pariwisata di Ungasan, tetapi juga mampu menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dengan masyarakat setempat.
Ia menginginkan investasi dapat memberikan nilai tambah melalui penciptaan lapangan kerja, kontribusi terhadap perekonomian desa, serta dukungan bagi keberlangsungan adat dan budaya Bali.
Menurutnya, kemajuan pariwisata harus berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas dan karakter masyarakat Bali.
Sebab, ketika budaya dan kehidupan masyarakat adat tetap terjaga, Bali akan memiliki daya tarik yang kuat dan berkelanjutan di mata wisatawan maupun investor.
Pesan yang disampaikan dalam grand launching Kana Hill tersebut menjadi pengingat bahwa investasi dan pelestarian budaya bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
Sebaliknya, keduanya perlu berjalan beriringan agar pertumbuhan ekonomi Bali dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi kekuatan utama Pulau Dewata.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar