Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bali » DR Diah Srikandi Jadi Narasumber FGD Kementerian PPPA Bahas Kesehatan Reproduksi Berketahanan Iklim

DR Diah Srikandi Jadi Narasumber FGD Kementerian PPPA Bahas Kesehatan Reproduksi Berketahanan Iklim

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
  • visibility 4
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR, Matakompas.com – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI) yang terdiri dari 5 area prioritas dan 7 sektor stragegis.

RAN GPI disusun untuk memberikan panduan aksi bagi K/L dan Pemerintah Daerah dalam menguatkan langkah-langkah pengendalian perubahan iklim dengan mengintegrasikan perspektif gender dan inklusi sosial serta memunculkan target kesetaraan gender dalam langkah-langkah tersebut.

Dalam upaya menerjemahkan RAN GPI ke tingkat yang lebih teknis, Kementerian PPPA dengan dukungan UNFPA Indonesia saat ini tengah menyusun Strategi Implementasi RAN GPI Sektor 6 untuk Isu Kesehatan Reproduksi.

Strategi Implementasi ini menjadi penting untuk memberikan panduan kepada K/L dan Pemda dalam mengimplementasikan program dan kebijakan reproduksi remaja untuk mendukung kesetaraan gender dan aksi iklim.

Untuk itu, Kementerian PPPA mengadakan FGD Penyusunan Strategi Implementasi RAN GPI Sektor 6 untuk isu kesehatan reproduksi di Sanur Resort Watujimbar, Jalan Danau Tamblingan Nomor 99A, Sanur, Bali, Rabu, 29 Oktober 2025.

DR. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi W.S., SE.,MM., selaku Tim Ahli Gubernur Bali Bidang Perempuan dan Anak menjadi Narasumber FGD Kementerian PPPA dengan mengambil tema “Kesehatan Reproduksi Berketahanan Iklim”.

Dalam pemaparannya, Tim Ahli Gubernur Bali Bidang Perempuan dan Anak, DR. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi W.S., SE.,MM., yang akrab disapa Gek Diah Srikandi menyebutkan Kesehatan Reproduksi berarti kondisi fisik, mental dan sosial yang baik dalam semua hal yang terkait system reproduksi dan prosesnya.

Sementara itu, Berketahanan Iklim adalah kemampuan sistem atau komunitas untuk bertahan, beradaptasi dan pulih dari dampak perubahan iklim (suhu ekstrem, cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, kerusakan lingkungan) dengan tetap menjaga fungsi normal.

“Perubahan iklim tidak hanya soal lingkungan, ia berdampak ke sektor Kesehatan, termasuk Kesehatan reproduksi. Contohnya, suhu ekstrem, bencana alam, kerusakan lingkungan dapat mempengaruhi kehamilan, kesuburan, akses layanan Kesehatan reproduksi,” kata Gek Diah Srikandi.

Dengan memadukan perspektif” Ketahanan Iklim” ke dalam program Kesehatan reproduksi berarti bisamempersiapkan layanan, edukasi dan kebijakan, supaya tetap efektif meskipun terjadi perubahan iklim/kondisi ekstrem.

Lebih lanjut Gek Diah Srikandi menyebutkan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan reproduksi.

– Paparan suhu ektrem (panas atau dingin) pada kehamilan: dapat meningkatkan resiko kelahiran premature, gangguan pertumbuhan janin, hipertensi kehamilan.

– Perubahan iklim mengakibatkan kerusakan alam, polusi, gangguan pangan & gizi serta mempengaruhi status gizi ibu hamil, dan ini berimplikasi Kesehatan reproduksi

Akses layanan kesehatan reproduksi bisa terganggu, saat bencana iklim atau kondisi ekstrem (infrastruktur rusak, transportasi terganggu, prioritas berubah)

“Kerentanan gender dan sosial terkait perempuan, remaja perempuan, kelompok rentan menjadi lebih terdampak terutama di konteks perubahan iklim. Misalnya, di daerah terdampak bencana, kekerasan berbasis gender dan seks (KBGS) meningkat,” terangnya.

Untuk membuat program kesehatan reproduksi menjadi berketahanan iklim, beberapa aspek utama harus diperhatikan :

a. Penilaian kerentanan dan kapasitas

Menilai seberapa rentan komunitas/sistem (ibu hamil, remaja, penyedia layanan) terhadap dampak perubahan iklim misalnya: Lokasi rawan banjir/gelombang panas, infrastruktur Kesehatan lemah, akses transportasi sulit.

b. Adaptasi dan Mitigasi

Adaptasi: menyiapkan sistem layanan kespro yang tahan terhadap cuaca ekstrem. Misalnya fasilitas yang punya alat cadangan, rute evakuasi, layanan mobile, edukasi khusus,

Mitigasi: mengurangi penyebab perubahan iklim juga penting, misalnya fasilitas Kesehatan yang hemat energi, pengelolaan limbah, kebijakan Kesehatan & lingkungan yang bersinergi.

c. Integrasi Lintas Sektor

Kesehatan reproduksi yang berketahanan iklim bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan saja, tapi melibatkan lingkungan, pendidikan, gender, perlindungan sosial, infrastruktur.

Misalnya: program Yayasan IPAS Indonesia yang menggabungkan Kesehatan reproduksi dan krisis iklim di Sulawesi Tengah

d. Edukasi dan Pemberdayaan Komunitas

Masyarakat (termasuk remaja dan Perempuan) perlu memahami dampak perubahan iklim terhadap reproduksi, bagaimana melindungi diri, mengakses layanan.

Edukasi harus kontekstual dan inklusif (memperhatikan gender, sosial ekonomi, penyandang disabilitas).

Beberapa strategi yang bisa diterapkan:

a.Pastikan layanan kesehatan reproduksi (kehamilan, persalinan, KB, infeksi menular seksual) tetap tersedia dalam kondisi darurat iklim (bencana, panas ekstrem, kekeringan)

b. Penguatan infrastruktur kesehatan fasilitas yang tahan banjir, Listrik Cadangan, transportasi darurat, kolaborasi dengan BPBD/Lembaga bencana lainnya.

c.Integrasi data iklim dan kesehatan menggunakan informasi cuaca ekstrem untuk mempredikasi lonjakan kebutuhan layanan, memperkuat sistem peringatan dini.

d. Fokus pada kelompok rentan remaja Perempuan, ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, Masyarakat di daerah terpencil.

e.Peningkatan kualitas gizi dan sanitasi (WASH) sebagai bagian dari ketahanan iklim dan Kesehatan reproduksi.

f. Advokasi Kebijakan Memastikan program Kesehatan reproduksi mencakup aspek perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan

g. Edukasi Masyarakat tentang hubungan antara lingkungan, iklim dan kesehatan reproduksi (misal: bagaimana polusi, panas ekstrem dapat memperngaruhi kehamilan)

h. Monitoring dan evaluasi dengan mengukur intervensi berhasil memperkuat ketahanan, baik di bidang reproduksi maupun kesehatan umum.

Untuk itu, Indonesia sebagai negara kepulauan sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti banjir, gelombang panas, kekeringan. Bahkan, di Bali/Denpasar bisa relevan terhadap wisata, urbanisasi, perubahan lingkungan, perlu adaptasi lokal (akses layanan Kesehatan reproduksi saat bencana, posyandu, bidan, distribusi kontrasepsi, transportasi).

Bahkan, kegiatan ini sangat membutuhkan keterlibatan Pemerintah Paerah, Dinas Kesehatan, lingkungan hidup, organisasi masyarakat untuk menyusun rencana adaptasi yang konstekstual.

Sangatlah penting untuk menggabungkan edukasi di sekolah, komunitas mengenai hubungan antara iklim dan kesehatan reproduksi sehingga generasi muda lebih siap,” urainya.

Kemudian, Gek Diah Srikandi menegaskan perubahan iklim memiliki dampak nyata terhadap kesehatan reproduksi, baik secara langsung (suhu ekstrem, polusi) maupun tidak langsung (akses layanan, gizi, kekerasan).

Untuk itu, program kesehatan reproduksi harus dikembangkan dengan pendekatan ketahanan iklim agar tetap efektif di masa depan.

“Sangat perlu melibatkan berbagai sektor, fokus ke kelompok rentan, penguatan infrastruktur dan edukasi adalah kuncinya. Di Indonesia, termasuk Bali, penting untuk mengintegrasikan isu ini dalam kebijakan lokal dan program komunitas,” pungkasnya. (red).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • HUT ke-35 AAI ON Denpasar Sosialisasikan Coretax Perkuat Pemahaman Pajak Advokat

    HUT ke-35 AAI ON Denpasar Sosialisasikan Coretax Perkuat Pemahaman Pajak Advokat

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com |  Asosiasi Advokat Indonesia Officium Nobile (AAI ON) Denpasar menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-35 di Warung Bandega, Renon, Denpasar, Selasa, 13 Januari 2026. Perayaan UT ke-35 menjadi momentum DPC AAI ON Denpasar dengan melakukan sosialisasi Core Tax Administration System (Coretax). Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan sistem administrasi perpajakan terpadu dan modern kepada […]

  • Polemik Pemagaran Laut di Tangerang, Pimpinan Komisi II DPR RI Akan Panggil Menteri ATR/BPN

    Polemik Pemagaran Laut di Tangerang, Pimpinan Komisi II DPR RI Akan Panggil Menteri ATR/BPN

    • calendar_month Jumat, 24 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 241
    • 0Komentar

    Jarrakpos.com Jakarta – Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Dede Yusuf, menilai kasus pemagaran laut di Tangerang, Banten, sebagai bentuk keteledoran Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Dede menyoroti pemberian izin Hak Guna Bangunan (HGB) di area laut tanpa pengukuran yang memadai. “Laut bukan domain ATR. Namun, ada upaya membuat laut seolah-olah seperti […]

  • Kanwil Kemenkum Jabar Harmonisasi 4 Raperwal Kota Banjar: Perkuat Dasar Hukum Tata Kelola Daerah

    Kanwil Kemenkum Jabar Harmonisasi 4 Raperwal Kota Banjar: Perkuat Dasar Hukum Tata Kelola Daerah

    • calendar_month Rabu, 22 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 167
    • 0Komentar

    JARRAKPOS.COM. BANDUNG – Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Jawa Barat melaksanakan rapat harmonisasi terhadap empat Rancangan Peraturan Wali Kota (Raperwal) Banjar pada Selasa (21/01/2025). Bertempat di Ruang Rapat Sahardjo, kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Kanwil Kemenkum Jabar, Asep Sutandar, didampingi Kepala Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum, Funna Maulia Massaile, bersama Tim Pokja 2 […]

  • Dishub Kabupaten Cirebon Tanggap Cepat Perbaiki Lampu Lalu Lintas Rusak di Pabuaran

    Dishub Kabupaten Cirebon Tanggap Cepat Perbaiki Lampu Lalu Lintas Rusak di Pabuaran

    • calendar_month Senin, 21 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Cirebon, Jarrakpos.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cirebon menunjukkan respon cepat terhadap laporan terkait kerusakan masyarakat lampu lalu lintas (APILL) di kawasan Pabuaran. Dipimpin langsung oleh Kepala Dinas, Hilman Firmansyah, bersama tim pemeliharaan prasarana perlengkapan jalan dari bidang Prasarana, perbaikan dilakukan pada Sabtu (19/4/2025), Sebelum perbaikan di lakukan surve di lokasi oleh tim surve guna […]

  • AKMIL : Peleton 5/Ki C Raih Gelar Peleton Terbaik dalam Penilaian Batalyon Taruna Tk. II

    AKMIL : Peleton 5/Ki C Raih Gelar Peleton Terbaik dalam Penilaian Batalyon Taruna Tk. II

    • calendar_month Senin, 24 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 782
    • 0Komentar

    MAGELANG,JARRAKPOS.COM – Akademi Militer (Akmil) menggelar penilaian Peleton Terbaik Batalyon Taruna Tingkat II (Yontar Dewasa Akmil) dengan penuh semangat dan kompetisi yang ketat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur kemampuan Taruna dalam berbagai aspek, termasuk kebersihan, jasmani, ketangkasan, dan akademik. Komandan Batalyon Taruna Dewasa, Letkol Inf Adhy Irawan, S.I.P., M.H.I., dalam sambutannya saat penyerahan penghargaan menyatakan […]

  • Fitnah : Camat Dituduh Sembunyikan Wanita di Bawah Meja

    Fitnah : Camat Dituduh Sembunyikan Wanita di Bawah Meja

    • calendar_month Sabtu, 11 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 494
    • 0Komentar

    SURABAYA,JARRAKPOS.COM – Sempat diramaikan dengan sebuah video viral memperlihatkan sekelompok orang yang diduga tergabung dalam sebuah organisasi masyarakat (ormas), menggeruduk ruangan kerja Muhammad Khusnul Amin Camat Asem Rowo Surabaya. Dalam video yang viral itu juga dituliskan sebuah narasi bahwa Camat Asem Rowo bersikap arogan hingga dituduh menyembunyikan seorang wanita di bawah meja kerjanya waktu digerebek […]

expand_less