Kejar 400 Ton Gabah per Bulan, Perumda MGS Badung Perkuat Subak Hadapi Ancaman El Nino
- account_circle admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG – Ancaman El Nino mulai menjadi perhatian dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Di tengah potensi gangguan terhadap produksi pertanian dan kenaikan harga beras, Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung justru tengah berpacu memperkuat pasokan bahan baku untuk mengoptimalkan operasional Rice Milling Unit (RMU).
Perumda MGS Badung menargetkan mampu menyerap sedikitnya 400 ton gabah per bulan. Namun, target tersebut hingga kini belum tercapai. Serapan gabah perusahaan masih berada di kisaran 100 hingga 160 ton per bulan.
Direktur Utama Perumda MGS Badung, Kompiang Gede Pasek Wedha, mengatakan optimalisasi RMU sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku. Karena itu, pihaknya terus mencari sumber pasokan, baik dari petani dan subak di Badung maupun melalui kerja sama antardaerah.
“Mudah-mudahan tidak berpengaruh, karena harapan kami butuh pasokan bahan baku dan bahan produksi untuk RMU. Rencananya, kami berharap bisa memenuhi kebutuhan mulai dari 400 ton per bulan,” ujar Pasek Wedha saat ditemui awak media di sela acara Penyampaian Penjelasan Bupati Badung atas Raperda tentang Perubahan APBD Kabupaten Badung Tahun Anggaran 2026 di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor Sekretariat DPRD Kabupaten Badung, Kamis (3/9/2026).
Menurut Pasek Wedha, potensi dampak El Nino terhadap produksi pertanian masih terus dipantau. Perumda MGS Badung tidak ingin bergantung sepenuhnya pada produksi lokal, sehingga penjajakan pasokan dari daerah lain mulai dilakukan.
Sejumlah wilayah di Bali, seperti Tabanan, Bangli hingga Singaraja, menjadi bagian dari pemetaan potensi produksi gabah yang dapat mendukung kebutuhan bahan baku RMU.
“Harapan kami, khususnya di Provinsi Bali dan Kabupaten Badung, dampaknya tidak begitu signifikan,” katanya.
Baru Serap 100–160 Ton
Target serapan 400 ton gabah per bulan bukan tanpa alasan. RMU milik Perumda MGS Badung memiliki kapasitas pengolahan sekitar 2 ton gabah per jam.
Dengan asumsi mesin beroperasi 10 jam sehari selama 20 hari kerja, kapasitas pengolahan dapat mencapai sekitar 400 ton gabah dalam sebulan.
Masalahnya, pasokan yang tersedia saat ini belum mampu memenuhi kapasitas tersebut.
Pasek Wedha mengakui serapan gabah masih berkisar 100 hingga 160 ton per bulan. Kondisi tersebut membuat operasional RMU belum berjalan maksimal.
“Jika tidak optimal, beban listrik dan operasionalnya cukup tinggi, makanya kami terus mengejar pasokan bahan baku,” ujarnya.
Belum optimalnya serapan, lanjut dia, salah satunya disebabkan Perumda MGS masih mencari pola kerja sama yang paling tepat dengan subak maupun antarpekaseh.
Ke depan, perusahaan daerah tersebut bahkan memasang target lebih besar, yakni mampu menyerap sedikitnya 30 persen dari total produksi gabah Kabupaten Badung.
Optimalisasi RMU dinilai penting bukan hanya untuk meningkatkan produksi beras daerah, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan operasional perusahaan.
“Dengan RMU yang optimal, minimal biaya operasional dapat tertutupi dan kami memperoleh keuntungan untuk keberlanjutan operasional,” terangnya.
Perkuat Kemitraan dengan Subak
Strategi memperbesar serapan gabah dilakukan dengan memperkuat hubungan langsung dengan petani melalui kelembagaan subak.
Perumda MGS Badung telah menjalin kerja sama dengan sejumlah subak, di antaranya Subak Pekaseh dan Subak Sempidi.
Untuk wilayah Subak Pekaseh, terdapat sekitar 40 subak yang berpotensi menjadi pemasok. Apabila separuhnya dapat digandeng, terdapat sekitar 20 subak yang bisa menopang kebutuhan bahan baku.
Sementara di kawasan Subak Sempidi terdapat sekitar 60 subak. Jika separuhnya berhasil diajak bekerja sama, sekitar 30 subak berpotensi menjadi pemasok.
Selain menggandeng subak, Perumda MGS Badung juga telah mengikat kontrak melalui pola PMAAS (Agriculture Advance System) di Subak Yang dengan luasan lahan sekitar 50 hektare.
Dari lahan tersebut, produksi diproyeksikan mencapai sekitar 10 hingga 12 ton gabah per hektare.
“Rencananya, hasil panen per hektar berkisar antara 10 hingga 12 ton. Kemarin Pak Bupati dan tim kami juga ikut turun langsung dalam proses penanamannya,” kata Pasek Wedha.
Kerja sama tersebut diharapkan menjadi salah satu sumber pasokan untuk memperkuat ketersediaan gabah sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani.
Dari sisi harga, Perumda MGS sebelumnya menyepakati pembelian gabah di Subak Pekaseh sebesar Rp6.600 per kilogram, sedangkan di Subak Sempidi sebesar Rp6.700 per kilogram.
“Subak Sempidi ini kami harapkan menjadi buffer untuk Puspam, jadi ada nilai tambah atau nilai lebihnya,” ujarnya.
Harga Beras Premium Tembus Rp16.500
Di tengah upaya mengejar pasokan gabah, tantangan lain muncul dari pergerakan harga beras di pasar.
Pasek Wedha menyebut harga beras kualitas premium saat ini telah berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.500 per kilogram. Harga tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp15.000-an.
Sementara Harga Eceran Tertinggi (HET) beras berada di angka Rp13.500 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat Perumda MGS Badung harus mencari titik keseimbangan antara kepentingan petani dan daya beli masyarakat.
Menurut Pasek Wedha, harga gabah tidak bisa ditekan terlalu rendah karena akan berdampak langsung terhadap pendapatan petani. Sebaliknya, jika harga pembelian gabah terlalu tinggi, kenaikan biaya produksi akan ikut mendorong harga beras.
“Kami berharap ke depan harga bisa kembali stabil. Sebab jika harga gabah ditekan, kasihan petaninya. Namun jika kami membeli gabah terlalu mahal, harga beras ikut melonjak. Jadi, harus ada kompromi agar ketemu harga yang pas dan semua pihak sama-sama diuntungkan,” jelasnya.
Siapkan Manajemen Stok
Saat ini, beras hasil produksi Perumda MGS Badung cenderung langsung terserap pasar. Distribusinya dilakukan melalui koperasi, BUMDes, sejumlah Perumda lainnya, serta sebagian kecil disalurkan kepada ASN.
Namun, apabila pasokan gabah nantinya mampu mencapai 400 ton per bulan secara konsisten, Perumda MGS berencana memperkuat sistem penyimpanan dengan menyiapkan gudang beras berkapasitas memadai.
Ketersediaan gudang dinilai penting untuk membangun sistem manajemen stok yang lebih kuat, terutama dalam menghadapi fluktuasi produksi dan harga pangan.
“Saat ini kami belum memiliki gudang beras yang kapasitasnya mencukupi,” ungkapnya.
Bagi Perumda MGS Badung, persoalan pasokan gabah kini bukan sekadar mengejar kapasitas produksi RMU. Lebih jauh, ketersediaan bahan baku menjadi bagian dari upaya menjaga rantai pasok pangan daerah.
Ancaman El Nino, kenaikan harga gabah, meningkatnya harga beras, serta kebutuhan menjaga pendapatan petani menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersamaan.
Karena itu, penguatan kerja sama dengan subak, perluasan jaringan pasokan melalui kerja sama antardaerah, optimalisasi RMU, hingga pembangunan gudang penyimpanan menjadi langkah yang dipersiapkan Perumda MGS Badung.
Pasek Wedha menyebut kenaikan harga beras tersebut telah berlangsung sekitar satu setengah bulan terakhir. Pihaknya berharap kondisi pasar kembali stabil sehingga kepentingan petani, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat dapat berjalan beriringan.
“Apalagi dengan adanya isu El Nino ini. Kami berharap ke depan memiliki gudang agar bisa menerapkan sistem manajemen stok beras yang baik,” tutupnya.
Reporter: Putu W
Redaktur: Ivan Ernawan
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar