Gubernur Koster: Masa Depan Ajeg Bali Ada di Tangan Generasi Muda.
- account_circle Redaksi Bali
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, Matacompas.com – Gubernur Bali Wayan Koster menutup pelaksanaan Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-33 Tingkat Provinsi Bali Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Rabu (16/9/2026).
Mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, pelaksanaan UDG tahun ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan seni, sastra, dan bahasa keagamaan Hindu, tetapi juga menjadi ruang penting untuk memperkuat regenerasi serta menjaga keberlanjutan budaya Bali.
Gubernur Koster mengapresiasi antusiasme masyarakat yang mengikuti UDG, terlebih keterlibatan anak-anak dan generasi muda. Menurutnya, kehadiran generasi muda dalam kegiatan kebudayaan menjadi pertanda bahwa proses pewarisan nilai dan identitas Bali masih terus berlangsung.
Salah satu hal yang mendapat perhatian Koster adalah cara berbusana para peserta. Ia menilai busana yang dikenakan peserta terlihat apik, rapi, sekaligus mencerminkan identitas masyarakat Bali.
“Kalau kita sudah berbusana dengan apik dan rapi, itu juga menjadi identitas krama Bali,” ujar Koster.
Menurutnya, busana tidak semata-mata berkaitan dengan penampilan, tetapi juga menjadi bagian dari ekspresi jiwa dan karakter seseorang. Ia pun mengapresiasi seluruh peserta yang dinilai telah menunjukkan ketertiban sekaligus kecintaan terhadap budaya Bali.
“Kalau semua orang seperti ini, Bali akan menjadi Bali yang tertib dan berbudaya,” tegasnya.
Bangga Generasi Muda Kuasai Bahasa Bali
Koster juga menyampaikan kebanggaannya melihat kemampuan masyarakat Bali, khususnya anak-anak, dalam menggunakan dan melestarikan bahasa Bali.
Di tengah perkembangan zaman, generasi muda Bali dinilai mampu tetap menguasai bahasa Bali sekaligus menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga budaya Bali tidak berarti menutup diri dari perkembangan dunia.
Justru, menurut Koster, masyarakat Bali harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan modernisasi tanpa kehilangan akar budaya dan jati dirinya.
Ia menyinggung fenomena di sejumlah negara ketika generasi mudanya semakin jauh dari identitas budaya akibat derasnya arus modernisasi. Bali, kata dia, harus memiliki fondasi budaya yang kuat.
Hal tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menempatkan pembangunan Bali tidak hanya pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kehidupan, budaya, serta jati diri masyarakat Bali.
UDG Jadi Ruang Regenerasi Budaya
Keterlibatan anak-anak dalam UDG mendapat perhatian khusus dari Gubernur Koster. Menurutnya, pengalaman mengikuti kegiatan kebudayaan sejak usia dini akan membantu menanamkan kecintaan, pemahaman, sekaligus rasa tanggung jawab terhadap budaya Bali.
Anak-anak dan generasi muda yang terlibat dalam UDG, kata Koster, sejatinya sedang membangun jati dirinya sebagai bagian dari masyarakat Bali.
Karena itu, ia optimistis perkembangan teknologi modern tidak akan mematikan kebudayaan Bali sepanjang masyarakat memiliki kesadaran dan fondasi budaya yang kuat.
“Teknologi harus berjalan berdampingan dengan kebudayaan,” demikian pesan yang ditekankan Koster.
Soroti Keberlanjutan Masyarakat Bali
Dalam kesempatan tersebut, Koster juga menyoroti perkembangan demografi masyarakat Bali, termasuk semakin berkurangnya generasi yang menggunakan nama berdasarkan urutan kelahiran seperti Nyoman dan Ketut.
Menurutnya, keberlanjutan budaya Bali tidak dapat dilepaskan dari keberadaan masyarakat Bali sebagai pelaku sekaligus pewaris kebudayaan.
“Siapa yang menjalani ritual dan upacara keagamaan kalau bukan masyarakat Bali?” tegasnya.
Karena itu, penguatan kehidupan masyarakat Bali menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan serta menjalankan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Piala UDG Diminta Lebih Elegan, Hadiah Akan Dinaikkan
Koster juga memberikan sejumlah catatan terhadap penyelenggaraan UDG. Salah satunya berkaitan dengan bentuk piala penghargaan.
Ke depan, ia berharap piala UDG dibuat lebih praktis, elegan, dan berkualitas, namun tetap memiliki ciri khas Bali. Ia juga mendorong agar pembuatan piala melibatkan produk lokal Bali sehingga sekaligus dapat memberikan ruang bagi kreativitas dan menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.
Selain itu, Koster menyampaikan bahwa nilai hadiah bagi para pemenang UDG akan dinaikkan pada penyelenggaraan tahun berikutnya.
Peningkatan apresiasi tersebut diharapkan semakin memberikan motivasi kepada peserta untuk berprestasi sekaligus membuat pelaksanaan UDG semakin hidup dan menarik.
Badung Juara Umum
Pada penutupan UDG ke-33 Tingkat Provinsi Bali Tahun 2026, Kabupaten Badung berhasil meraih predikat Juara Umum.
Badung mengumpulkan 21 Juara I, 11 Juara II, dan 3 Juara III.
Gubernur Koster memberikan apresiasi kepada seluruh peserta, pelatih, pendamping, panitia, serta pemerintah kabupaten/kota yang telah berkontribusi dalam menyukseskan pelaksanaan UDG tahun ini.
Menutup sambutannya, Koster berpesan kepada seluruh peserta, khususnya anak-anak dan generasi muda, agar terus bekerja dengan tulus dan lurus serta senantiasa menjalankan karma yang baik.
Ia mengingatkan bahwa generasi muda yang hadir dalam kegiatan tersebut merupakan calon pemimpin masa depan Bali.
“Masa depan kebudayaan dan ajeg Bali ada di tangan kalian,” pesan Koster.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa menjaga Bali tidak cukup hanya dengan membangun secara fisik. Keberlanjutan Bali juga sangat ditentukan oleh kemampuan generasi mudanya untuk merawat bahasa, seni, tradisi, nilai, etika, dan jati diri budaya Bali di tengah perubahan zaman.
Reporter : Putu Ivan.
Redaktur : Agus Jaya.
Sumber : Rilis Pemprov Bali.
- Penulis: Redaksi Bali









Saat ini belum ada komentar