Dari Santunan Kematian Rp70 Juta hingga Satu Rumah Satu Sarjana, I Wayan Bawa Buktikan Desa Adat Seseh Mampu Sejahterakan Krama
- account_circle admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG – Desa Adat Seseh di Kabupaten Badung terus menunjukkan bahwa desa adat tidak hanya berfungsi sebagai penjaga tradisi dan budaya, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Berbagai program sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi yang dijalankan secara berkelanjutan menjadikan Desa Adat Seseh sebagai salah satu contoh keberhasilan pengelolaan desa adat di Bali.
Di balik berbagai inovasi tersebut, berdiri sosok Bendesa Adat Seseh sekaligus Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bali dari Fraksi PDI Perjuangan, I Wayan Bawa, S.H., yang selama bertahun-tahun konsisten membangun desa dengan filosofi gotong royong, kebersamaan, dan keberlanjutan.
Bagi I Wayan Bawa, kemajuan desa tidak semata diukur dari megahnya pembangunan fisik, melainkan dari sejauh mana masyarakat dapat hidup lebih tenang, memperoleh akses pendidikan yang lebih baik, serta terbantu dalam menghadapi berbagai kebutuhan sosial dan adat.
Salah satu program unggulan yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat adalah pemberian santunan kematian bagi krama Desa Adat Seseh. Program yang telah berjalan sekitar lima hingga enam tahun tersebut memberikan perlindungan melalui skema BPJS Kematian yang didukung pendanaan desa adat.
Melalui program tersebut, keluarga yang ditinggalkan memperoleh santunan sekitar Rp52 juta dari BPJS Kematian. Bantuan tersebut masih ditambah sekitar Rp6,5 juta dari desa dinas, serta apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Badung sebesar Rp10 juta bagi masyarakat yang tertib administrasi kependudukan. Dengan demikian, total bantuan yang diterima keluarga mencapai sekitar Rp70 juta.
Menurut I Wayan Bawa, bantuan tersebut sangat meringankan beban keluarga yang sedang berduka, terutama dalam membiayai rangkaian upacara adat maupun kebutuhan lainnya.
“Ketika ada krama yang meninggal dunia, keluarga tidak lagi terlalu terbebani biaya upacara karena desa adat telah hadir memberikan perlindungan,” ujarnya.
Tak hanya memperhatikan aspek sosial, Desa Adat Seseh juga menaruh perhatian besar terhadap pembangunan sumber daya manusia melalui program “Satu Rumah Minimal Satu Sarjana.” Program yang telah berjalan sekitar enam tahun itu mendorong setiap keluarga agar memiliki minimal satu anak yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.
Hasilnya mulai terlihat. Hampir seluruh lulusan SMA di Desa Adat Seseh kini melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, sementara jumlah sarjana dari desa tersebut terus meningkat setiap tahunnya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi akademik, Desa Adat Seseh memberikan penghargaan sebesar Rp10 juta kepada mahasiswa yang berhasil lulus dengan predikat cum laude.
Tidak hanya mahasiswa, penghargaan juga diberikan kepada siswa SD, SMP, dan SMA yang berhasil menjadi juara umum, juara kelas, maupun menorehkan prestasi akademik dan nonakademik, termasuk di bidang olahraga, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Besaran penghargaan disesuaikan dengan tingkat prestasi yang diraih.
“Penghargaan ini menjadi motivasi agar anak-anak Seseh terus berprestasi dan berani memiliki cita-cita yang lebih tinggi,” kata I Wayan Bawa.
Komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat juga diwujudkan melalui program pembagian daging babi kepada seluruh krama saat Hari Raya Galungan. Tradisi yang telah berjalan ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus pemerataan manfaat ekonomi yang dihasilkan desa adat.
Seluruh program tersebut dapat terlaksana berkat pengelolaan Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) yang mengembangkan berbagai potensi ekonomi desa secara profesional. Keuntungan yang diperoleh kemudian dikembalikan sepenuhnya kepada masyarakat melalui program pendidikan, sosial, adat, dan keagamaan.
Menurut I Wayan Bawa, keberhasilan Desa Adat Seseh tidak lahir secara instan. Fondasinya dibangun dari semangat ngayah yang diwariskan secara turun-temurun. Sejak dahulu masyarakat terbiasa saling membantu dalam setiap kegiatan adat, mulai dari membawa hasil ternak untuk upacara hingga menyumbangkan hasil panen guna mendukung pembangunan pura.
“Kalau dilakukan dengan tulus dan ikhlas, karma baik itu akan kembali menjadi kemakmuran. Sejak tahun 1999 kami tidak pernah berhenti membangun pura, melaksanakan piodalan, maupun berbagai kegiatan adat lainnya,” tuturnya.
Sebagai desa yang memiliki sejumlah pura bersejarah peninggalan Kerajaan Mengwi, Desa Adat Seseh memiliki beban pelaksanaan upacara keagamaan yang cukup besar karena kegiatan adat berlangsung hampir setiap enam bulan sekali. Namun, melalui tata kelola desa adat yang baik serta pengelolaan aset yang produktif, seluruh kewajiban tersebut dapat dijalankan tanpa membebani masyarakat.
I Wayan Bawa juga menegaskan bahwa salah satu kunci keberhasilan desa adalah komitmen menjaga aset desa adat, khususnya tanah adat. Sejak lama masyarakat didorong agar tidak menjual tanah warisan, melainkan memanfaatkannya secara produktif melalui sistem sewa sehingga nilai ekonominya tetap dinikmati oleh generasi mendatang.
Ke depan, Desa Adat Seseh juga tengah menyiapkan program khusus bagi para lanjut usia sebagai bentuk penghormatan kepada generasi yang telah puluhan tahun mengabdikan diri membangun desa adat.
“Para lansia adalah orang-orang yang telah membangun desa ini. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan perhatian melalui program khusus yang sedang kami siapkan,” ungkapnya.
Menutup keterangannya, I Wayan Bawa mengajak seluruh krama Desa Adat Seseh untuk terus menjaga persatuan, semangat gotong royong, serta memanfaatkan berbagai program yang telah disiapkan desa adat.
“Harapan saya sederhana, seluruh krama Seseh bisa hidup lebih sejahtera dan bahagia. Jangan sampai masyarakat merasa berat menjalankan kewajiban adat karena desa adat harus hadir membantu. Begitu juga dengan pendidikan, kami ingin semakin banyak generasi muda yang berprestasi. Selama mereka mau berjuang, desa adat akan terus memberikan dukungan dan penghargaan,” pungkasnya.
- Penulis: admin




Saat ini belum ada komentar