Hari Kesaktian Pancasila, Made Supartha Ajak Generasi Muda Teguhkan Ideologi dan Semangat Kebangsaan
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR | Momentum Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa untuk terus meneguhkan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Dr (c) I Made Supartha, SH, MH, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bali, di Denpasar, Kamis (1/10/2026), dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Menurut Supartha, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Momentum tersebut perlu dimaknai sebagai refleksi sejarah sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
“Peringatan Hari Kesaktian Pancasila hendaknya menjadi momentum untuk kembali meneguhkan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Nilai-nilai Pancasila harus terus hidup dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Supartha di Denpasar, Kamis (1/10/2026).
Ia mengatakan, sejarah perjalanan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa persatuan menjadi salah satu kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, semangat kebangsaan dan gotong royong perlu terus dipelihara di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.
Supartha juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami sejarah bangsa secara utuh dan menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran dalam membangun masa depan Indonesia.
“Generasi muda harus memahami sejarah bangsa. Jangan sampai nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita dilupakan. Pancasila harus menjadi pedoman dalam menjaga persatuan, toleransi, gotong royong dan kehidupan demokratis,” katanya.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan revolusi yang gugur dalam rangkaian peristiwa politik dan kekerasan pada 1965 yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah nasional Indonesia.
Bagi Supartha, penghormatan terhadap para pahlawan bukan hanya diwujudkan melalui upacara dan kegiatan peringatan, tetapi juga melalui komitmen untuk meneruskan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan nyata.
Ia menekankan bahwa Pancasila harus mampu menjadi titik temu di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa maupun pilihan sosial-politik, menurutnya, harus ditempatkan dalam bingkai persatuan Indonesia.
“Jadikan Pancasila sebagai perekat bangsa. Perbedaan jangan menjadi alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang lebih maju, adil dan berdaulat,” tegasnya.
Sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bali, Supartha juga mengingatkan pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan demokrasi, termasuk melalui pengawasan terhadap jalannya pemerintahan serta kebijakan publik yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai momentum mengenang sejarah. Lebih dari itu, peringatan tersebut menjadi ajakan bersama untuk memperkuat komitmen kebangsaan, menjaga persatuan, serta mengamalkan Pancasila secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus diamalkan. Dengan semangat persatuan dan gotong royong, kita jaga Indonesia dan kita teruskan cita-cita para pendiri bangsa,” pungkas Supartha.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar