Gubernur Koster Perpanjang Ganjil-Genap BBM hingga 23 Oktober, Klaim Antrean SPBU di Bali Mulai Normal
- account_circle admin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, MATACOMPAS.COM — Gubernur Bali Wayan Koster memutuskan memperpanjang kebijakan pengaturan kendaraan dengan sistem ganjil-genap untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) hingga Jumat, 23 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga kelancaran distribusi BBM sekaligus memastikan kondisi antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali tetap terkendali.
Koster menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Depot Pertamina Pesanggaran, Denpasar, Senin (19/10/2026).
Menurut Koster, situasi distribusi BBM di Bali mulai menunjukkan perbaikan sejak akhir pekan. Pengaturan kendaraan serta kerja sama antara pemerintah daerah, Pertamina, aparat keamanan, dan masyarakat dinilai membantu mengurai antrean yang sebelumnya terjadi di sejumlah SPBU.
“Dari Sabtu dan Minggu sampai hari ini, secara umum suplai minyak ke SPBU berjalan dengan lancar dan tidak lagi antrean banyak,” ujar Koster.
Ia menegaskan, kondisi yang mulai membaik tersebut harus tetap dijaga agar masyarakat dapat memperoleh BBM secara normal dan aktivitas ekonomi kembali berjalan tanpa terganggu persoalan pasokan.
Ganjil-Genap Diperpanjang hingga Jumat
Koster menjelaskan, kebijakan ganjil-genap yang semula berakhir pada Senin (19/10/2026) akan diperpanjang mulai Selasa hingga Jumat (23/10/2026).
Namun, pemerintah membuka kemungkinan untuk menghentikan kebijakan tersebut lebih awal apabila situasi pasokan dan antrean BBM telah benar-benar normal.
“Kalau sudah bagus sebelum itu, kita akan mengakhiri sekali lagi,” ungkapnya, merujuk pada kemungkinan penghentian kebijakan sebelum batas waktu yang ditentukan.
Perpanjangan ini dimaksudkan sebagai langkah antisipasi agar perbaikan yang telah terlihat dalam beberapa hari terakhir tidak kembali mengalami kemunduran.
Pemerintah Provinsi Bali juga menyatakan siap membantu Pertamina dalam pelaksanaan tugas di lapangan, khususnya untuk memastikan distribusi BBM berjalan lancar dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Stok BBM Bali Disebut Cukup untuk 11–12 Hari
Selain mengatur arus kendaraan, Koster menekankan pentingnya memastikan ketersediaan stok BBM di Bali. Ia menyebut, berdasarkan laporan dalam rapat bersama Menteri ESDM, cadangan BBM di Bali saat ini rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 11 hingga 12 hari ke depan.
Pemerintah juga mendorong agar cadangan tersebut terus ditingkatkan sehingga ketahanan pasokan semakin kuat.
Sebelumnya, Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa gangguan distribusi BBM di Bali berkaitan dengan keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Jawa. Kondisi tersebut sempat menyebabkan penurunan cadangan sekitar tiga hingga empat hari.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah meminta Pertamina meningkatkan cadangan BBM Bali menjadi 15 hari. Jumlah kapal yang melayani distribusi BBM dari Jawa ke Bali juga disebut telah ditambah dari tiga menjadi tujuh unit.
Koster menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mendukung langkah-langkah pemulihan tersebut agar ketersediaan stok di terminal penyimpanan diikuti penyaluran yang lancar ke SPBU.
Koster Ingatkan Dampak terhadap Citra Pariwisata Bali
Dalam kesempatan itu, Koster juga mengingatkan bahwa persoalan BBM di Bali tidak hanya menyangkut kebutuhan energi masyarakat, tetapi turut berkaitan dengan citra pariwisata daerah di mata dunia.
Menurutnya, Bali merupakan destinasi pariwisata internasional yang mendapat perhatian luas dari berbagai negara. Karena itu, gangguan yang terjadi di Pulau Dewata berpotensi menjadi sorotan internasional.
“Bali merupakan destinasi pariwisata utama dunia. Jadi, apa yang terjadi di Bali ini menjadi sorotan besar. Sesuatu yang terjadi di Bali itu langsung mendunia,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh pihak memahami pentingnya menjaga situasi Bali tetap aman, nyaman, dan produktif, terutama ketika persoalan distribusi BBM sempat mengganggu mobilitas masyarakat.
Kelancaran pasokan BBM dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung transportasi, aktivitas usaha, pelayanan wisata, serta pergerakan ekonomi daerah.
Pemerintah Diminta Menjaga Konsistensi Pemulihan
Koster menyampaikan apresiasi kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beserta jajaran yang turun langsung ke Bali untuk memantau penanganan gangguan distribusi BBM. Ia juga mengapresiasi kerja sama seluruh pihak yang membantu mengurai antrean di SPBU.
Meski situasi mulai membaik, pemerintah tetap perlu memastikan pasokan BBM terjaga, distribusi dari terminal ke SPBU berjalan konsisten, dan kebijakan pengaturan kendaraan dilaksanakan secara efektif.
Perpanjangan ganjil-genap hingga 23 Oktober 2026 menjadi salah satu instrumen untuk menjaga kondisi tetap terkendali selama proses pemulihan berlangsung.
Koster berharap, melalui koordinasi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Bali, Pertamina, aparat keamanan, dan masyarakat, persoalan BBM dapat segera dituntaskan sehingga pelayanan kepada masyarakat kembali normal.
Bagi Bali, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari berkurangnya antrean kendaraan, tetapi juga dari terjaminnya pasokan energi dan terjaganya kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah menangani persoalan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan sektor pariwisata.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar