‘The Moon and Its Halo’, Handy Saputra Tuangkan Ekspresi Spontan, Seni Jadi Ruang Terapi dan Menjaga Sisi Kemanusiaan
- account_circle admin
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, MATACOMPAS.COM | Dunia seni rupa tidak selalu harus dibatasi oleh konsep, aliran, maupun pakem tertentu. Seni juga bisa menjadi ruang kebebasan berekspresi, tempat seseorang menuangkan imajinasi, pengalaman, hingga kegelisahan melalui goresan warna dan bentuk.
Hal inilah yang tercermin dalam pameran seni rupa bertajuk “The Moon and Its Halo” karya Handy Saputra yang resmi dibuka di Santrian Gallery, Bali, Jumat (6/11/2026).
Pameran ini menjadi perjalanan ketiga Handy Saputra dalam memperkenalkan karya-karya seni rupanya kepada publik. Sebelumnya, ia menggelar pameran pertama pada 2020 di Rumah Sanur, kemudian pameran kedua pada 2025 di Sika Gallery.
Menariknya, Handy bukanlah seorang seniman yang sejak awal meniti karier secara profesional di dunia seni rupa. Ia justru dikenal sebagai pengusaha di bidang logistik yang telah menjalani profesinya selama kurang lebih 39 tahun. Namun, di tengah kesibukan bisnis, seni lukis menjadi ruang tersendiri untuk mengekspresikan diri sekaligus melepaskan kejenuhan dari rutinitas.
Handy mengungkapkan, keikutsertaannya dalam pameran ketiga ini berawal dari tawaran Dolar Restawo yang mengajaknya mengisi slot pameran. Tawaran tersebut langsung disambut positif.
“Beliau bertanya, Ani, mau tidak? Saya bilang, saya bersedia,” ungkap Handy.
Dalam perjalanan berkaryanya, Handy juga mengalami perkembangan dalam penggunaan medium. Pada pameran pertama, ia lebih banyak menggunakan tinta Cina dan kertas Padia. Sementara pada pameran kedua dan ketiga, eksplorasi lebih banyak dilakukan menggunakan cat akrilik di atas kanvas atau acrylic on canvas.
Karakter visual karya Handy terbilang unik dan ekspresif. Ia banyak menghadirkan figur-figur bernuansa mistis, bentuk deformasi, hingga berbagai representasi binatang dengan wujud tidak lazim, terkadang terlihat lucu, tetapi juga dapat memberikan kesan menyeramkan.
Karakter tersebut menjadi ciri khas yang terus berkembang dalam perjalanan artistiknya.
Bahkan, sejumlah pengamat seni mungkin dapat menghubungkan karya-karyanya dengan kategori outsider art, art brut, maupun aliran Cobra. Namun, Handy memilih untuk tidak terjebak dalam pengelompokan tersebut.
Baginya, karya seni seharusnya memiliki ruang interpretasi yang luas. Setiap orang berhak memberikan penilaian dan menangkap makna berdasarkan perspektif masing-masing.
“Saya tidak ingin terjebak dalam klasifikasi. Silakan saja orang menilai karya saya berdasarkan persepsinya masing-masing,” ujarnya.
Berkarya Tanpa Terikat Konsep
Salah satu hal menarik dari proses kreatif Handy adalah kebiasaannya melukis secara spontan. Ia mengaku tidak selalu memiliki konsep atau pesan khusus sebelum mulai menggoreskan kuas di atas kanvas.
Ketika berhadapan dengan kanvas kosong, ia membiarkan imajinasi mengalir. Apa pun yang muncul dalam pikirannya saat itu dapat langsung dituangkan menjadi gambar.
Bisa berupa figur manusia, topeng, totem, binatang, maupun bentuk-bentuk imajinatif lainnya. Seluruhnya berkembang mengikuti suasana hati dan proses kreatif yang berlangsung secara alami.
Karena itu, ia tidak ingin memberikan batasan mengenai makna setiap lukisan yang dipamerkan.
Baginya, karya-karya tersebut merupakan dokumentasi perjalanan berkesenian, sekaligus refleksi dari proses eksplorasi yang terus berlangsung.
Sebagian besar karya yang ditampilkan dalam pameran kali ini merupakan lukisan terbaru yang diciptakan sepanjang 2026.
Selain menggunakan akrilik di atas kanvas, Handy juga mengembangkan eksplorasi melalui teknik seni cetak atau printmaking, termasuk karya cetakan di atas kertas (print on paper).
Keterlibatannya sebagai patron di DevTool Studio turut membuka ruang eksplorasi yang lebih luas terhadap teknik seni cetak. Ia menilai keberadaan institusi tersebut menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan dan eksplorasi seni printmaking di Bali.
Berawal dari Pertemanan dengan Seniman
Ketertarikan Handy terhadap seni lukis ternyata telah tumbuh sejak duduk di bangku SMA. Salah satu sosok yang memberikan pengaruh besar dalam perjalanan awalnya adalah almarhum Frans Najira.
Handy mengenang bagaimana dirinya dahulu sering menghabiskan waktu di tempat Frans Najira. Hampir setiap minggu, ia duduk bersama, berbincang, sekaligus menyaksikan secara langsung proses kreatif sang seniman.
Dari sebuah kanvas kosong hingga berubah menjadi lukisan utuh, proses itulah yang perlahan membangkitkan ketertarikannya terhadap dunia seni rupa.
Ketertarikan tersebut kemudian berkembang melalui pertemuan dengan berbagai seniman, termasuk aktivitas mengoleksi karya-karya mereka.
Seiring waktu, pergaulannya yang semakin dekat dengan komunitas seniman membuat teman-temannya mulai mendorong Handy untuk ikut melukis.
Bahkan, ketika koleksi lukisannya semakin banyak, teman-temannya kembali memberikan tantangan agar karya-karya tersebut tidak hanya disimpan, tetapi juga diperkenalkan kepada publik melalui pameran.
Dari situlah perjalanan pameran Handy terus berkembang hingga kini memasuki penyelenggaraan ketiga.
Seni sebagai Terapi dan Penjaga Kemanusiaan
Di tengah perjalanan panjang sebagai pengusaha, Handy mengakui seni memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengisi waktu luang.
Baginya, melukis menjadi salah satu bentuk terapi untuk menghindari stres, terutama ketika kejenuhan akibat rutinitas pekerjaan mulai dirasakan.
Ketika memiliki waktu luang, ia kerap mencari suasana baru dengan mengunjungi Ubud atau tempat-tempat lain yang dapat memberikan inspirasi.
Dalam proses tersebut, seni menjadi ruang untuk menyegarkan pikiran, membebaskan imajinasi, sekaligus menghadirkan pengalaman yang berbeda dari dunia bisnis.
Handy juga menilai bahwa seni memiliki peran penting dalam menjaga sisi kemanusiaan seseorang.
Menurutnya, seorang pengusaha tidak harus menjadi pelukis untuk memiliki jiwa seni. Ketertarikan terhadap seni tari, musik, maupun bidang seni lainnya juga dapat menjadi jalan untuk mengasah kepekaan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia menyayangkan ketika aspek humanity atau kemanusiaan dalam kehidupan semakin terkikis oleh rutinitas dan orientasi material.
Karena itu, menurut Handy, dunia usaha dan dunia seni tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi.
“Seni merupakan salah satu alat untuk membantu mengasah sisi kemanusiaan kita,” tegasnya.
Sementara itu, terkait apresiasi terhadap karya-karyanya, Handy mengaku sejumlah lukisan bahkan telah terjual sebelum konferensi pers pameran berlangsung. Ia menyebut hal tersebut sebagai bentuk dukungan dan apresiasi dari teman-teman terhadap perjalanan berkesenian yang dijalaninya.
Namun, lebih dari sekadar transaksi atau nilai ekonomi sebuah karya, ia merasa hal terpenting adalah ketika orang lain dapat menikmati dan memberikan interpretasi terhadap lukisan-lukisannya.
Melalui “The Moon and Its Halo”, Handy Saputra seolah ingin menunjukkan bahwa seni tidak harus selalu lahir dari konsep yang rumit atau mengikuti batasan aliran tertentu.
Seni dapat tumbuh dari spontanitas, pengalaman hidup, pertemanan, hingga kebutuhan manusia untuk menemukan ruang kebebasan di tengah kesibukan.
Pameran ini sekaligus menjadi gambaran bahwa perjalanan seorang pengusaha tidak harus berhenti pada dunia bisnis. Ada ruang lain yang dapat dijelajahi untuk menjaga kreativitas, kepekaan, dan sisi kemanusiaan melalui seni.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar