Gubernur Koster Tegaskan Bandara Ngurah Rai Harus Berkelas Dunia, Pelayanan Penumpang Makin Cepat dan Berkualitas
- account_circle admin
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR — Komitmen meningkatkan kualitas pelayanan di pintu masuk utama Bali kembali ditegaskan Gubernur Bali Wayan Koster. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Koster memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Peningkatan Kualitas Pelayanan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, dengan melibatkan seluruh instansi penyelenggara pelayanan di kawasan bandara.
Rakor tersebut dihadiri General Manager Angkasa Pura, Kepala Kantor Imigrasi, Kepala Otoritas Bandara, Kepala Bea Cukai, serta unsur terkait lainnya. Pertemuan ini menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan yang sebelumnya telah dilakukan pada 23 Agustus 2025 dan 28 Desember 2025.
Evaluasi diarahkan untuk memastikan seluruh mata rantai pelayanan, khususnya di Terminal Kedatangan Internasional, berjalan semakin efektif, cepat, nyaman, bersih, dan memenuhi standar pelayanan internasional.
Sejumlah aspek menjadi perhatian, mulai dari ground handling, pelayanan keimigrasian, bagasi dan ban berjalan, Bea Cukai, sistem komunikasi, keamanan, kelistrikan, toilet, kebersihan, ruang tunggu, fasilitas penumpang, hingga estetika dan kenyamanan terminal.
Rangkaian evaluasi tersebut berawal dari laporan langsung sejumlah penumpang kepada Gubernur Koster pada 2025. Saat itu, waktu tunggu bagasi dinilai terlalu lama, bahkan dapat mencapai lebih dari satu jam. Antrean Imigrasi dan proses pemeriksaan Bea Cukai juga menjadi keluhan yang perlu segera dibenahi.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Koster pada Rakor pertama meminta adanya pembenahan menyeluruh. Salah satu target utamanya adalah memangkas waktu tunggu bagasi dari sekitar 1,5 jam menjadi 30–45 menit. Selain itu, pelayanan Imigrasi dan Bea Cukai diminta semakin cepat dan efisien.
Koster juga mendorong penggantian ban berjalan bagasi yang telah berusia tua, pembenahan toilet, penyediaan kursi bagi penumpang yang menunggu bagasi, penggantian furnitur lama di area Bea Cukai, peningkatan fasilitas komunikasi, serta perbaikan kebersihan dan kualitas penerangan.
Seluruh instansi penyelenggara pelayanan kemudian diminta menyusun model dan langkah konkret perbaikan sistem pelayanan untuk dilaporkan pada rapat koordinasi berikutnya.
Pada Rakor kedua, 28 Desember 2025, masing-masing instansi menyampaikan perkembangan pembenahan kepada Gubernur Bali. Koster menyetujui berbagai usulan perbaikan dan meminta seluruh langkah tersebut dilaksanakan secara konsisten serta bertanggung jawab.
Kini, hasil pembenahan tersebut mulai terlihat.
Dalam Rakor ketiga pada 15 Agustus 2026, seluruh instansi melaporkan capaian peningkatan pelayanan yang telah dilakukan. Salah satu perkembangan paling signifikan terlihat dari waktu tunggu bagasi.
Untuk pesawat berukuran sedang dan kecil, waktu tunggu bagasi kini berada pada kisaran 13–30 menit. Sementara untuk pesawat besar dengan jumlah penumpang yang lebih banyak, waktu tunggu berada pada kisaran 18–40 menit.
Perbaikan juga terlihat dalam pelayanan keimigrasian. Penggunaan autogate dan paspor elektronik membuat proses pemeriksaan penumpang menjadi jauh lebih cepat. Kendati demikian, masih terdapat sejumlah negara yang menggunakan paspor biasa sehingga membutuhkan mekanisme pemeriksaan berbeda, salah satunya penumpang dari India.
Dari sisi fasilitas, kondisi terminal juga dilaporkan semakin bersih dan tertata. Sejumlah pembenahan fasilitas telah dilakukan, sementara penggantian toilet yang sudah tua, pengadaan furnitur, penambahan petugas pelayanan, serta berbagai perbaikan lainnya telah diprogramkan.
Atas capaian tersebut, Gubernur Koster memberikan apresiasi kepada seluruh instansi yang telah bekerja keras melakukan pembenahan.
Menurut Koster, peningkatan kualitas pelayanan bukan pekerjaan yang selesai hanya dengan satu kali evaluasi. Pelayanan yang sudah baik harus dipertahankan, sementara berbagai kekurangan yang masih ditemukan harus segera diperbaiki.
“Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai merupakan pintu terdepan Bali,” demikian penekanan Koster dalam arahannya.
Posisi tersebut, kata Koster, membuat bandara memiliki peran yang sangat strategis dalam memberikan kesan pertama kepada wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik yang datang ke Bali.
Bali merupakan salah satu destinasi wisata utama dunia sekaligus etalase Indonesia di mata internasional. Karena itu, kualitas pelayanan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan penumpang, tetapi juga menyangkut citra Bali dan Indonesia secara keseluruhan.
Koster menegaskan bahwa Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai harus mampu tampil sebagai bandara berkelas dunia, dengan menerapkan standar pelayanan yang mampu bersaing secara global.
Urgensi peningkatan kualitas tersebut semakin besar jika melihat tingginya mobilitas wisatawan yang melalui bandara. Sepanjang 2025, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai melayani kedatangan sekitar 7,05 juta wisatawan mancanegara, atau sekitar 45,8 persen dari total 15,39 juta wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia, serta melayani lebih dari 9 juta wisatawan domestik.
Angka tersebut menunjukkan betapa strategisnya posisi Bandara Ngurah Rai dalam menopang sektor pariwisata Bali dan nasional.
Bagi Bali, pelayanan bandara yang cepat, nyaman, aman, bersih, dan profesional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya membangun pariwisata yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Koster juga menekankan bahwa pariwisata Bali tidak hanya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional sekaligus perolehan devisa dari sektor pariwisata Indonesia.
Karena itu, pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan dituntut untuk menjaga kualitas pelayanan secara berkelanjutan, terlebih menghadapi dinamika dan persaingan industri pariwisata dunia yang terus berkembang.
Sebagai wakil pemerintah pusat di daerah, Gubernur Koster memastikan koordinasi lintas instansi akan terus dilakukan secara rutin. Evaluasi tidak berhenti pada capaian yang telah diraih, tetapi menjadi mekanisme untuk memastikan setiap kekurangan dapat segera ditindaklanjuti.
Pesannya jelas: pelayanan yang sudah baik harus dipertahankan, yang masih kurang harus diperbaiki, dan Bandara Ngurah Rai harus terus bergerak menuju standar pelayanan kelas dunia.
Dengan pembenahan yang dilakukan secara konsisten, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai diharapkan tidak sekadar menjadi pintu masuk Bali, tetapi juga menjadi representasi wajah Bali dan Indonesia yang profesional, nyaman, modern, dan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi setiap wisatawan yang datang.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar