Jelang Kriyanusa 2026, Ny. Putri Koster Tekankan IKM Bali: Kreatif Boleh, Menjiplak Jangan.
- account_circle Redaksi Bali
- calendar_month 50 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, Matakompas.com – Kreativitas menjadi modal penting bagi industri kecil dan menengah (IKM) Bali untuk menembus pasar yang semakin kompetitif. Namun, kreativitas tanpa identitas dan penghormatan terhadap orisinalitas justru dapat menjadi persoalan baru.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mengingatkan para perajin dan pelaku IKM Bali agar terus berinovasi dengan menggali kekayaan seni, budaya, dan warisan leluhur. Di tengah tuntutan pasar yang terus berkembang, para perajin diminta tetap menjaga karakter serta keaslian karya.
Pesan tersebut disampaikan Ny. Putri Koster saat memimpin rapat persiapan keikutsertaan Dekranasda Provinsi Bali dalam Pameran Kriyanusa 2026 di Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, Bali memiliki sumber inspirasi yang tidak pernah habis. Seni, tradisi, filosofi, serta warisan leluhur merupakan kekuatan yang dapat diterjemahkan menjadi produk kriya bernilai ekonomi sekaligus memiliki identitas yang kuat.
Karena itu, ia mendorong perajin untuk tidak berhenti berkreasi. Namun, inovasi tersebut harus dibangun dari kekuatan dan karakter sendiri, bukan dengan mengambil atau menjiplak karya orang lain.
«“Untuk mampu bersaing di segala lini, kita tentu harus terus berkreasi dan kreatif mengembangkan karya-karya seni serta warisan leluhur. Tetapi, jangan sampai merusak produk orang lain,” tegasnya.»
Ny. Putri Koster juga meminta persiapan pameran dilakukan secara matang, termasuk dalam hal penataan produk. Sebanyak 23 IKM Bali yang akan berpartisipasi diminta mengelompokkan produk berdasarkan jenis kerajinan sehingga display pameran terlihat lebih rapi, terarah, dan menarik.
Penataan tersebut sekaligus diharapkan memudahkan pengunjung mengenali karakter produk yang ditawarkan. Menurutnya, pameran bukan sekadar ajang memajang produk, tetapi juga ruang untuk membangun komunikasi dengan pasar dan memperkenalkan kekuatan kerajinan Bali.
Ia meminta para peserta membawa karya-karya terbaik dan memilih produk yang benar-benar sesuai dengan karakter serta kebutuhan pasar di lokasi pameran.
«“Momentum ini kita gunakan untuk memperkenalkan karya lokal kita. Peserta pameran saya minta memilih karya terbaik sesuai dengan wilayah atau lokasi pameran agar produk yang dibawa tepat sasaran sekaligus memudahkan kita dalam menawarkan produk,” ungkapnya.»

Bali Bawa Kriya Berakar Tradisi
Pameran Kriyanusa 2026 dijadwalkan berlangsung pada 26–30 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.
Dalam ajang tersebut, 23 IKM asal Bali akan membawa beragam produk kerajinan unggulan. Keikutsertaan Bali menjadi kesempatan strategis untuk memperkenalkan karya perajin lokal kepada pasar yang lebih luas sekaligus membuka peluang jejaring dan pengembangan usaha.
Lebih dari sekadar membawa produk ke luar daerah, kehadiran IKM Bali di Kriyanusa diharapkan mampu memperlihatkan bahwa kriya Bali memiliki kemampuan untuk bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Wiryanata, mengatakan produk yang dibawa dalam pameran merupakan kerajinan tradisional yang memiliki nilai estetika dan budaya, mengandung unsur tradisi, serta mencerminkan kearifan lokal Bali.
Beragam produk tersebut meliputi kerajinan anyaman dan kayu, produk fesyen berbahan tenun tradisional Bali, serta kerajinan berbahan logam dan kulit.
Menurutnya, pemilihan produk dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan karya dalam merepresentasikan kekayaan kriya Bali. Di sisi lain, produk yang ditampilkan juga diharapkan mampu menunjukkan bagaimana para perajin mengolah warisan tradisional menjadi karya yang memiliki nilai tambah dan relevan dengan kebutuhan pasar.
Kriyanusa 2026 pun menjadi panggung bagi Bali untuk menunjukkan wajah baru industri kriya: tetap berakar pada tradisi, namun berani berinovasi; tetap membawa identitas lokal, namun mampu berbicara di pasar nasional.
Dengan kekayaan budaya sebagai sumber inspirasi dan kreativitas sebagai kekuatan, para perajin Bali diharapkan tidak sekadar menjadi pengikut tren, tetapi mampu menciptakan karya yang memiliki karakter sendiri dan menjadi identitas yang membedakan produk Bali dari daerah lainnya. (red).
- Penulis: Redaksi Bali









Saat ini belum ada komentar