Breaking News
light_mode
Trending Tags

Lebih dari 1.000 Warga Giliraja Antusias Saksikan Kerapan Sapi Betina

  • account_circle Admin Jakarta
  • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
  • visibility 28
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Matacompas.com Sumenap – Lebih dari 1.000 warga Pulau Giliraja, Kabupaten Sumenep, antusias menyaksikan pagelaran kerapan sapi betina yang digelar secara mandiri oleh masyarakat. Mengusung tema “Merawat Bumi, Menjaga Jagat”, kegiatan tersebut berlangsung di kediaman Selor Margosono dan diikuti tujuh rombongan komunitas kerapan sapi betina.

Bagi masyarakat Giliraja, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan. Kerapan sapi betina menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dirawat dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketua pelaksana kegiatan, Selor Margosono, mengatakan pagelaran tersebut digelar dengan semangat mempertahankan warisan leluhur sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga Pulau Giliraja.

“Yang paling utama adalah mempertahankan warisan leluhur. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk menjalin silaturahmi antarwarga pulau sekaligus memperkenalkan budaya dan seni kerapan sapi kepada masyarakat luas,” ujar Selor.

Menurut Selor, tema “Merawat Bumi, Menjaga Jagat” sengaja diangkat untuk mengingatkan bahwa tradisi masyarakat tidak lahir dari ruang kosong. Kerapan sapi betina memiliki hubungan dengan kehidupan agraris masyarakat Madura, ketika sapi menjadi bagian dari aktivitas mengolah tanah dan membajak lahan.

Karena itu, merawat tradisi juga berarti merawat ingatan kolektif tentang hubungan manusia dengan tanah dan alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Kalau bicara sapi betina, kita tidak bisa melepaskannya dari kehidupan masyarakat yang dekat dengan pertanian. Dahulu sapi digunakan untuk membantu membajak dan mengolah tanah. Jadi, merawat tradisi ini juga berarti menjaga hubungan kita dengan bumi, dengan kehidupan dan dengan warisan leluhur,” katanya.

Kaitan tersebut memiliki pijakan dalam sejarah budaya Madura. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud mencatat bahwa tradisi sapi sonok berkembang dari kultur agraris masyarakat Madura. Setelah digunakan untuk membajak ladang, sapi betina dirawat dan dimandikan, yang kemudian berkembang menjadi tradisi menampilkan keindahan dan keserasian pasangan sapi. Sapi Sonok sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013.

Perpaduan Sapi Sonok dan Kerapan

Ketua Komunitas Kerapan Sapi Betina Karya Family, Baidar, yang sekaligus menjadi tuan rumah dalam pagelaran tersebut, mengatakan kerapan sapi betina di Giliraja memiliki keunikan tersendiri.

Menurutnya, kerapan sapi betina berbeda dari kerapan sapi yang selama ini lebih dikenal masyarakat Madura, yang umumnya menggunakan sapi jantan. Di sisi lain, sapi sonok lebih menonjolkan keindahan, perawatan, hiasan dan keserasian langkah sapi betina.

Sementara di Giliraja, unsur tersebut dipadukan dengan kemampuan sapi betina untuk berlari atau dikerapan.

“Kerapan sapi betina ini menjadi salah satu yang unik di Pulau Giliraja. Biasanya kerapan menggunakan sapi jantan. Kalau sapi sonok, sapi betina lebih banyak dihias dan ditampilkan keindahan serta keserasian jalannya. Di sini sapi betina bukan hanya dihias dan ditata, tetapi juga dikerapan atau dipacu untuk berlari,” kata Baidar.

Menurut Baidar, perpaduan tersebut menjadikan kerapan sapi betina sebagai ekspresi budaya yang khas bagi masyarakat Giliraja. Sapi betina tidak hanya menjadi objek tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat dan sejarah pertanian di pulau tersebut.

“Jadi ada perpaduan antara sapi sonok dan kerapan. Sapinya dihias, ditata jalannya, tetapi juga dikerapan. Ini yang menjadi keunikan tersendiri,” ujarnya.

Baidar menambahkan, antusiasme masyarakat yang mencapai lebih dari 1.000 orang menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat kuat di tengah kehidupan warga.

“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Bagi kami ini bukan hanya hiburan, tetapi kesenian dan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang. Karena itu masyarakat merasa memiliki dan ikut menjaga supaya tradisi ini tidak hilang,” katanya.

Keberadaan kerapan sapi betina di Giliraja sendiri bukan hal baru. Pemberitaan sebelumnya mencatat bahwa kerapan sapi betina memang menjadi budaya lokal masyarakat Pulau Giliraja. Dalam pelaksanaannya, pasangan sapi betina dihias dengan berbagai aksesori dan dilengkapi perangkat yang berkaitan dengan aktivitas membajak sawah sebelum kemudian dibawa ke arena untuk berlari.

Tingginya partisipasi masyarakat dalam pagelaran kali ini memperlihatkan bahwa kebudayaan lokal masih mampu menjadi ruang perjumpaan masyarakat. Tujuh rombongan komunitas yang hadir tidak hanya membawa sapi masing-masing, tetapi juga membawa semangat untuk menjaga sebuah tradisi agar tetap hidup.

Di tengah perubahan zaman, masyarakat Giliraja memilih untuk tidak membiarkan warisan leluhurnya berhenti sebagai cerita masa lalu. Kerapan sapi betina dirawat melalui praktik kebudayaan yang terus dilakukan, dikenalkan kepada masyarakat dan diharapkan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Semangat itulah yang kemudian menemukan maknanya dalam tema “Merawat Bumi, Menjaga Jagat”: menjaga kebudayaan bukan sekadar mempertahankan sebuah pertunjukan, tetapi juga merawat ingatan tentang bagaimana masyarakat, tanah, hewan, pertanian dan kehidupan sosial pernah tumbuh dalam satu kesatuan.

  • Penulis: Admin Jakarta

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dukung Pencegahan Kecurangan JKN-KIS, Pemkab Cirebon Komitmen Mudahkan Akses Kesehatan

    Dukung Pencegahan Kecurangan JKN-KIS, Pemkab Cirebon Komitmen Mudahkan Akses Kesehatan

    • calendar_month Jumat, 14 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 193
    • 0Komentar

    CIREBON, JARRAKPOS.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon terus menyempurnakan pengelolaan jaminan kesehatan untuk memberikan kemudahan layanan bagi masyarakat. Pemkab Cirebon terus berkoordinasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan demi suksesnya program jaminan kesehatan. Hal itu disampaikan Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya saat menghadiri acara sosialisasi perjanjian kerja sama fasilitas kesehatan tingkat pertama dan […]

  • Temukan Pelanggaran Tata Ruang di Kawasan UNESCO, Pansus TRAP DPRD Bali Segel Billy’s Soka dan Gong Jatiluwih

    Temukan Pelanggaran Tata Ruang di Kawasan UNESCO, Pansus TRAP DPRD Bali Segel Billy’s Soka dan Gong Jatiluwih

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 17
    • 0Komentar

    TABANAN, Matakompas.com – Panitia Khusus (Pansus) Tata Ruang, Aset dan Perizinan (TRAP) DPRD Bali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kawasan Jatiluwih, Tabanan, yang merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO. Sidak ini dilakukan untuk menindaklanjuti sejumlah laporan terkait pelanggaran aturan yang dapat merusak keaslian kawasan tersebut. Dalam sidak yang berlangsung pada Rabu, 2 Desember 2025, […]

  • RDP Pansus TRAP Bali Soroti Tata Ruang Pecatu, Luwir Wiana: Regulasi Harus Ditegakkan

    RDP Pansus TRAP Bali Soroti Tata Ruang Pecatu, Luwir Wiana: Regulasi Harus Ditegakkan

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 26
    • 0Komentar

    DENPASAR | Anggota DPRD Kabupaten Badung, I Wayan Luwir Wiana menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) sekaligus pendalaman materi dari Panitia Khusus (Pansus) DPRD Provinsi Bali tentang Penegakan Peraturan Daerah Terkait Tata Ruang, Aset Daerah dan Perizinan (TRAP) di Ruang Rapat Gabungan Lantai III, Gedung DPRD Provinsi Bali, Kamis, 25 Juni 2026. Dalam RDP tersebut, Luwir […]

  • Buku “Indonesia Naik Kelas” Ungkap Strategi Keluar dari Middle Income Trap

    Buku “Indonesia Naik Kelas” Ungkap Strategi Keluar dari Middle Income Trap

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 28
    • 0Komentar

    JAKARTA, Matakompas.com | Upaya memperkuat arah pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 kembali ditegaskan melalui peluncuran buku terbaru Wakil Direktur Utama Mind ID, Dany Amrul Ichdan, berjudul Indonesia Naik Kelas. Buku setebal 712 halaman yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas dan Gramedia ini mengulas secara komprehensif pentingnya hilirisasi industri sebagai strategi bangsa keluar dari jebakan negara berpendapatan […]

  • HUT ke-68 Bali dan HUT ke-81 RI, Cuhok Ajak Bersatu Bangun Bali dan Indonesia Lebih Maju

    HUT ke-68 Bali dan HUT ke-81 RI, Cuhok Ajak Bersatu Bangun Bali dan Indonesia Lebih Maju

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 23
    • 0Komentar

    JEMBRANA – Momentum Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk memperkuat persatuan serta semangat bersama dalam membangun daerah dan bangsa. Ajakan tersebut disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Jembrana, I Ketut Suastika atau akrab disapa Cuhok, saat ditemui di Kantor DPRD Kabupaten Jembrana, Jumat (14/8/2026). Mengawali pesannya […]

  • Dr. Somvir Minta Polda Bali Susun Aturan Aktivitas Warga Saat Nyepi dan Idul Fitri Berdekatan

    Dr. Somvir Minta Polda Bali Susun Aturan Aktivitas Warga Saat Nyepi dan Idul Fitri Berdekatan

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com | Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bali sekaligus Ketua Fraksi Demokrat-NasDem, Dr. Somvir meminta aparat keamanan segera menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas terkait aktivitas masyarakat apabila perayaan Hari Raya Nyepi berdekatan dengan Idul Fitri. Hal tersebut dinilai penting untuk menghindari kebingungan ditengah masyarakat, mengingat hingga kini kepastian tanggal Idulfitri masih menunggu […]

expand_less