Breaking News
light_mode
Trending Tags

Lebih dari 1.000 Warga Giliraja Antusias Saksikan Kerapan Sapi Betina

  • account_circle Admin Jakarta
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 6
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Matacompas.com Sumenap – Lebih dari 1.000 warga Pulau Giliraja, Kabupaten Sumenep, antusias menyaksikan pagelaran kerapan sapi betina yang digelar secara mandiri oleh masyarakat. Mengusung tema “Merawat Bumi, Menjaga Jagat”, kegiatan tersebut berlangsung di kediaman Selor Margosono dan diikuti tujuh rombongan komunitas kerapan sapi betina.

Bagi masyarakat Giliraja, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan. Kerapan sapi betina menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dirawat dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketua pelaksana kegiatan, Selor Margosono, mengatakan pagelaran tersebut digelar dengan semangat mempertahankan warisan leluhur sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga Pulau Giliraja.

“Yang paling utama adalah mempertahankan warisan leluhur. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk menjalin silaturahmi antarwarga pulau sekaligus memperkenalkan budaya dan seni kerapan sapi kepada masyarakat luas,” ujar Selor.

Menurut Selor, tema “Merawat Bumi, Menjaga Jagat” sengaja diangkat untuk mengingatkan bahwa tradisi masyarakat tidak lahir dari ruang kosong. Kerapan sapi betina memiliki hubungan dengan kehidupan agraris masyarakat Madura, ketika sapi menjadi bagian dari aktivitas mengolah tanah dan membajak lahan.

Karena itu, merawat tradisi juga berarti merawat ingatan kolektif tentang hubungan manusia dengan tanah dan alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Kalau bicara sapi betina, kita tidak bisa melepaskannya dari kehidupan masyarakat yang dekat dengan pertanian. Dahulu sapi digunakan untuk membantu membajak dan mengolah tanah. Jadi, merawat tradisi ini juga berarti menjaga hubungan kita dengan bumi, dengan kehidupan dan dengan warisan leluhur,” katanya.

Kaitan tersebut memiliki pijakan dalam sejarah budaya Madura. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud mencatat bahwa tradisi sapi sonok berkembang dari kultur agraris masyarakat Madura. Setelah digunakan untuk membajak ladang, sapi betina dirawat dan dimandikan, yang kemudian berkembang menjadi tradisi menampilkan keindahan dan keserasian pasangan sapi. Sapi Sonok sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013.

Perpaduan Sapi Sonok dan Kerapan

Ketua Komunitas Kerapan Sapi Betina Karya Family, Baidar, yang sekaligus menjadi tuan rumah dalam pagelaran tersebut, mengatakan kerapan sapi betina di Giliraja memiliki keunikan tersendiri.

Menurutnya, kerapan sapi betina berbeda dari kerapan sapi yang selama ini lebih dikenal masyarakat Madura, yang umumnya menggunakan sapi jantan. Di sisi lain, sapi sonok lebih menonjolkan keindahan, perawatan, hiasan dan keserasian langkah sapi betina.

Sementara di Giliraja, unsur tersebut dipadukan dengan kemampuan sapi betina untuk berlari atau dikerapan.

“Kerapan sapi betina ini menjadi salah satu yang unik di Pulau Giliraja. Biasanya kerapan menggunakan sapi jantan. Kalau sapi sonok, sapi betina lebih banyak dihias dan ditampilkan keindahan serta keserasian jalannya. Di sini sapi betina bukan hanya dihias dan ditata, tetapi juga dikerapan atau dipacu untuk berlari,” kata Baidar.

Menurut Baidar, perpaduan tersebut menjadikan kerapan sapi betina sebagai ekspresi budaya yang khas bagi masyarakat Giliraja. Sapi betina tidak hanya menjadi objek tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat dan sejarah pertanian di pulau tersebut.

“Jadi ada perpaduan antara sapi sonok dan kerapan. Sapinya dihias, ditata jalannya, tetapi juga dikerapan. Ini yang menjadi keunikan tersendiri,” ujarnya.

Baidar menambahkan, antusiasme masyarakat yang mencapai lebih dari 1.000 orang menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat kuat di tengah kehidupan warga.

“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Bagi kami ini bukan hanya hiburan, tetapi kesenian dan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang. Karena itu masyarakat merasa memiliki dan ikut menjaga supaya tradisi ini tidak hilang,” katanya.

Keberadaan kerapan sapi betina di Giliraja sendiri bukan hal baru. Pemberitaan sebelumnya mencatat bahwa kerapan sapi betina memang menjadi budaya lokal masyarakat Pulau Giliraja. Dalam pelaksanaannya, pasangan sapi betina dihias dengan berbagai aksesori dan dilengkapi perangkat yang berkaitan dengan aktivitas membajak sawah sebelum kemudian dibawa ke arena untuk berlari.

Tingginya partisipasi masyarakat dalam pagelaran kali ini memperlihatkan bahwa kebudayaan lokal masih mampu menjadi ruang perjumpaan masyarakat. Tujuh rombongan komunitas yang hadir tidak hanya membawa sapi masing-masing, tetapi juga membawa semangat untuk menjaga sebuah tradisi agar tetap hidup.

Di tengah perubahan zaman, masyarakat Giliraja memilih untuk tidak membiarkan warisan leluhurnya berhenti sebagai cerita masa lalu. Kerapan sapi betina dirawat melalui praktik kebudayaan yang terus dilakukan, dikenalkan kepada masyarakat dan diharapkan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Semangat itulah yang kemudian menemukan maknanya dalam tema “Merawat Bumi, Menjaga Jagat”: menjaga kebudayaan bukan sekadar mempertahankan sebuah pertunjukan, tetapi juga merawat ingatan tentang bagaimana masyarakat, tanah, hewan, pertanian dan kehidupan sosial pernah tumbuh dalam satu kesatuan.

  • Penulis: Admin Jakarta

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kanwil Kemenkum Jabar Ikuti Forum Pendalaman Materi Perancang PP di Awal Tahun 2025

    Kanwil Kemenkum Jabar Ikuti Forum Pendalaman Materi Perancang PP di Awal Tahun 2025

    • calendar_month Selasa, 14 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 192
    • 0Komentar

    JARRAKPOS.COM. BANDUNG – Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Barat (Kanwil Kemenkum Jabar) melalui Subbidang FPPHD di bawah Divisi P3H pada pagi ini mengikuti jalannya kegiatan Forum Pendalaman Materi Perancang Peraturan Perundang-undangan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan (Ditjen PP) secara virtual melalui Zoom Meeting (Selasa, 14/01/2025). Dari ruang rapat Sahardjo, Kanwil Jabar, Kepala Kantor […]

  • Saat Koster Gaungkan Hijau Bali, BTID Tersorot Dugaan Pembabatan Mangrove

    Saat Koster Gaungkan Hijau Bali, BTID Tersorot Dugaan Pembabatan Mangrove

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 14
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com — Komitmen pelestarian lingkungan kembali ditegaskan Gubernur Bali, Wayan Koster, dengan turun langsung menanam mangrove bersama Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung RI, Prof. Reda Manthovani, di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung, Sabtu (25/4) pagi. Kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Wali Kota […]

  • Pemkab Cirebon Perjuangkan Kejelasan Status 1.737 PPPK

    Pemkab Cirebon Perjuangkan Kejelasan Status 1.737 PPPK

    • calendar_month Sabtu, 15 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 767
    • 0Komentar

    CIREBON, JARRAKPOS COM — Pemerintah Kabupaten Cirebon berkomitmen untuk memperjuangkan kejelasan status pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahun 2024. Upaya ini dilakukan dengan berkoordinasi langsung dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB), serta Komisi II DPR RI guna membahas aspirasi tenaga non-ASN yang telah lulus seleksi. Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan […]

  • Made Supartha: Era Baru Hukum Pidana Dimulai, Restorative Justice Jadi Wajah Keadilan Indonesia

    Made Supartha: Era Baru Hukum Pidana Dimulai, Restorative Justice Jadi Wajah Keadilan Indonesia

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com — Transformasi besar dalam sistem hukum pidana Indonesia resmi memasuki babak baru. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi KUHP Nasional, KUHAP Baru, dan Undang-Undang Penyesuaian Pidana yang digelar di Auditorium Widya Sabha Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Jumat (17/4/2026). Dalam forum tersebut, Ketua Pansus TRAP DPRD Bali Dr (c) I Made Supartha, SH, MH, […]

  • Proyek FSRU LNG Bali, Ditolak Warga Malah Proyek Energi Jalan Terus, Pengamat: Klaim Gas Itu Energi Bersih Hanya Mitos

    Proyek FSRU LNG Bali, Ditolak Warga Malah Proyek Energi Jalan Terus, Pengamat: Klaim Gas Itu Energi Bersih Hanya Mitos

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com | Pro kontra rencana pembangunan Terminal Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Liquefied Natural Gas (LNG) di kawasan Serangan terus bergulir. Bahkan, masyarakat Desa Adat Serangan bersama wilayah terdekat, seperti Sanur dan Sidakarya mengaku khawatir menjadi pihak yang paling terdampak oleh proyek energi tersebut. Meski mendapat penolakan, Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala […]

  • Lestarikan Budaya Lokal, Bhabinkamtibmas Polres Magelang Kota

    Lestarikan Budaya Lokal, Bhabinkamtibmas Polres Magelang Kota

    • calendar_month Senin, 6 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 616
    • 0Komentar

    KOTA MAGELANG,JARRAKPOS.COM – Aipda Ridha Susadam, seorang Bhabinkamtibmas yang bertugas di Kelurahan Tidar Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang, dikenal tidak hanya sebagai anggota kepolisian yang berdedikasi, tetapi juga sebagai sosok yang peduli terhadap pelestarian budaya daerah. Di tengah kesibukannya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Aipda Ridha meluangkan waktu untuk mengajarkan kesenian tradisional kepada generasi […]

expand_less