I Dewa Nyoman Rai Sampaikan Duka Mendalam atas Berpulangnya Guruh Soekarnoputra
- account_circle admin
- calendar_month 24 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR — Kabar duka menyelimuti keluarga besar PDI Perjuangan dan dunia seni budaya Indonesia. Politisi senior sekaligus seniman Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, atau dikenal sebagai Guruh Soekarnoputra, berpulang pada Sabtu (26/9/2026) dalam usia 73 tahun.
Guruh mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Kabar tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Duka atas kepergian Guruh juga disampaikan I Dewa Nyoman Rai, S.H., M.H., Wakil Ketua Komisi I DPRD Bali dari Fraksi PDI Perjuangan.
Bagi keluarga besar PDI Perjuangan, Guruh bukan hanya dikenal sebagai putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki perjalanan panjang di dunia politik sekaligus seni dan kebudayaan.
Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953. Sejak usia muda, ia telah menaruh perhatian besar terhadap kesenian, termasuk tari Jawa, Sunda dan Bali serta musik. Perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi kiprah panjangnya sebagai pencipta lagu, komposer, koreografer dan penggagas berbagai pertunjukan seni.
Salah satu tonggak penting perjalanan keseniannya adalah pendirian Swara Maharddhika pada 27 Maret 1977. Kelompok tersebut menjadi wadah kreativitas dan eksperimen Guruh dalam memadukan unsur seni tradisional Indonesia dengan pendekatan pertunjukan modern.
Sejumlah karya dan pertunjukan Guruh kemudian menjadi bagian dari perjalanan seni Indonesia, termasuk proyek musik Guruh Gipsy serta berbagai pergelaran besar seperti Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra, Untukmu Indonesiaku, Cinta Indonesia, hingga Gilang Indonesia Gemilang.
Jejak Guruh juga panjang di dunia politik. Ia pertama kali terpilih sebagai anggota DPR RI melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada periode 1992–1997. Setelah era Reformasi, ia kembali menjadi anggota DPR melalui PDI Perjuangan dan tercatat menjalani masa pengabdian di parlemen hingga periode 2019–2024.
Di lingkungan PDI Perjuangan, Guruh juga dikenang sebagai figur yang memiliki keterikatan dengan perjalanan ideologis dan perjuangan partai. Hasto Kristiyanto menyebut Guruh sebagai seniman besar, sosok Marhaenis dan pejuang partai. DPP PDI Perjuangan juga menginstruksikan jajaran partai untuk mengibarkan bendera partai setengah tiang selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan.
Guruh kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, pada Sabtu (26/9/2026), di area yang berdekatan dengan makam ibundanya, Fatmawati.
Kepergian Guruh meninggalkan catatan panjang dalam dua ruang yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupannya: seni dan politik. Karya-karyanya di bidang musik dan seni pertunjukan menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Indonesia, sementara kiprahnya di parlemen menempatkannya dalam perjalanan politik PDI dan PDI Perjuangan selama lebih dari tiga dekade.
Bagi I Dewa Nyoman Rai, kepergian Guruh menjadi momentum untuk mengenang jasa dan pengabdian seorang tokoh yang telah memberikan warna bagi perjalanan seni, budaya dan politik Indonesia.
“Turut berdukacita atas berpulangnya Bapak Guruh Soekarnoputra. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” demikian ungkapan duka I Dewa Nyoman Rai.
Selamat jalan, Guruh Soekarnoputra. Karya, pengabdian dan jejak perjuanganmu akan tetap menjadi bagian dari catatan perjalanan bangsa.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar