Bali Dikepung Antrean BBM, Gung Cok Desak Pimpinan Pertamina Bekerja Serius, Jangan Seret Ketum Bahlil ke Ranah Politik!
- account_circle admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, MATACOMPAS.COM — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali mendapat sorotan tajam Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Bali, Anak Agung Bagus Tri Candra Arka, S.E., yang akrab disapa Gung Cok.
Gung Cok yang merupakan politisi asal Badung ini meminta pimpinan Pertamina yang bertugas di Bali benar-benar bekerja secara profesional, terutama dalam memastikan distribusi BBM berjalan lancar dan sesuai kebutuhan masyarakat. Ia juga mendesak pemerintah pusat melakukan evaluasi agar persoalan serupa tidak kembali terulang di Pulau Dewata.
Menurutnya, kelangkaan BBM bukan persoalan sepele bagi Bali. Sebagai daerah tujuan wisata yang aktivitas ekonominya sangat bergantung pada mobilitas, terganggunya pasokan BBM dapat berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat maupun keberlangsungan industri pariwisata.
“Harapan kami, kondisi ini bisa segera pulih normal kembali. Bali ini destinasi wisata. Kalau sampai berlanjut satu sampai dua hari, dampaknya bisa sangat buruk bagi pariwisata,” ujar Gung Cok saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan, berbagai sektor pariwisata, mulai dari pengemudi wisata, pekerja hotel, hingga pelaku usaha perjalanan atau travel, sangat bergantung pada ketersediaan BBM. Ketika antrean panjang terjadi di banyak SPBU, aktivitas transportasi dan perjalanan wisata berpotensi terganggu.
Padahal, wisatawan yang datang ke Bali umumnya telah memiliki jadwal perjalanan yang tersusun, termasuk pemesanan kendaraan, kunjungan ke destinasi wisata, hingga paket perjalanan yang dibayar sebelumnya.
“Wisatawan itu sudah memiliki jadwal yang terarah dan terukur. Mereka mengharapkan perjalanan tepat waktu. Kalau BBM terkendala dan kendaraan harus mengantre di mana-mana, tentu dampaknya tidak baik bagi pariwisata Bali,” tegas Gung Cok politisi asal Partai Golkar ini.
Gung Cok menilai, situasi tersebut juga berpotensi merugikan pelaku usaha pariwisata yang telah menyusun agenda perjalanan bagi wisatawan. Karena itu, ia berharap seluruh pihak di sektor pariwisata dapat memberikan penjelasan yang baik kepada tamu mengenai kondisi yang sedang terjadi.
Namun, menurutnya, penjelasan kepada wisatawan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan persoalan utama, yakni perlunya memastikan distribusi BBM berjalan normal agar aktivitas masyarakat dan pariwisata tidak terus terganggu.
Gung Cok Pertanyakan Mengapa Bali Mengalami Kelangkaan
Sorotan utama Gung Cok tertuju pada pertanyaan mendasar: mengapa antrean panjang dan kelangkaan BBM terjadi di Bali, sementara berdasarkan pengamatannya, kondisi serupa tidak terlihat di daerah lain?
Ia menilai, distribusi BBM seharusnya dapat diperhitungkan dengan cermat berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah. Pertamina, kata dia, semestinya memiliki data mengenai jumlah kendaraan, pertumbuhan mobilitas masyarakat, serta kebutuhan BBM di Bali.
Menurutnya, berbagai faktor tersebut bukan sesuatu yang tidak dapat diprediksi. Perencanaan pasokan semestinya mempertimbangkan perkembangan jumlah kendaraan dan aktivitas ekonomi, termasuk meningkatnya mobilitas wisatawan.
“Berapa kendaraan mobil di Bali, berapa motor di Bali, bagaimana perkembangannya dibandingkan lima tahun lalu, serta berapa kendaraan yang masuk ke Bali setiap tahun, itu seharusnya sudah diketahui. Kebutuhan BBM semestinya bisa dihitung dan diukur,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan kemungkinan adanya persoalan pada sistem distribusi BBM yang melayani wilayah Bali. Pasalnya, apabila kebutuhan dan pasokan telah diperhitungkan dengan baik, menurutnya, gangguan distribusi semestinya dapat diantisipasi.
“Kenapa hanya Bali? Kalau kelangkaan bahan baku BBM terjadi secara menyeluruh di Indonesia atau dunia, tentu persoalannya berbeda. Tetapi, kalau yang mengalami kondisi seperti ini Bali, kita harus mempertanyakan apa yang sebenarnya bermasalah,” katanya.
Atas dasar itu, Gung Cok meminta Pertamina memberikan penjelasan yang transparan mengenai penyebab antrean panjang, kondisi pasokan, serta mekanisme distribusi BBM di Bali.
Minta Pemerintah Pusat Evaluasi Pertamina di Bali
Gung Cok secara khusus meminta pemerintah pusat mengevaluasi pelaksanaan tugas pimpinan Pertamina yang bertanggung jawab atas distribusi BBM di Bali.
Baginya, persoalan ini harus menjadi bahan evaluasi serius, terutama terkait kemampuan perencanaan kebutuhan, pengaturan pasokan, dan kecepatan merespons gangguan distribusi.
Ia berharap pemerintah pusat memastikan pihak yang ditugaskan menangani distribusi BBM di Bali benar-benar memahami karakteristik wilayah, kebutuhan masyarakat, serta besarnya ketergantungan perekonomian Bali terhadap sektor pariwisata.
“Kami berharap pimpinan Pertamina yang bertugas di Bali benar-benar bekerja. Kami ini berada di pulau kecil, dengan kebutuhan masyarakat dan pariwisata yang harus diperhitungkan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi,” tegasnya.
Ia menambahkan, persoalan distribusi BBM harus ditangani secara profesional, bukan dibiarkan berlarut-larut hingga masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.
Menurutnya, evaluasi dari pemerintah pusat diperlukan untuk mengetahui secara jelas letak persoalan sekaligus memastikan adanya langkah perbaikan yang konkret.
Gung Cok Ingatkan Jangan Seret Bahlil ke Ranah Politik
Di tengah ramainya pembicaraan di media sosial yang mengaitkan kelangkaan BBM di Bali dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Gung Cok mengingatkan agar persoalan tersebut tidak langsung ditarik ke ranah politik.
Ia menilai, sebelum mengaitkan persoalan ini dengan figur atau kepentingan politik tertentu, hal yang lebih penting adalah mengungkap penyebab gangguan distribusi BBM yang terjadi di Bali.
“Jangan dibawa ke politik. Saya berbicara soal profesionalisme internal Pertamina di Bali. Yang saya pertanyakan, kenapa hanya Bali yang mengalami kondisi seperti ini?” ujarnya.
Gung Cok juga mempertanyakan apa keuntungan politik yang akan diperoleh Bahlil apabila kelangkaan BBM di Bali benar-benar disengaja. Menurutnya, tudingan semacam itu tidak seharusnya disampaikan tanpa dasar yang jelas.
Karena itu, ia memilih menyoroti aspek profesionalisme, perencanaan, dan distribusi sebagai hal yang perlu diperiksa oleh pihak berwenang.
Ia menegaskan, fokus utama saat ini adalah memastikan pasokan BBM kembali normal, antrean di SPBU segera terurai, serta aktivitas masyarakat dan industri pariwisata Bali tidak mengalami gangguan berkepanjangan.
Jangan Sampai Pariwisata Bali Menanggung Dampaknya
Lebih lanjut, Gung Cok berharap pemerintah, Pertamina, dan seluruh pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan distribusi BBM di Bali.
Ia mengingatkan, apabila persoalan ini tidak segera ditangani, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengendara yang mengantre di SPBU, tetapi juga dapat merembet ke sektor transportasi, perhotelan, perjalanan wisata, serta usaha masyarakat yang bergantung pada kelancaran mobilitas.
Bali, menurutnya, memiliki karakteristik sebagai destinasi wisata yang membutuhkan kepastian pelayanan dan ketepatan waktu. Gangguan pada ketersediaan BBM dapat menghambat agenda perjalanan wisatawan dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha.
Karena itu, ia berharap kejadian ini menjadi evaluasi menyeluruh bagi pengelola distribusi BBM, sekaligus pelajaran agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
“Kami berharap ini menjadi evaluasi ke depan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Pemerintah pusat perlu melihat persoalannya, dan Pertamina harus memastikan distribusi BBM di Bali berjalan dengan baik,” pungkas Gung Cok.
Bagi Gung Cok, persoalan kelangkaan BBM di Bali bukan sekadar masalah antrean di SPBU. Lebih dari itu, situasi ini menyangkut kelancaran aktivitas masyarakat, kepastian layanan bagi wisatawan, dan keberlangsungan perekonomian Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar