Desa Tidak Kekurangan Dana, Tetapi Kekurangan Ilmu: Kampung Ilmu Gibran Holic Menantang Pola Pembangunan Lama.
- account_circle Redaksi Bali
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: DR. Ismail, S.Pd., M.M.
Matakompas.com – Selama bertahun-tahun, pembangunan desa di Indonesia lebih sering diukur dari banyaknya jalan yang dibangun, gedung yang diresmikan, atau besarnya anggaran yang dihabiskan.
Namun pertanyaan mendasarnya jarang diajukan: mengapa kemiskinan, pengangguran, rendahnya produktivitas, dan minimnya inovasi masih menjadi persoalan di banyak desa?
Jawabannya sederhana tetapi sering diabaikan. Pembangunan fisik tidak akan menghasilkan kemajuan yang berkelanjutan apabila pembangunan manusianya tertinggal.
Setiap tahun negara menggelontorkan dana desa dalam jumlah besar. Berbagai program kementerian juga terus berdatangan. Akan tetapi, jika masyarakat tidak memiliki pengetahuan, keterampilan, literasi digital, dan kemampuan mengelola potensi lokal, maka pembangunan hanya akan menghasilkan bangunan, bukan kesejahteraan.
Disinilah Program Kampung Ilmu Gibran Holic hadir sebagai sebuah kritik sekaligus solusi. Program ini menawarkan perubahan paradigma: membangun manusia terlebih dahulu, agar manusia mampu membangun desanya sendiri.
Kampung Ilmu bukan sekadar rumah baca atau tempat pelatihan. Ia dirancang sebagai pusat pembelajaran masyarakat yang mengintegrasikan pendidikan, teknologi, kewirausahaan, pengembangan UMKM, pertanian modern, perikanan, ekonomi kreatif, hingga kepemimpinan pemuda.
Sayangnya, hingga kini pendekatan seperti ini masih belum menjadi arus utama pembangunan. Banyak desa masih terjebak pada pola pembangunan yang berorientasi pada proyek jangka pendek, sementara investasi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia sering kali menjadi prioritas kedua.

Lebih memprihatinkan lagi, tidak sedikit fasilitas umum yang dibangun dengan anggaran besar akhirnya terbengkalai karena tidak disertai program pemberdayaan masyarakat.
Gedung berdiri megah, tetapi kosong dari aktivitas. Peralatan tersedia, tetapi tidak dimanfaatkan secara optimal. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata kekurangan anggaran, melainkan lemahnya perencanaan dan penguatan kapasitas masyarakat.
Karena itu, Kampung Ilmu Gibran Holic mengusulkan agar desa memiliki pusat pembelajaran yang aktif sepanjang tahun. Tempat di mana anak-anak memperoleh bimbingan belajar, pemuda mengembangkan keterampilan kerja dan kewirausahaan, pelaku UMKM mendapatkan pendampingan usaha, petani dan nelayan belajar teknologi baru, serta masyarakat memperkuat literasi digital dan karakter kebangsaan.
Program ini juga menjadi pengingat bahwa bonus demografi Indonesia tidak akan otomatis menjadi bonus pembangunan. Tanpa peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban sosial berupa meningkatnya pengangguran dan kesenjangan ekonomi.
Kedepan, keberhasilan pembangunan desa seharusnya tidak hanya diukur dari serapan anggaran atau jumlah proyek fisik, tetapi juga dari indikator seperti meningkatnya kualitas pendidikan, tumbuhnya wirausaha baru, naiknya produktivitas UMKM, berkurangnya pengangguran, serta meningkatnya kemampuan masyarakat memanfaatkan teknologi.
Program Kampung Ilmu Gibran Holic menawarkan perspektif bahwa investasi terbaik bagi desa bukan hanya beton dan aspal, melainkan ilmu pengetahuan. Desa yang kuat adalah desa yang masyarakatnya mampu belajar, berinovasi, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Pembangunan desa tidak cukup berhenti pada slogan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah cara berpikir: dari pembangunan yang berorientasi proyek menuju pembangunan yang berorientasi pada manusia.
Kampung Ilmu Gibran Holic mengajak semua pihak—pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat—untuk menjadikan pengetahuan sebagai fondasi utama kemajuan desa. (Red).
- Penulis: Redaksi Bali


Saat ini belum ada komentar