Breaking News
light_mode
Trending Tags

Di Tengah Ancaman Alih Fungsi Lahan, De Gadjah Dorong Pertanian Organik Selamatkan Sawah Bali

  • account_circle admin
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • visibility 10
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JEMBRANA – Hamparan sawah Subak Brawantangi di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, menjadi saksi semangat baru dalam membangun pertanian Bali yang berkelanjutan. Di tengah ancaman alih fungsi lahan dan berbagai tantangan sektor pertanian, panen raya padi organik digelar sebagai bukti bahwa menjaga kesuburan tanah dapat berjalan seiring dengan upaya meningkatkan produktivitas petani.

Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali, I Made Muliawan Arya atau De Gadjah, turun langsung ke sawah dan ikut memanen padi organik varietas MRCL 219 bersama para petani, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Mengenakan atribut HKTI, De Gadjah ikut dalam panen raya di lahan demplot seluas 4 hektare yang dikelola oleh 149 anggota Subak Brawantangi. Kehadirannya disebut sebagai bentuk dukungan langsung kepada petani yang mulai mengembangkan sistem pertanian organik dan berkelanjutan.

De Gadjah menegaskan dirinya hadir bukan dalam kapasitas sebagai pejabat, melainkan sebagai Ketua HKTI Bali yang ingin melihat langsung perjuangan dan semangat para petani di lapangan.

«“Sebagai Ketua HKTI Bali, saya hadir untuk melihat langsung semangat petani kita. Saya hadir sebagai pelayan petani, peternak, dan nelayan,” ujar De Gadjah.»

Menurutnya, petani memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga ketahanan pangan. Petani bukan hanya bekerja menghasilkan komoditas pertanian, tetapi menjadi salah satu penopang utama kehidupan masyarakat dan bangsa.

De Gadjah juga mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya peran petani dan nelayan bagi Indonesia.

«“Saya bangga dengan petani Indonesia. Terima kasih petani, nelayan Indonesia, engkaulah pahlawan yang sesungguhnya, engkau menghasilkan pangan untuk kita semua,” katanya.»

Alih Fungsi Lahan Jadi Ancaman Serius

Dalam kesempatan tersebut, De Gadjah turut menyoroti kondisi pertanian Bali yang menghadapi tekanan cukup besar, terutama akibat semakin berkurangnya lahan pertanian.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), ia menyebut luas lahan panen di Bali mengalami penurunan dari sekitar 13.800,4 hektare pada 2024 menjadi 9.644 hektare pada 2025. Sementara produksi beras juga disebut mengalami penurunan dari sekitar 640.000 ton pada 2024 menjadi sekitar 590.000 ton pada 2025.

Kondisi tersebut, menurutnya, harus menjadi perhatian bersama. Bali menghadapi tekanan alih fungsi lahan yang dipicu oleh berbagai kebutuhan ekonomi dan pembangunan, termasuk pembangunan kawasan permukiman hingga vila.

Karena itu, diperlukan kolaborasi yang kuat antara petani, pemerintah, organisasi pertanian, pendamping dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keberadaan sawah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

De Gadjah berharap pola pertanian yang diterapkan Subak Brawantangi dapat menjadi contoh bagi subak lainnya di Bali.

«“Semoga model Subak Brawantangi bisa menjadi contoh bagi subak lain di Bali dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal,” harapnya.»

Ia menegaskan HKTI Bali ingin hadir sebagai mitra nyata bagi para petani, bukan sekadar organisasi yang memberikan dukungan secara administratif.

«“Atas nama DPD HKTI Provinsi Bali, saya hadir hari ini di Subak Brawantangi bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai mitra petani. Kami melihat pertanian organik adalah masa depan. Dari lahan 4 hektare ini kita belajar bahwa dengan merawat tanah, hasilnya akan merawat kita kembali,” pungkas De Gadjah.»

Pemkab Jembrana Dorong Modernisasi Pertanian

Panen raya tersebut juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Jembrana. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jembrana, Putu Eka Arta, yang hadir mewakili Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan, menyampaikan bahwa panen raya tidak hanya menjadi momentum menikmati hasil pertanian.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi simbol kerja keras petani serta hasil kolaborasi berbagai pihak dalam membangun sektor pertanian di Kabupaten Jembrana.

«“Momentum panen ini bukan sekadar memetik hasil, tetapi wujud syukur atas kerja keras petani dan simbol kolaborasi dalam mendukung pembangunan sektor pertanian di Jembrana,” ujarnya.»

Menurut Putu Eka Arta, pertanian masih menjadi salah satu kekuatan utama Kabupaten Jembrana karena sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupan dari sektor tersebut.

Namun, tantangan pertanian ke depan juga semakin kompleks. Perubahan iklim, efisiensi biaya produksi, keterbatasan tenaga kerja hingga kebutuhan terhadap penerapan teknologi modern menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama.

«“Keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja keras petani, pendampingan penyuluh, serta sinergi berbagai pihak. Tantangan ke depan adalah perubahan iklim, efisiensi biaya produksi, keterbatasan tenaga kerja hingga kebutuhan teknologi modern. Modernisasi dan inovasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas petani,” tegasnya.»

Pupuk Organik Dorong Produktivitas hingga 8–9 Ton per Hektare

Sementara itu, pendamping petani Subak Brawantangi dari Yayasan Dibia Amerta, Kade Sudiana, mengatakan panen raya tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat pengembangan pertanian organik di Bali.

Ia bahkan memperkenalkan akronim PETANI sebagai Pertahanan Ekonomi Tanah Air Negara Indonesia, sebagai simbol bahwa petani memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan dan kemandirian pangan nasional.

«“PETANI adalah pilar bangsa dalam mendukung swasembada dan ketahanan pangan,” ujarnya.»

Berdasarkan hasil ubinan di Subak Brawantangi, produktivitas gabah menunjukkan peningkatan setelah penerapan pupuk organik.

Sebelum menggunakan sistem tersebut, produktivitas padi berada pada kisaran 6,5 hingga 7 ton per hektare. Setelah menerapkan penggunaan pupuk organik dengan komposisi 50:50, produktivitas ditargetkan meningkat hingga mencapai 8 sampai 9 ton per hektare.

Menurut Kade Sudiana, peningkatan produktivitas tersebut tidak terlepas dari upaya memperbaiki kembali kondisi tanah yang mengalami penurunan unsur hara akibat penggunaan pupuk non-organik dalam jangka panjang.

«“Peningkatan ini terjadi karena kami fokus memperbaiki unsur hara tanah yang sebelumnya rusak akibat penggunaan pupuk non-organik dalam jangka panjang,” tambahnya.»

Selain mendorong pengembangan pertanian organik, Kade Sudiana juga berharap gagasan pembentukan Bank Tani dapat segera diwujudkan di Kabupaten Jembrana.

Keberadaan Bank Tani diharapkan mampu memberikan dukungan kepada petani dalam berbagai tahapan usaha pertanian, mulai dari pengolahan tanah, penyediaan sarana produksi, proses budidaya hingga penanganan pascapanen.

Ia menilai lembaga tersebut juga berpotensi membuka peluang lebih besar bagi generasi muda untuk kembali melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan.

Dengan dukungan sistem yang baik, petani tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan tradisional, tetapi sebagai profesi strategis yang mampu berkembang melalui inovasi, teknologi dan manajemen pertanian modern.

Panen raya padi organik di Subak Brawantangi pun menjadi gambaran bahwa peningkatan produktivitas tidak harus mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

Di tengah tekanan alih fungsi lahan yang semakin besar, upaya menjaga tanah tetap sehat, mempertahankan sawah produktif dan meningkatkan kesejahteraan petani menjadi pekerjaan bersama.

Kolaborasi antara petani, pemerintah, pendamping dan organisasi pertanian menjadi kunci untuk memastikan sektor pangan Bali tetap bertahan.

Dari hamparan sawah seluas empat hektare di Subak Brawantangi, muncul sebuah pesan sederhana namun kuat: ketika tanah dirawat dan petani diberi ruang untuk berkembang, pertanian bukan hanya mampu menghasilkan pangan, tetapi juga menjaga masa depan Bali.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less