Pariwisata Bali Dikepung Persoalan, AHY Ingatkan Ancaman Overcrowded dan Kerusakan Tata Ruang
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANGUPURA | Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memberikan perhatian serius terhadap arah pembangunan Bali di tengah pesatnya pertumbuhan industri pariwisata. Ia mengingatkan bahwa peningkatan kunjungan wisatawan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi harus berjalan beriringan dengan kemampuan daya dukung lingkungan, ketersediaan infrastruktur, serta pemerataan kesejahteraan masyarakat.
AHY menegaskan, Bali memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai destinasi pariwisata dunia. Namun, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan maupun investasi. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat.
Hal tersebut disampaikan AHY seusai menghadiri Wisuda Sarjana XLV dan Pascasarjana XVIII Universitas Ngurah Rai (UNR) Tahun 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Sabtu (7/11/2026).
Menurut AHY, Bali saat ini menghadapi tantangan pembangunan yang tidak sederhana. Pertumbuhan sektor pariwisata yang terus meningkat membawa peluang ekonomi, tetapi sekaligus menghadirkan tekanan terhadap kapasitas wilayah.
Ia mengingatkan, peningkatan aktivitas pariwisata harus diantisipasi dengan perencanaan pembangunan yang matang. Sebab, apabila tidak dikelola secara tepat, pertumbuhan tersebut berpotensi memunculkan persoalan kepadatan penduduk dan wisatawan, kemacetan, kerusakan tata ruang, hingga meningkatnya volume sampah.
“Jangan sampai terjadi overcrowded, kemacetan, kemudian tata ruang wilayah juga menjadi terganggu dan mengakibatkan bencana. Sampah juga harus dikelola karena semakin banyak populasi, semakin banyak kebutuhan yang akan menghadirkan atau memproduksi sampah yang lebih besar,” tegasnya.
AHY juga menyoroti pentingnya menjaga ketersediaan air bersih dan keberadaan sentra-sentra pangan di Bali. Menurutnya, pembangunan pariwisata jangan sampai justru menggeser kepentingan masyarakat lokal, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar dan menjaga keberlanjutan kehidupan sosial.
Dalam konteks pembangunan Bali, AHY menilai filosofi Tri Hita Karana harus tetap menjadi landasan penting. Harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam merupakan nilai fundamental yang perlu diterapkan dalam setiap kebijakan pembangunan.
Baginya, pembangunan berkelanjutan bukan hanya tanggung jawab generasi saat ini, melainkan juga amanah untuk menjaga masa depan anak cucu.
“Ini akan menghadirkan semangat pembangunan yang berkelanjutan. Karena kita bertanggung jawab bukan hanya untuk diri kita, tetapi untuk anak cucu kita, generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Transportasi Publik hingga Water Taxi
Selain daya dukung lingkungan, persoalan konektivitas dan transportasi menjadi perhatian pemerintah pusat. AHY menilai kemacetan di Bali perlu mendapatkan penanganan serius melalui pengembangan infrastruktur dan alternatif transportasi publik.
Kemacetan yang berlangsung terus-menerus tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga dapat menurunkan kenyamanan wisatawan dan daya saing Bali sebagai destinasi pariwisata internasional.
Karena itu, pemerintah terus mengkaji sejumlah alternatif transportasi untuk mendukung pergerakan masyarakat maupun wisatawan. Salah satu gagasan yang menjadi perhatian adalah pengembangan water taxi atau taksi air.
AHY mengungkapkan, dirinya telah beberapa kali berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan dan Menteri Pariwisata untuk membahas pengembangan sistem transportasi di Bali.
Di samping konektivitas, pemerintah pusat juga mengawal pembangunan infrastruktur perlindungan kawasan pesisir yang menghadapi ancaman abrasi dan intrusi air laut.
“Secara langsung kita kawal pembangunan, termasuk melakukan perlindungan terhadap pesisir yang juga terdampak akibat abrasi, intrusi air laut. Kita bangun breakwater, misalnya melalui Kementerian Pekerjaan Umum,” jelasnya.
Persoalan tata ruang juga tidak luput dari perhatian. Bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), pemerintah mendorong pengawasan pemanfaatan ruang agar pembangunan tidak melanggar ketentuan tata ruang yang telah ditetapkan.
AHY mengingatkan bahwa pelanggaran tata ruang bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi dapat berdampak langsung terhadap keselamatan lingkungan dan keberlanjutan pembangunan wilayah.
AHY Soroti Ketimpangan Badung dan Daerah Lain
Persoalan lain yang menjadi sorotan AHY adalah ketimpangan pembangunan antarwilayah di Bali. Ia mengingatkan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada kawasan tertentu, sementara kabupaten/kota lainnya tertinggal dalam menikmati hasil pembangunan.
AHY secara khusus menyinggung Kabupaten Badung yang memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya di Bali.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar potensi ekonomi Bali dapat didistribusikan secara lebih merata melalui pengembangan kawasan dan penguatan konektivitas antarwilayah.
“Tidak boleh terjadi ketimpangan yang sangat menganga antarkabupaten/kota yang ada di Bali. Ada sembilan kabupaten/kota, semuanya harus kita dorong. Pengembangan wilayah barat juga demikian agar semua merasakan kesejahteraan dan kemuliaan Bali itu sendiri,” tegas AHY.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan Bali membutuhkan pendekatan kewilayahan yang lebih berimbang. Potensi wilayah barat, timur, utara, dan tengah Bali perlu dikembangkan agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati kawasan yang selama ini menjadi pusat aktivitas pariwisata.
Dengan demikian, pembangunan infrastruktur harus diarahkan tidak hanya untuk mendukung kawasan pariwisata yang sudah berkembang, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi daerah-daerah yang belum berkembang optimal.
Pendidikan Jadi Kunci Menghadapi Tantangan Global
Di luar persoalan pembangunan wilayah, AHY juga menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan global.
Ia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), telah mengubah kebutuhan dunia kerja dan industri. Kondisi tersebut menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, kompetitif, dan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan zaman.
Menurutnya, tantangan global saat ini tidak hanya berkaitan dengan persaingan ekonomi dan teknologi, tetapi juga mencakup krisis iklim, ketahanan pangan, energi, hingga ketersediaan air bersih.
“Pendidikan merupakan sesuatu yang fundamental, faktor penting, bahkan kunci dari setiap transformasi bangsa yang berhasil,” ungkapnya.
AHY mengatakan, Indonesia memiliki modal besar dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa. Namun, besarnya jumlah penduduk harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia atau human capital.
Karena itu, perguruan tinggi diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kita harus memiliki pendidikan yang baik, keterampilan yang relevan dengan abad ke-21 dan siap masuk ke lapangan pekerjaan serta industri yang memang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan kita semuanya,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem pendidikan serta menyiapkan generasi penerus yang mampu menjawab tantangan masa depan.
AHY berharap pembangunan Bali ke depan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Lebih penting, pembangunan harus mampu menjaga kelestarian alam, memperkuat infrastruktur, mengurangi ketimpangan wilayah, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dengan keseimbangan tersebut, Bali diharapkan tetap menjadi destinasi unggulan dunia tanpa kehilangan identitas, budaya, dan kualitas lingkungan yang menjadi kekuatan utamanya.
Sebab, kemajuan Bali sejatinya bukan hanya tentang seberapa besar industri pariwisatanya berkembang, melainkan juga seberapa mampu pembangunan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekaligus menjaga warisan alam dan budaya untuk generasi mendatang.
- Penulis: admin










Saat ini belum ada komentar