Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ada Rantai Bisnis Lintas Negara yang Harus Dibuka

  • account_circle Admin Jakarta
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Matacompas.com Jakarta — Ambisi Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi atau “Macan Asia” tidak cukup ditopang oleh angka pertumbuhan ekonomi, lonjakan investasi, dan perluasan jaringan perdagangan semata. Lebih dari itu, Indonesia perlu memperkuat posisinya dalam struktur ekonomi regional, mulai dari penguasaan sumber daya, kepemilikan bisnis, akses pembiayaan, penguasaan teknologi, hingga kemampuan mendistribusikan nilai tambah secara adil dan merata.

Dalam proses integrasi ekonomi Asia Tenggara, arus modal dan aktivitas bisnis memang semakin bebas bergerak lintas negara. Namun, satu hal yang belum tentu berjalan seiring: transparansi kepemilikan perusahaan dan akuntabilitas korporasi. Persoalan ini terlihat nyata ketika otoritas keuangan Singapura mulai menyoroti sejumlah perusahaan yang terkait dengan kegiatan usaha sektor sawit dan kehutanan di Indonesia. Produksi berlangsung di dalam negeri, tetapi struktur kepemilikan, pencatatan saham, dan akses pembiayaannya dapat terhubung dengan pusat keuangan negara lain. Pertanyaan mendasar pun muncul: di mana kendali perusahaan berada, siapa yang memperoleh manfaat ekonomi, dan bagaimana tanggung jawab atas kegiatan produksinya dijalankan?

Karbhutla bukan sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan bisnis regional

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla selama ini kerap dibahas dari sisi kerusakan lingkungan dan dampak kabut asap yang melintasi batas negara. Padahal, di balik kepulan asap itu tersembunyi persoalan yang jauh lebih mendalam, yaitu struktur bisnis dan rantai pasok komoditas yang tidak selalu jelas dan tertelusur.

Dalam industri berbasis sumber daya alam, seperti perkebunan sawit, satu kegiatan usaha bisa melibatkan berbagai pihak yang tersebar di berbagai yurisdiksi negara — mulai dari pemilik modal, perusahaan induk, anak perusahaan, pemegang konsesi, pengelola perkebunan, pemasok, pedagang, hingga pembeli akhir. Semua ini membentuk jaringan rantai nilai yang kompleks. Oleh karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berorientasi pada lokasi terjadinya kebakaran. Diperlukan transparansi kepemilikan dan akuntabilitas korporasi agar setiap pihak yang mengendalikan, membiayai, maupun memperoleh manfaat dari kegiatan usaha dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai perannya.

 

Kemandirian ekonomi diuji di tengah keterbukaan regional

Fenomena karhutla pada dasarnya merupakan ujian multidimensional yang mempertemukan persoalan lingkungan, hubungan diplomatik, geopolitik, dan tata kelola bisnis lintas negara. Hal ini memperlihatkan bahwa batas negara dalam kegiatan bisnis tidak selalu sejalan dengan batas tanggung jawab ekonomi. Modal dapat berasal dari satu negara, kegiatan produksi berlangsung di negara lain, sementara produk dan keuntungan bergerak melalui jaringan perdagangan regional.

Integrasi ekonomi Asia Tenggara memang membuka peluang besar — akses pembiayaan lebih luas, pasar lebih terbuka, dan kerja sama mendorong transfer teknologi. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kemampuan Indonesia mengelola sumber daya, meningkatkan nilai tambah industri, mengembangkan teknologi, memperdalam pasar keuangan, serta membangun perusahaan nasional yang mampu bersaing dalam rantai nilai regional. Kemandirian ekonomi bukan berarti menutup diri dari dunia luar, melainkan kemampuan mengambil posisi strategis sehingga sumber daya yang dikelola di dalam negeri memberikan manfaat ekonomi yang sepadan bagi kepentingan nasional.

 

Kerangka kerja sama regional dan penempatan ESG pada porsinya

Persoalan lintas negara memerlukan solusi lintas negara pula. ASEAN perlu membangun kesepahaman bersama mengenai prinsip transparansi pemilik manfaat, keterbukaan hubungan antarentitas usaha, ketertelusuran rantai pasok, pertukaran informasi antarlembaga, serta kejelasan tanggung jawab lingkungan dan sosial. Kerangka ini bukan untuk menghambat investasi, melainkan menciptakan iklim usaha yang lebih sehat, adil, dan dapat dipercaya.

Di sinilah konsep Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola atau ESG perlu dimaknai secara lebih luas. ESG tidak boleh sekadar menjadi syarat kepatuhan atau kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan. ESG harus menjadi bagian dari tata kelola ekonomi regional yang terintegrasi dengan keputusan investasi, pembiayaan, produksi, dan perdagangan. Dengan pendekatan tersebut, ESG dapat menjadi landasan untuk membangun kesepahaman regional mengenai transparansi kepemilikan, akuntabilitas rantai pasok, serta keadilan perdagangan, di mana manfaat dan tanggung jawab terdistribusi secara lebih proporsional di sepanjang rantai nilai.

Pada akhirnya, kekuatan ekonomi Asia Tenggara tidak hanya diukur dari seberapa besar modal yang berputar atau seberapa ramai perdagangannya. Yang jauh lebih menentukan adalah seberapa kuat negara-negara di kawasan ini membangun sistem bisnis yang transparan, bertanggung jawab, dan adil. Di titik inilah letak kunci Indonesia untuk benar-benar melangkah menjadi Macan Asia — bukan sekadar tumbuh besar, tetapi tumbuh dengan kendali di tangan sendiri.

Oleh: Ariani Djalal
Pengamat Ekonomi Politik, Philonation.id

  • Penulis: Admin Jakarta

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepengurusan PABERSI Sumut Dilantik , Disporasu Komit Dukung Kejurnas di Sumut

    Kepengurusan PABERSI Sumut Dilantik , Disporasu Komit Dukung Kejurnas di Sumut

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 319
    • 0Komentar

    Medan – Kadispora Sumatera Utara, M. Mahfullah Pratama Daulay, menegaskan komitmennya untuk mendukung segala bentuk kegiatan olahraga yang sifatnya pembinaan atlet demi memajukan olahraga di Sumatera Utara. Di antaranya Kejuaraan Nasional (Kejurnas) maupun Kejuaraan Daerah (Kejurda). “Saya mendorong ketua pengurus olahraga di provinsi menyelenggarakan Kejurnas dan juga Kejurda agar kita bisa melihat statistik atlet. Karena […]

  • Praperadilan Jilid III I Made Daging Memanas! GPS dan IMAS Bongkar Dugaan Cacat Hukum, Polda Bali Siapkan Ahli

    Praperadilan Jilid III I Made Daging Memanas! GPS dan IMAS Bongkar Dugaan Cacat Hukum, Polda Bali Siapkan Ahli

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 19
    • 0Komentar

    DENPASAR, MATACOMPAS.COM — Sidang praperadilan jilid III yang diajukan mantan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Bali, I Made Daging, di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (29/10/2026), berlangsung dengan adu argumentasi hukum antara tim kuasa pemohon dan pihak termohon. Tim kuasa hukum I Made Daging menyoroti sejumlah persoalan yang mereka nilai mendasar, mulai dari […]

  • “Macan Dewan” I Dewa Nyoman Rai dan Dr. Somvir Bertemu Baba Bageshwar Dham, Bali Jadi Titik Temu Spiritualitas Dunia

    “Macan Dewan” I Dewa Nyoman Rai dan Dr. Somvir Bertemu Baba Bageshwar Dham, Bali Jadi Titik Temu Spiritualitas Dunia

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 35
    • 0Komentar

    DENPASAR – Di balik kerasnya dinamika politik dan ketegasan menjalankan fungsi pengawasan sebagai wakil rakyat, ternyata ada ruang lain yang menjadi perhatian I Dewa Nyoman Rai, S.H., M.H. Dunia spiritual dan meditasi menjadi salah satu sisi kehidupan yang selama ini tidak banyak diketahui publik.   Sosok yang kerap dijuluki “Macan Dewan” itu pada Sabtu (8/8/2026) […]

  • Menuju ETMC 2026, Bupati SBS Siapkan Revolusi Pembinaan Sepak Bola Malaka: Skuad Senior, Soeratin U13–U17, hingga Kompetisi Antar-SSB

    Menuju ETMC 2026, Bupati SBS Siapkan Revolusi Pembinaan Sepak Bola Malaka: Skuad Senior, Soeratin U13–U17, hingga Kompetisi Antar-SSB

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Redaksi Matakompas
    • visibility 27
    • 0Komentar

    NTT, Matakompas.com- Pemerintah Kabupaten Malaka mulai menata serius pembinaan sepak bola menuju tahun 2026. Melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan PSSI Kabupaten Malaka, persiapan pemain PS Malaka senior untuk menghadapi ETMC 2026 di Flores Timur resmi dimulai pada Januari mendatang. Tidak hanya tim utama, Pemkab juga menyiapkan tim Soeratin U17 untuk berlaga di Kabupaten […]

  • Tokoh Puri Grenceng Melaporkan Dugaan Bangunan Gedung Pancasila Melanggar

    Tokoh Puri Grenceng Melaporkan Dugaan Bangunan Gedung Pancasila Melanggar

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 35
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com – Bangunan sebuah gedung yang menamakan diri sebagai “Gedung Pancasila” di Kota Denpasar menuai sorotan tajam. Mantan Anggota DPRD Kota Denpasar tiga periode, Ir. Anak Agung Susruta Ngurah Putra, melaporkan adanya dugaan pelanggaran serius terkait penyerobotan badan jalan publik dalam proses pembangunan gedung tersebut. Susruta menyayangkan ironi yang terjadi, di mana gedung yang […]

  • Tahura Ngurah Rai dalam Tekanan, Pansus TRAP Soroti Dugaan Reklamasi dan Tukar Guling BTID

    Tahura Ngurah Rai dalam Tekanan, Pansus TRAP Soroti Dugaan Reklamasi dan Tukar Guling BTID

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 31
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com — Polemik dugaan tukar guling lahan mangrove di kawasan Tahura Ngurah Rai kembali memanas. Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali secara terbuka menguliti persoalan yang dinilai bukan sekadar sengketa administrasi, melainkan ancaman serius terhadap benteng ekologis Bali Selatan. Dalam rapat dengar pendapat umum dan pendalaman materi yang […]

expand_less