Dari Abu Menjadi Peradaban: Seabad Rarud Batur Dikenang Lewat Batur Village Festival 2026
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Seratus tahun lalu, letusan Gunung Batur tidak hanya memuntahkan lava pijar yang meluluhlantakkan permukiman dan Pura Ulun Danu Batur. Letusan itu juga mengubah perjalanan sejarah masyarakat Batur. Dari tragedi tersebut lahirlah sebuah babak baru yang hingga kini dikenang sebagai Rarud Batur, sebuah kisah tentang kehilangan, pengungsian, keteguhan, dan kebangkitan.
Momentum bersejarah itu kini diperingati melalui 100 Tahun Rarud Batur, dengan agenda puncak berupa Batur Village Festival 2026 yang akan berlangsung pada 2–8 Agustus 2026 di kawasan Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli.
Rangkaian kegiatan tersebut diperkenalkan kepada publik dalam jumpa pers yang digelar Panitia 100 Tahun Rarud Batur di Warung Kubukopi, Denpasar, Rabu (22/7/2026).
Jumpa pers dipandu Koordinator Batur Village Festival I Wayan Budana Yasa dan menghadirkan narasumber Jero Penyarikan Duhuran Batur, (Guru) I Made Santika, SE, (Guru) I Wayan Asta, perwakilan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, serta Koordinator Wilayah Bali yayasan tersebut, Mochammad Nicko Agung Pangestu.
Menurut panitia, Batur Village Festival bukan sekadar festival budaya, melainkan puncak peringatan satu abad Rarud Batur yang mengangkat tema “Batur Matangi”, yang berarti kebangkitan. Festival ini dirancang sebagai ruang untuk merawat sejarah, memperkuat identitas budaya, membangun kesadaran spiritual, sekaligus mengembangkan pariwisata berbasis kearifan lokal.
Tragedi yang Mengubah Sejarah
Perjalanan menuju tragedi besar itu sebenarnya telah dimulai beberapa tahun sebelumnya.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa antara tahun 1921 hingga 1926, aktivitas vulkanik Gunung Batur terus meningkat. Hampir setiap tahun terjadi erupsi. Namun, letusan pada Agustus 1926 menjadi yang paling dahsyat, bahkan disebut lebih besar dibandingkan letusan tahun 1905.
Lelehan lava yang keluar dari perut Gunung Batur menelan seluruh kawasan Desa Batur Let, menghancurkan permukiman warga beserta kawasan suci Pura Ulun Danu Batur yang saat itu berada di kaki gunung.
Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Rarud Batur, yakni pengungsian besar-besaran masyarakat Batur menuju tempat yang lebih aman.
Selama hampir satu abad, kisah itu diwariskan dari generasi ke generasi sebagai ingatan kolektif masyarakat Batur. Meski para saksi sejarah satu per satu telah berpulang, semangat dan nilai-nilai yang lahir dari tragedi tersebut tetap hidup dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini.
Gunung yang Indah Sekaligus Menakutkan
Berbagai catatan penjelajah dan ilmuwan pada awal abad ke-20 menggambarkan Gunung Batur sebagai bentang alam yang indah namun menyimpan ancaman.
Penulis Belanda Louis Couperus dalam catatan perjalanannya tahun 1924 menulis bahwa asap hitam terus mengepul dari kawah Gunung Batur. Gemuruh menyerupai petir sering terdengar, sementara gempa kecil kerap mengguncang kawasan Kintamani.
Masyarakat hidup dalam kewaspadaan.
Menariknya, sebelum letusan besar 1926, pernah terjadi fenomena yang hingga kini dikenang masyarakat. Lava yang mengalir dari Gunung Batur hanya mengenai sebagian kawasan pura, lalu berhenti tepat di depan tembok pura tanpa menyentuh permukiman warga. Peristiwa itu diyakini sebagai bentuk perlindungan para dewa terhadap masyarakat Batur.
Namun keajaiban tersebut tidak kembali terjadi pada Agustus 1926.
Malam Ketika Desa Hilang Ditelan Lava
Geolog Belanda Ch. E. Stehn mencatat secara rinci kronologi letusan Gunung Batur tahun 1926.
Gempa vulkanik mulai terasa pada malam 2 Agustus 1926. Retakan panjang muncul di lereng barat daya gunung, disusul keluarnya lava pijar.
Aktivitas sempat menurun pada siang hari berikutnya sehingga masyarakat mengira bahaya telah berlalu.
Tetapi menjelang tengah malam, Gunung Batur kembali mengamuk.
Ledakan besar disusul aliran lava yang meluncur dengan sangat cepat menuju pusat Desa Batur. Dalam waktu singkat rumah-rumah penduduk mulai terbakar.
Pemerintah Hindia Belanda segera mengirim Kontrolir Klungkung J.C.C. Haar menuju lokasi bencana. Menyusul kemudian Asisten Residen Denpasar. Mereka memimpin proses evakuasi masyarakat beserta benda-benda suci dari Pura Ulun Danu Batur.
Arca, pratima, pusaka, lontar Rajapurana hingga bagian-bagian penting bangunan pura berhasil diselamatkan dan dibawa menuju Desa Bayunggede yang kemudian menjadi lokasi pengungsian sementara.
Dua Tahun Hidup di Pengungsian
Selama dua tahun masyarakat Batur hidup di pengungsian.
Pemerintah Hindia Belanda menawarkan relokasi menuju kawasan Kalanganyar, sebuah wilayah kosong di sebelah timur Kintamani.
Awalnya masyarakat tidak mudah menerima keputusan tersebut. Banyak warga ingin kembali ke desa lama karena meyakini kawasan itu sebagai tempat suci tempat para dewa bersemayam.
Bahkan menurut cerita para tetua, Desa Bayunggede pernah menawarkan tanah adat di kawasan Puaji sebagai lokasi permukiman baru. Namun tawaran itu tidak diterima.
Barulah pada tahun 1928, masyarakat Batur resmi menempati Kalanganyar.
Nama Kalanganyar sendiri bermakna “panggung baru”, melambangkan optimisme masyarakat untuk membangun kembali kehidupan dari nol.
Di lokasi baru itulah rumah-rumah dibangun kembali. Pura Ulun Danu Batur juga didirikan ulang dengan tetap mempertahankan konsep pura lama.
Berdasarkan Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, pembangunan pura selesai tahun 1935 dan sejak saat itu kembali menjadi pusat spiritual masyarakat Batur.
Dari Tragedi Menjadi Kebangkitan
Seratus tahun kemudian, tragedi tersebut tidak lagi diperingati sebagai kisah duka semata.
Panitia mengusung tema Batur Matangi, sebuah simbol kebangkitan masyarakat Batur setelah melewati perjalanan sejarah yang panjang.
Festival selama tujuh hari akan menghadirkan seminar nasional, napak tilas menuju titik nol Desa Batur Let, pawai budaya, pertunjukan seni, workshop, kegiatan lingkungan, olahraga, pameran, UMKM, konser musik hingga berbagai kegiatan edukasi bagi generasi muda.
Napak Tilas menuju Batur Let bahkan ditetapkan sebagai acara inti karena menjadi simbol perjalanan para leluhur meninggalkan kampung halaman mereka akibat amukan Gunung Batur.
Merawat Ideologi Bebaturan
Bagi masyarakat Batur, yang diwariskan bukan hanya cerita tentang letusan gunung.
Yang lebih penting adalah nilai Bebaturan—semangat persaudaraan, gotong royong, kesetiaan menjaga warisan leluhur, serta keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dalam hampir satu abad sejak relokasi berlangsung, masyarakat Batur terus membangun kembali kehidupan mereka. Tempat-tempat suci dipugar, tradisi dijaga, ritual keagamaan tetap berlangsung tanpa putus, sementara solidaritas antarwarga menjadi fondasi utama bertahannya peradaban Batur.
Data yang disampaikan panitia menyebutkan, sepanjang periode 1926–2025 sedikitnya 385 bangunan suci dan palinggih telah dibangun, dipulihkan, atau direkonstruksi di kawasan Kaldera Batur. Sebagian dipertahankan sesuai bentuk aslinya, sebagian dibangun kembali berdasarkan ingatan para tetua karena situs lama telah tertimbun lava.
Seluruh upaya tersebut lahir dari sradha bhakti masyarakat sebagai “juru sapa” dan “juru sapu” Ida Bhatari Batur, sebuah filosofi yang menempatkan manusia sebagai penjaga warisan spiritual dan alam Batur.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Melalui Batur Village Festival 2026, masyarakat Batur berharap generasi muda tidak hanya mengenal sejarah sebagai catatan masa lalu, tetapi memahami nilai yang diwariskan oleh para leluhur.
Festival ini bukan sekadar pesta budaya, melainkan ruang edukasi yang menghubungkan sejarah, spiritualitas, lingkungan, ekonomi kreatif, dan pariwisata dalam satu narasi besar tentang kebangkitan.
Seratus tahun setelah lava menghanguskan Desa Batur Let, masyarakat Batur menunjukkan bahwa sebuah peradaban tidak pernah benar-benar musnah selama ingatan, budaya, dan solidaritas tetap hidup.
Dari kaki Gunung Batur, sebuah pesan kembali disampaikan kepada dunia: dari abu bencana, manusia mampu bangkit, membangun kembali kehidupannya, dan mewariskan harapan bagi generasi berikutnya.
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar