Koster Hidupkan Kembali Tumpek Uye, Rawat Warisan Adiluhung Sad Kerthi di Tengah Arus Modernisasi
- account_circle admin
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR — Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk menjaga, melaksanakan, sekaligus menghidupkan kembali warisan adiluhung nilai-nilai kearifan lokal Bali melalui pelaksanaan Rahina Tumpek, termasuk Tumpek Uye.
Bagi Koster, perayaan Tumpek tidak sekadar menjadi ritual keagamaan dan tradisi yang berlangsung secara turun-temurun. Lebih dari itu, Tumpek merupakan bagian penting dari filosofi Sad Kerthi, khususnya dalam membangun kesadaran masyarakat Bali untuk menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan seluruh kehidupan di dalamnya.
Koster mengatakan, dirinya secara konsisten mendorong agar Rahina Tumpek dirayakan secara nyata dan melibatkan masyarakat luas. Bahkan, menurut sejumlah tokoh masyarakat bahwa baru kali ini ada pemimpin yg berani memberlakukan kebijakan dan memimpin langsung gerakan merayakan Rahina Tumpek secara niskal-sakala diatur dengan Surat Edaran Gubernur Bali nomor 4 tahun 2022.
Menurut Koster, langkah tersebut lahir dari keprihatinan terhadap keberadaan tradisi Tumpek yang dinilai mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Peralihan generasi, modernisasi, serta perubahan pola kehidupan masyarakat membuat pemaknaan terhadap sejumlah tradisi Bali berpotensi semakin memudar.
Koster menilai kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan. Sebab, apabila generasi muda tidak lagi mengenal, memahami, dan menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam Rahina Tumpek, bukan tidak mungkin warisan budaya tersebut perlahan kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat Bali.
Karena itu, perayaan Tumpek harus dikembalikan sebagai momentum untuk membangun kesadaran bersama. Tidak hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai gerakan kebudayaan yang mampu mempertemukan nilai tradisi dengan kehidupan masyarakat Bali masa kini.

“Saya memahami bahwa Rahina Tumpek sudah hampir hilang ditelan zaman, dampak dari peralihan generasi dan modernisasi,” ujar Koster di Denpasar, Selasa (8/9/2026).
Dalam konteks Tumpek Uye, nilai yang dibangun adalah penghormatan dan kasih sayang terhadap satwa sebagai bagian dari kehidupan. Pesan tersebut sejalan dengan filosofi Sad Kerthi yang menempatkan keseimbangan alam dan kehidupan sebagai fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan Bali.
Koster ingin nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada simbol dan upacara, melainkan menjadi kesadaran kolektif masyarakat. Pemerintah, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk memastikan warisan budaya dan kearifan lokal Bali tetap hidup, dipahami, serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Upaya menghidupkan kembali Rahina Tumpek pun menjadi bagian dari visi besar pembangunan Bali yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat jati diri, kebudayaan, lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat.
Dengan demikian, Tumpek Uye bukan sekadar perayaan dalam kalender tradisi Bali. Ia menjadi pengingat bahwa kemajuan dan modernisasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar budayanya.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, Koster menegaskan bahwa menjaga Tumpek berarti menjaga ingatan kolektif, nilai luhur, sekaligus identitas Bali agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar