Breaking News
light_mode
Trending Tags

HUT IWO ke-14 dan HUT IWO Bali Pertama, Trisno Nugroho Meneropong Bali dari Sisi Berbeda: Pariwisata Tak Boleh Jadi Satu-Satunya Mesin Ekonomi

  • account_circle admin
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR — Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ikatan Wartawan Online (IWO) ke-14 sekaligus HUT IWO Provinsi Bali yang pertama diisi dengan dialog publik bertajuk “Meneropong Bali dari Sisi Berbeda”. Kegiatan tersebut digelar di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Minggu (30/8/2026).

Dialog publik ini menjadi ruang refleksi sekaligus pertukaran gagasan mengenai arah pembangunan Bali, khususnya dalam membangun perekonomian yang tidak hanya bertumpu pada satu sektor, tetapi mampu menciptakan pertumbuhan yang kuat, inklusif, merata, dan berkelanjutan.

Salah satu narasumber, Trisno Nugroho, Pengamat Ekonomi dan Pariwisata, menyampaikan pandangan mengenai pentingnya membangun struktur ekonomi Bali yang lebih tangguh tanpa harus meninggalkan pariwisata sebagai kekuatan utama Pulau Dewata.

Menurutnya, Bali sejauh ini menunjukkan kinerja ekonomi yang relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi Bali tercatat 5,48 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 5,82 persen pada 2025, keduanya berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara pada triwulan I 2026, ekonomi Bali tumbuh 5,58 persen secara tahunan (yoy) dan pada triwulan II 2026 mencapai 5,78 persen. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang 2026 bahkan berada di kisaran 6,1 persen.

Namun, angka pertumbuhan tersebut menurut Trisno tidak boleh membuat Bali terlena. Di balik keberhasilan tersebut masih terdapat kerentanan struktural yang perlu mendapatkan perhatian serius.

“Bali berhasil—namun keberhasilannya masih rentan,” demikian gagasan yang menjadi salah satu penekanan dalam paparannya. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu mesin pertumbuhan dapat membuat banyak sektor kehidupan ikut terdampak ketika sektor utama mengalami perlambatan.

Pariwisata Kuat, tetapi Nilai Ekonomi Harus Lebih Banyak Tinggal di Bali

Trisno menyoroti setidaknya tiga persoalan penting yang perlu diperhatikan Bali ke depan.

Pertama, konsentrasi aktivitas dan peluang ekonomi yang masih bertumpu pada sektor dan kawasan tertentu. Kedua, adanya potensi kebocoran nilai, ketika belanja wisatawan belum sepenuhnya berubah menjadi pendapatan bagi petani, nelayan, perajin, maupun pelaku UMKM lokal.

Ketiga adalah tekanan terhadap daya dukung. Pertumbuhan yang tidak terkendali berpotensi memberikan tekanan terhadap air, lahan, lingkungan, budaya, hingga kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, menurut Trisno, solusi Bali bukanlah meninggalkan pariwisata. Justru pariwisata harus ditempatkan sebagai pasar besar yang mampu menghidupkan ekosistem ekonomi lokal.

“Diversifikasi di sekitar pariwisata, bukan meninggalkannya,” menjadi gagasan penting yang ditawarkan.

Pariwisata dapat menjadi pintu masuk bagi produk, tenaga kerja, teknologi, serta jasa lokal. Dengan demikian, sektor pertanian dan perikanan bernilai tambah, UMKM, ekonomi kreatif dan digital, pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi hijau dapat tumbuh bersama. Ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa besar wisatawan datang, tetapi seberapa banyak nilai ekonomi yang tinggal, berputar, dan tumbuh di Bali.

Lima Prinsip Ekonomi Bali yang Lebih Tangguh

Dalam paparannya, Trisno menawarkan lima prinsip untuk membangun ekonomi Bali yang lebih tangguh.

Pertama, nilai tambah lokal, sehingga produk Bali tidak berhenti sebagai bahan mentah. Kedua, keterhubungan antarsektor, di mana pariwisata mampu membeli sekaligus menumbuhkan usaha lokal.

Ketiga, kesempatan yang adil, dengan membuka akses pasar, modal, teknologi, dan keterampilan secara lebih luas. Keempat, pemerataan wilayah, sehingga setiap kabupaten memiliki ruang untuk berkembang berdasarkan keunggulannya masing-masing.

Kelima, batas ekologis, yakni investasi dan pertumbuhan ekonomi harus tetap tunduk pada daya dukung alam dan budaya Bali.

Setiap Rupiah Pariwisata Harus Memberi Dampak Lebih Luas

Trisno juga menekankan pentingnya membuat setiap rupiah yang berputar dalam industri pariwisata memberikan dampak ekonomi yang lebih panjang.

Belanja wisatawan di hotel, restoran, dan atraksi harus mampu menciptakan permintaan terhadap produk pangan, kerajinan, dan jasa lokal. Dari sana, pelaku usaha didorong naik kelas melalui peningkatan standar, digitalisasi, serta akses pembiayaan.

Pada akhirnya, aktivitas tersebut diharapkan menciptakan pendapatan yang terus berputar melalui penciptaan lapangan kerja, investasi, dan penerimaan pajak.

Menurutnya, persoalannya bukan sekadar mengampanyekan “beli lokal”, melainkan memastikan terdapat kontrak yang konsisten, standar yang jelas, serta mekanisme pembayaran yang sehat bagi pelaku usaha lokal.

Lima Mesin Pertumbuhan Baru

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi Bali, Trisno mengusulkan pembangunan lima mesin pertumbuhan baru yang saling menguatkan.

Pertama, pangan bernilai tambah, melalui penguatan pertanian, perikanan, pengolahan, dan distribusi.

Kedua, ekonomi kreatif, meliputi desain, seni, film, kuliner, serta pengembangan kekayaan intelektual.

Ketiga, ekonomi digital, melalui jasa teknologi, talenta jarak jauh, dan solusi digital bagi UMKM.

Keempat, kesehatan dan pendidikan, termasuk wellness, layanan kesehatan, serta pusat pembelajaran.

Kelima, ekonomi hijau, dengan fokus pada energi bersih, air, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular.

Kelima sektor tersebut bukan sekadar daftar sektor baru, melainkan harus dipandang sebagai portofolio ketahanan ekonomi Bali.

Ekonomi Inklusif Harus Membuka Empat Pintu

Pertumbuhan ekonomi juga harus berjalan beriringan dengan inklusivitas. Menurut Trisno, terdapat empat pintu yang harus dibuka secara bersamaan, yakni keterampilan, pasar, pembiayaan, dan teknologi.

Pelatihan harus terhubung dengan kebutuhan pekerjaan dan dunia usaha. Pelaku UMKM perlu memperoleh akses terhadap pasar melalui kurasi, agregasi, pengadaan lokal, dan rantai pasok.

Dari sisi pembiayaan, dibutuhkan pencatatan transaksi dan keuangan, akses kredit, serta modal produktif berbasis data. Sementara teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan proses bisnis, pemasaran, pembayaran, dan produktivitas.

“Bantuan tanpa pasar menciptakan ketergantungan. Pasar tanpa kapasitas meninggalkan usaha kecil,” menjadi salah satu pesan penting dalam gagasan tersebut.

Pemerataan: Satu Bali, Banyak Pusat Pertumbuhan

Pembangunan Bali ke depan juga tidak dapat hanya berpusat di Bali Selatan. Trisno mendorong agar setiap wilayah dikembangkan berdasarkan keunggulannya masing-masing.

Bali Selatan dapat menjadi gerbang global, pusat jasa bernilai tinggi, MICE, inovasi, sekaligus pasar bagi seluruh Bali.

Bali Barat dapat diperkuat melalui pangan, konservasi, dan ekonomi laut. Bali Utara memiliki peluang dalam bidang logistik, pendidikan, perikanan, dan pariwisata berbasis alam.

Sementara Bali Timur dapat mengembangkan kekuatan budaya, desa wisata, pertanian, dan ekonomi kreatif. Bali Tengah dapat diarahkan menjadi kawasan berbasis pengetahuan, wellness, serta pertanian bernilai tambah.

Konsep tersebut dirangkum dalam satu gagasan: “Satu Bali, banyak pusat pertumbuhan.”

Dari Pariwisata Berkelanjutan Menuju Pariwisata Regeneratif

Hal lain yang menjadi sorotan adalah pentingnya perubahan paradigma dari sekadar pariwisata berkelanjutan menuju pariwisata regeneratif.

Jika keberlanjutan bertujuan menjaga agar kondisi tidak semakin buruk, maka pendekatan regeneratif mendorong agar aktivitas pariwisata justru meninggalkan alam, budaya, dan kapasitas lokal dalam kondisi yang lebih baik.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan air, energi, lahan, dan produksi sampah. Pada saat yang sama, masyarakat harus ditempatkan bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pemilik, pemasok, pekerja terampil, sekaligus pengambil keputusan.

Dengan pendekatan tersebut, pariwisata tidak hanya mengejar jumlah kunjungan dan transaksi ekonomi, tetapi juga memastikan destinasi mengalami pemulihan dan peningkatan kualitas.

Saatnya Gagasan Diterjemahkan Menjadi Aksi

Trisno juga menawarkan agenda tindakan yang dapat dimulai dari sekarang. Tahap awal dapat dilakukan dengan memetakan rantai pasok dan kebocoran nilai, menetapkan target belanja lokal, serta membangun data UMKM dan kebutuhan keterampilan.

Tahap berikutnya adalah membentuk agregator dan pusat standar mutu, memperluas pembiayaan produktif berbasis data, serta membangun pusat pertumbuhan di luar Bali Selatan.

Pada tahap selanjutnya, Bali didorong mengembangkan mesin ekonomi baru berskala ekspor, menerapkan uji manfaat lokal dan daya dukung, serta mengukur kesejahteraan, ketahanan, dan pemulihan.

Bali Tidak Harus Memilih antara Pariwisata dan Sektor Lain

Dialog publik dalam rangkaian HUT IWO ke-14 dan HUT IWO Bali pertama tersebut pada akhirnya menghadirkan satu pesan besar: masa depan Bali bukanlah memilih antara pariwisata atau sektor ekonomi lainnya.

Bali tetap membutuhkan pariwisata sebagai kekuatan utama. Namun, pariwisata tersebut harus berkualitas dan mampu menghidupkan sektor lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga budaya, sekaligus memulihkan lingkungan.

Bali yang kuat adalah Bali yang memiliki banyak mesin pertumbuhan. Bali yang inklusif adalah Bali yang membuka akses lebih luas. Bali yang merata adalah Bali yang memberi ruang kepada setiap wilayah untuk tumbuh. Dan Bali yang regeneratif adalah Bali yang memastikan pembangunan hari ini membuat pulau ini menjadi lebih baik bagi generasi berikutnya.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perjalanan Bali mempertahankan posisi sebagai destinasi pariwisata dunia sekaligus menghadapi tantangan ekonomi, lingkungan, pemerataan, dan kualitas kehidupan masyarakat.

Bali tidak cukup hanya tumbuh. Bali harus tumbuh dengan cara yang lebih kuat, inklusif, merata, dan regeneratif.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ditarget Tuntas 2 Bulan, Pansus DPRD Badung Serap Aspirasi Bahas Raperda Inisiatif Pelestarian Seni dan Budaya.

    Ditarget Tuntas 2 Bulan, Pansus DPRD Badung Serap Aspirasi Bahas Raperda Inisiatif Pelestarian Seni dan Budaya.

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Bali
    • visibility 8
    • 0Komentar

    BADUNG, Matakompas.com – Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kabupaten Badung menggelar Rapat Kerja (Raker) penyerapan Aspirasi dalam rangka penyusunan Raperda Inisiatif Dewan tentang Pelestarian Seni dan Budaya di Ruang Madya Gosana Lantai III Kantor Sekretariat DPRD Kabupaten Badung, Kamis, 20 Agustus 2026. Rapat dipimpin oleh Ketua Pansus, I Nyoman Graha Wicaksana didampingi Sekretaris Pansus I Made […]

  • Komisi IV DPRD Badung Soroti Pelayanan RSUD Mangusada, Graha Wicaksana Minta Sosialisasi Mantap Nak Badung Diperkuat

    Komisi IV DPRD Badung Soroti Pelayanan RSUD Mangusada, Graha Wicaksana Minta Sosialisasi Mantap Nak Badung Diperkuat

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13
    • 0Komentar

    BADUNG – Komisi IV DPRD Kabupaten Badung menyoroti kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Mangusada, khususnya terkait implementasi Program Mantap Nak Badung. Ketua Komisi IV DPRD Badung I Nyoman Graha Wicaksana menegaskan pentingnya penguatan sosialisasi program hingga ke seluruh tenaga kesehatan agar tidak kembali terjadi miskomunikasi yang berdampak terhadap pelayanan masyarakat. Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam […]

  • Dukung PSSI Perpanjang Arya Sinulingga sebagai Plt Ketua Asprov PSSI Sumut

    Dukung PSSI Perpanjang Arya Sinulingga sebagai Plt Ketua Asprov PSSI Sumut

    • calendar_month Kamis, 6 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 847
    • 0Komentar

    Medan – Program pembinaan sepakbola yang di geber Asprov PSSI Sumut menuai pujian dari Askab PSSI Phakpak Bharat. Betapa tidak, sejak plt Arya Sinulingga menahkodai Asprov PSSI Sumut banyak program program positif digerakkan sebagai upaya untuk mengembalikan kejayaan sepakbola Sumut “Sangat positif dan banyak program yang berjalan. Dan terakhir diputar nya liga 4 “, kata […]

  • Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

    Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10
    • 0Komentar

    BULELENG, Matakompas.com – Gubernur Bali, Wayan Koster memberikan apresiasi kepada Sanggar Seni Tari dan Tabuh Pentas Marak Lestari, Desa Bubunan, Kecamatan Seririt dan Sanggar Seni Dharma Shanti, Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan di Kabupaten Buleleng yang telah mampu melestarikan seni budaya Bali dengan terus menciptakan seniman dari usia anak – anak sampai dewasa. Atas dedikasinya melestarikan […]

  • Revolusi Sampah dari Rumah: Bupati Tabanan Keluarkan “Ultimatum” Pilah Sampah dari Sumber

    Revolusi Sampah dari Rumah: Bupati Tabanan Keluarkan “Ultimatum” Pilah Sampah dari Sumber

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 14
    • 0Komentar

    TABANAN – Pemerintah Kabupaten Tabanan mengambil langkah tegas dalam menghadapi persoalan sampah yang kian kompleks. Melalui Surat Edaran Bupati Nomor 07/DLH/2026, Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, secara resmi mengakselerasi pengelolaan sampah berbasis sumber—sebuah pendekatan yang menempatkan rumah tangga sebagai garda terdepan perubahan. Kebijakan ini bukan sekadar imbauan, melainkan penegasan arah baru tata kelola lingkungan: […]

  • SOUL Action “Berbagi Cahaya”, Ruang Refleksi di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta

    SOUL Action “Berbagi Cahaya”, Ruang Refleksi di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17
    • 0Komentar

    JAKARTA, Matakompas.com — Di tengah ritme cepat kehidupan Jakarta yang nyaris tak pernah berhenti, sekelompok masyarakat memilih melambat sejenak. Bukan sekadar berkumpul, melainkan untuk merenung, berbagi, dan menyalakan kembali cahaya dalam diri melalui kegiatan bertajuk SOUL Action “Berbagi Cahaya”, Sabtu, 14 Maret 2026. Kegiatan yang digagas Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) bersama SOUL Community Jabodetabek […]

expand_less