Breaking News
light_mode
Trending Tags

HUT IWO ke-14 dan HUT IWO Bali Pertama, Trisno Nugroho Meneropong Bali dari Sisi Berbeda: Pariwisata Tak Boleh Jadi Satu-Satunya Mesin Ekonomi

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
  • visibility 24
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR — Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ikatan Wartawan Online (IWO) ke-14 sekaligus HUT IWO Provinsi Bali yang pertama diisi dengan dialog publik bertajuk “Meneropong Bali dari Sisi Berbeda”. Kegiatan tersebut digelar di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Minggu (30/8/2026).

Dialog publik ini menjadi ruang refleksi sekaligus pertukaran gagasan mengenai arah pembangunan Bali, khususnya dalam membangun perekonomian yang tidak hanya bertumpu pada satu sektor, tetapi mampu menciptakan pertumbuhan yang kuat, inklusif, merata, dan berkelanjutan.

Salah satu narasumber, Trisno Nugroho, Pengamat Ekonomi dan Pariwisata, menyampaikan pandangan mengenai pentingnya membangun struktur ekonomi Bali yang lebih tangguh tanpa harus meninggalkan pariwisata sebagai kekuatan utama Pulau Dewata.

Menurutnya, Bali sejauh ini menunjukkan kinerja ekonomi yang relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi Bali tercatat 5,48 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 5,82 persen pada 2025, keduanya berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara pada triwulan I 2026, ekonomi Bali tumbuh 5,58 persen secara tahunan (yoy) dan pada triwulan II 2026 mencapai 5,78 persen. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang 2026 bahkan berada di kisaran 6,1 persen.

Namun, angka pertumbuhan tersebut menurut Trisno tidak boleh membuat Bali terlena. Di balik keberhasilan tersebut masih terdapat kerentanan struktural yang perlu mendapatkan perhatian serius.

“Bali berhasil—namun keberhasilannya masih rentan,” demikian gagasan yang menjadi salah satu penekanan dalam paparannya. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu mesin pertumbuhan dapat membuat banyak sektor kehidupan ikut terdampak ketika sektor utama mengalami perlambatan.

Pariwisata Kuat, tetapi Nilai Ekonomi Harus Lebih Banyak Tinggal di Bali

Trisno menyoroti setidaknya tiga persoalan penting yang perlu diperhatikan Bali ke depan.

Pertama, konsentrasi aktivitas dan peluang ekonomi yang masih bertumpu pada sektor dan kawasan tertentu. Kedua, adanya potensi kebocoran nilai, ketika belanja wisatawan belum sepenuhnya berubah menjadi pendapatan bagi petani, nelayan, perajin, maupun pelaku UMKM lokal.

Ketiga adalah tekanan terhadap daya dukung. Pertumbuhan yang tidak terkendali berpotensi memberikan tekanan terhadap air, lahan, lingkungan, budaya, hingga kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, menurut Trisno, solusi Bali bukanlah meninggalkan pariwisata. Justru pariwisata harus ditempatkan sebagai pasar besar yang mampu menghidupkan ekosistem ekonomi lokal.

“Diversifikasi di sekitar pariwisata, bukan meninggalkannya,” menjadi gagasan penting yang ditawarkan.

Pariwisata dapat menjadi pintu masuk bagi produk, tenaga kerja, teknologi, serta jasa lokal. Dengan demikian, sektor pertanian dan perikanan bernilai tambah, UMKM, ekonomi kreatif dan digital, pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi hijau dapat tumbuh bersama. Ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa besar wisatawan datang, tetapi seberapa banyak nilai ekonomi yang tinggal, berputar, dan tumbuh di Bali.

Lima Prinsip Ekonomi Bali yang Lebih Tangguh

Dalam paparannya, Trisno menawarkan lima prinsip untuk membangun ekonomi Bali yang lebih tangguh.

Pertama, nilai tambah lokal, sehingga produk Bali tidak berhenti sebagai bahan mentah. Kedua, keterhubungan antarsektor, di mana pariwisata mampu membeli sekaligus menumbuhkan usaha lokal.

Ketiga, kesempatan yang adil, dengan membuka akses pasar, modal, teknologi, dan keterampilan secara lebih luas. Keempat, pemerataan wilayah, sehingga setiap kabupaten memiliki ruang untuk berkembang berdasarkan keunggulannya masing-masing.

Kelima, batas ekologis, yakni investasi dan pertumbuhan ekonomi harus tetap tunduk pada daya dukung alam dan budaya Bali.

Setiap Rupiah Pariwisata Harus Memberi Dampak Lebih Luas

Trisno juga menekankan pentingnya membuat setiap rupiah yang berputar dalam industri pariwisata memberikan dampak ekonomi yang lebih panjang.

Belanja wisatawan di hotel, restoran, dan atraksi harus mampu menciptakan permintaan terhadap produk pangan, kerajinan, dan jasa lokal. Dari sana, pelaku usaha didorong naik kelas melalui peningkatan standar, digitalisasi, serta akses pembiayaan.

Pada akhirnya, aktivitas tersebut diharapkan menciptakan pendapatan yang terus berputar melalui penciptaan lapangan kerja, investasi, dan penerimaan pajak.

Menurutnya, persoalannya bukan sekadar mengampanyekan “beli lokal”, melainkan memastikan terdapat kontrak yang konsisten, standar yang jelas, serta mekanisme pembayaran yang sehat bagi pelaku usaha lokal.

Lima Mesin Pertumbuhan Baru

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi Bali, Trisno mengusulkan pembangunan lima mesin pertumbuhan baru yang saling menguatkan.

Pertama, pangan bernilai tambah, melalui penguatan pertanian, perikanan, pengolahan, dan distribusi.

Kedua, ekonomi kreatif, meliputi desain, seni, film, kuliner, serta pengembangan kekayaan intelektual.

Ketiga, ekonomi digital, melalui jasa teknologi, talenta jarak jauh, dan solusi digital bagi UMKM.

Keempat, kesehatan dan pendidikan, termasuk wellness, layanan kesehatan, serta pusat pembelajaran.

Kelima, ekonomi hijau, dengan fokus pada energi bersih, air, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular.

Kelima sektor tersebut bukan sekadar daftar sektor baru, melainkan harus dipandang sebagai portofolio ketahanan ekonomi Bali.

Ekonomi Inklusif Harus Membuka Empat Pintu

Pertumbuhan ekonomi juga harus berjalan beriringan dengan inklusivitas. Menurut Trisno, terdapat empat pintu yang harus dibuka secara bersamaan, yakni keterampilan, pasar, pembiayaan, dan teknologi.

Pelatihan harus terhubung dengan kebutuhan pekerjaan dan dunia usaha. Pelaku UMKM perlu memperoleh akses terhadap pasar melalui kurasi, agregasi, pengadaan lokal, dan rantai pasok.

Dari sisi pembiayaan, dibutuhkan pencatatan transaksi dan keuangan, akses kredit, serta modal produktif berbasis data. Sementara teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan proses bisnis, pemasaran, pembayaran, dan produktivitas.

“Bantuan tanpa pasar menciptakan ketergantungan. Pasar tanpa kapasitas meninggalkan usaha kecil,” menjadi salah satu pesan penting dalam gagasan tersebut.

Pemerataan: Satu Bali, Banyak Pusat Pertumbuhan

Pembangunan Bali ke depan juga tidak dapat hanya berpusat di Bali Selatan. Trisno mendorong agar setiap wilayah dikembangkan berdasarkan keunggulannya masing-masing.

Bali Selatan dapat menjadi gerbang global, pusat jasa bernilai tinggi, MICE, inovasi, sekaligus pasar bagi seluruh Bali.

Bali Barat dapat diperkuat melalui pangan, konservasi, dan ekonomi laut. Bali Utara memiliki peluang dalam bidang logistik, pendidikan, perikanan, dan pariwisata berbasis alam.

Sementara Bali Timur dapat mengembangkan kekuatan budaya, desa wisata, pertanian, dan ekonomi kreatif. Bali Tengah dapat diarahkan menjadi kawasan berbasis pengetahuan, wellness, serta pertanian bernilai tambah.

Konsep tersebut dirangkum dalam satu gagasan: “Satu Bali, banyak pusat pertumbuhan.”

Dari Pariwisata Berkelanjutan Menuju Pariwisata Regeneratif

Hal lain yang menjadi sorotan adalah pentingnya perubahan paradigma dari sekadar pariwisata berkelanjutan menuju pariwisata regeneratif.

Jika keberlanjutan bertujuan menjaga agar kondisi tidak semakin buruk, maka pendekatan regeneratif mendorong agar aktivitas pariwisata justru meninggalkan alam, budaya, dan kapasitas lokal dalam kondisi yang lebih baik.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan air, energi, lahan, dan produksi sampah. Pada saat yang sama, masyarakat harus ditempatkan bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pemilik, pemasok, pekerja terampil, sekaligus pengambil keputusan.

Dengan pendekatan tersebut, pariwisata tidak hanya mengejar jumlah kunjungan dan transaksi ekonomi, tetapi juga memastikan destinasi mengalami pemulihan dan peningkatan kualitas.

Saatnya Gagasan Diterjemahkan Menjadi Aksi

Trisno juga menawarkan agenda tindakan yang dapat dimulai dari sekarang. Tahap awal dapat dilakukan dengan memetakan rantai pasok dan kebocoran nilai, menetapkan target belanja lokal, serta membangun data UMKM dan kebutuhan keterampilan.

Tahap berikutnya adalah membentuk agregator dan pusat standar mutu, memperluas pembiayaan produktif berbasis data, serta membangun pusat pertumbuhan di luar Bali Selatan.

Pada tahap selanjutnya, Bali didorong mengembangkan mesin ekonomi baru berskala ekspor, menerapkan uji manfaat lokal dan daya dukung, serta mengukur kesejahteraan, ketahanan, dan pemulihan.

Bali Tidak Harus Memilih antara Pariwisata dan Sektor Lain

Dialog publik dalam rangkaian HUT IWO ke-14 dan HUT IWO Bali pertama tersebut pada akhirnya menghadirkan satu pesan besar: masa depan Bali bukanlah memilih antara pariwisata atau sektor ekonomi lainnya.

Bali tetap membutuhkan pariwisata sebagai kekuatan utama. Namun, pariwisata tersebut harus berkualitas dan mampu menghidupkan sektor lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga budaya, sekaligus memulihkan lingkungan.

Bali yang kuat adalah Bali yang memiliki banyak mesin pertumbuhan. Bali yang inklusif adalah Bali yang membuka akses lebih luas. Bali yang merata adalah Bali yang memberi ruang kepada setiap wilayah untuk tumbuh. Dan Bali yang regeneratif adalah Bali yang memastikan pembangunan hari ini membuat pulau ini menjadi lebih baik bagi generasi berikutnya.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perjalanan Bali mempertahankan posisi sebagai destinasi pariwisata dunia sekaligus menghadapi tantangan ekonomi, lingkungan, pemerataan, dan kualitas kehidupan masyarakat.

Bali tidak cukup hanya tumbuh. Bali harus tumbuh dengan cara yang lebih kuat, inklusif, merata, dan regeneratif.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Perda Baru 2026 Jadi Alarm Keras Investor Nakal dan Mafia Izin di Bali

    Dua Perda Baru 2026 Jadi Alarm Keras Investor Nakal dan Mafia Izin di Bali

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 21
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com – Pengesahan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Produktif dan Larangan Alih Kepemilikan Lahan Secara Nominee serta Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pantai dan Sempadan Pantai menandai babak baru penertiban tata ruang di Bali. Regulasi ini bukan sekadar administrasi, melainkan instrumen […]

  • “Kalau Bukan Aset, Kenapa Lama?” Pansus TRAP DPRD Bali Tekan Penyelesaian DN 98

    “Kalau Bukan Aset, Kenapa Lama?” Pansus TRAP DPRD Bali Tekan Penyelesaian DN 98

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 22
    • 0Komentar

    DENPASAR, Matakompas.com – Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Provinsi Bali kembali menyoroti polemik pensertifikatan tanah DN 98 di Desa Pecatu, Kabupaten Badung, yang hingga kini belum menemukan kejelasan. Dalam rapat dengar pendapat yang digelar Kamis (9/4/2026) di Ruang Rapat Ketua DPRD Bali, persoalan ini mencuat setelah masyarakat mengeluhkan ketidakadilan dalam […]

  • Camellia Panduwinata: Pengadilan Ad Hoc Langkah Tepat dan Berani

    Camellia Panduwinata: Pengadilan Ad Hoc Langkah Tepat dan Berani

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Admin Jakarta
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Matacompas.com Jakarta — Usulan Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk peradilan ad hoc khusus guna mengusut dugaan penyelewengan dan pelanggaran di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selama 30 tahun terakhir mendapat dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat. Sekretaris Jenderal Kerapatan Tanah Air Indonesia (KITA), Camellia Panduwinata atau yang akrab disapa Camelia Petir, menyatakan dukungannya secara resmi […]

  • Respon Cepat Piket Siaga Satreskrim Polresta Cirebon Menjemput Anak Korban TPPO

    Respon Cepat Piket Siaga Satreskrim Polresta Cirebon Menjemput Anak Korban TPPO

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Cirebon, Jarrakpos.com – Piket Siaga Satreskrim Polresta Cirebon merespon cepat dalam Penjemputan Anak korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Rabu (15/1/2025). Kapolresta Cirebon, Kombes Pol Sumarni, S.I.K, S.H, M.H, mengatakan, respon cepat tersebut berdasarkan laporan orang tua korban pada Selasa (14/1/2025). Saat itu, orang tua korban melaporkan kejadian dugaan tindak pidana perdagangan orang ke Polresta […]

  • Aneh!! Korban Pencurian Sawit Malah Jadi Terlapor, Puluhan Warga Suka Maju Protes Ke Polres Rohul

    Aneh!! Korban Pencurian Sawit Malah Jadi Terlapor, Puluhan Warga Suka Maju Protes Ke Polres Rohul

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Riau
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Rokanhulu,MATAKOMPAS.COM – Puluhan warga Desa Suka Maju, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, mendatangi Mapolres Rokan Hulu dengan tujuan bentuk dukungan moral terhadap seorang warga nama Paan yang selama ini dikenal sebagai korban pencurian buah kelapa sawit, namun kini justru dilaporkan atas dugaan tindak pidana pengeroyokan. dan pada hari ini Rabu (10/6/2026) sedang di lakukan pemanggilan […]

  • Dana Bantuan Porang Rp26 Miliar Diduga Disalurkan Lewat Perusahaan Keluarga

    Dana Bantuan Porang Rp26 Miliar Diduga Disalurkan Lewat Perusahaan Keluarga

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Admin Jakarta
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Matacompas.com Jakarta – Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (KOSMAK) menemukan adanya dugaan korupsi terkait bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) Tahun Anggaran 2020-2022 untuk Pengembangan Tanaman Porang di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Dalam temuannya dugaan korupsi itu merugikan negara Rp.26 Miliar, yang diduga melibatkan Syahruddin Alrif, Hj Haslinda Hasan SPD dan Andre Ade Alrif, serta Dollah Mando. […]

expand_less