Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tim Advokasi untuk Kasus Tanah Nangahale Temui Wamen HAM

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 13 Feb 2025
  • visibility 395
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NTT, Jarrakpos.com- Tim Advokasi Forum Komunikasi Komunitas Flobamora (FKKF) Jabodetabek menemui Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Mugiyanto Sipin, Selasa (11/2/2025) sore di Jakarta.

Tim Advokasi untuk Keuskupan Maumere, Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menjelaskan kembali duduk soal sebenarnya tanah Nangahale milik keuskupan berdasarkan data yuridis dan data fisik.

Wamen HAM Mugiyanto saat itu didamping Direktur Pengaduan HAM, Osbin Samosir, dan Staf Khusus Menteri HAM Bidang Hubungan Antarlembaga dan Internasional, Stanislaus Wena. Sementara Tim Advokasi dipimpin oleh Ketua Umum FKKF Jabodetabek, Marsel Ado Wawo SH dan Ketua Dewan Pembina FKKF, Petrus Selestinus SH, yang juga advokat senior.

Di awal pertemuan, Marsel menjernikan arus informasi yang menyesatkan dan laporan palsu bawah Keuskupan Maumere melalui PT Krisrama telah melanggar HAM saat pembersihan lahan HGU PT Krisrama di Nangahale.

Berita yang tersiar menuding perusahaan milik keuskupan telah “menggusur rumah-rumah warga di tanah masyarakat adat”. Tidakan itu disebut melanggar HAM.

“Kami mengapresiasi Kementerian HAM yang mau menerima kami. Kami datang mau menjelaskan legal standing yang sebenarnya, status hukum tanah Hak Guna Usaha (HGU) yang sudah diberikan Negara kepada PT Krisrama (perusahaan milik Keuskupan Maumere, Red),” ujar Marsel sambil memperkenalkan anggota rombongannya kepada Wamen HAM.

“Kami datang ke sini untuk memberikan informasi yang sebenarnya, terkait legal formil, legal standing dari tanah HGU PT Krisrama. Kalau menyangkut tanah, kami memberikan data yuridis dan data fisiknya; dua hal pokok yang sangat penting di bidang pertanahan. Tanah ini diduduki orang lain. Mereka melanggar hukum, tetapi minta keadilan. Ini tak masuk akal,” kata Marsel lagi.

Selanjutnya mengenai gambaran sejarah prolehan dan status hukum tanah disampaikan oleh Agustinus Dawarja SH, advokat dari LexRegis-Agustinus Dawarja & Partners, yang bergabung dalam Tim Advokasi FKKF Jabodetabek.

Bahwa tanah tersebut semula dikuasai oleh Perusahaan Belanda, Amsterdam Soenda Compagni dg surat Keputusan Residence Timor en Onder Hoorigheden tgl 11 September 1912, No. 264. Luas seluruhnya lebih kurang 1.438 Ha.

Pada tahun 1926 tanah tersebut dijual oleh Perusahaan Belanda dan dibeli oleh Apostholik Vikariat Van De Klanis Soenda Elianden dengan harga (waktu itu)F. 22.500 gulden.

Pada tgl 16 Des. 1956 Vikariat Apostholik Ende (VAE) melepaskan sebagian tanah dg luas 783 Ha kepada Pemerintah Swapradja Sikka untuk kepentingan masyarakat sebagaimana termuat dalam surat VAE No. 981/V/56.

Kemudian dengan diberlakukannya UU Pokok Agraria No. 5 thn 1960, terbitlah KEPPRES No. 32 Tahun 1979 tentang Pokok Pokok Kebijaksanaan dalam rangka pemberian hak-hak baru atas tanah asal Konversi hak-hak Barat, maka VAE yg kala itu telah menjadi Keuskupan Agung Ende selaku pemegang Konsesi mengajukan Permohonan Hak Guna Usaha atas Tanah Perkebunan Kelapa Nangahale.

Oleh karena tanah dengan luasan yang demikian tidak bisa dimiliki orang perorangan tetapi badan usaha, maka dibentuklah PT. DIAG ( Dioses Agung Ende).

Pada 5 Januari 1989 PT. DIAG mendapatkan Hak Guna Usaha dari Kepala Badan Pertanahan Nasional No.4/HGU/89 hak pengelolaan selama 25 tahun dengan Sertifikat No. 3 / 1993 dan berakhir pd 31 Des. 2013. Pada diktum ketiga huruf ” F ” dinyatakan bahwa HGU dimaksud DAPAT DIPERPANJANG dengan jangka waktu 25 tahun.

Sebelum berakhirnya izin HGU, PT. Krisrama telah mengajukan perpanjangan izin HGU kepada Kementerian ATR/BPN. Dalam proses itu, PT Krisma menyatakan mengembalikan hampir 500 ha kepada negara.

Sebelumnya, awal 1993, tanah seluah 29 ha sudah dilepas kepada Pemda Sikka untuk diberikan kepada pengungsi korban gempa dan tsunami.

Dalam proses itu, ada masyarakat yang menamakan dirinya sebagai “Masyarakat Adat” berupaya mengokupasi tanah tersebut dengan membangun pondok dan rumah. Pemerintah Bersama PT. Krisma berulang kali berupaya menyelesaikan masalah tersebut, tetapi tidak pernah dihiraukan oleh para penyerobot.

Pada 8 Juni 2021, Tim Terpadu Penyelesaian Tanah Eks HGU Nangahale mengeluarkan Keputusan bahwa tanah Nangahale bukan tanah adat atau tanah masyarakat adat. Di wilayah Kabupaten Sikka tidak ada tanah ulayat dan masyarakat adat. Tanah Nangahale, dengan merujuk pada UUPA No.5/1960, adalah tanah HGU yang diberikan pemerintah dan kemudian diterbitkan sertifikat HGU.

“Karena sudah mengantungi sertifikat HGU, ketika ada penyerobotan maka dilakukan penertiban atau pembersihan lahan. Di lahan HGU itu ada puluhan pondok darurat, dan hanya satu rumah semi permanen. Itulah yang dibersihkan. Tidak ada rumah penduduk, yang ada adalah pondok-pondok untuk basecamp klaim mereka. Penyerobotan adalah bukti kejahatan,” kata Gusti.

Video yang beredar luas menunjukkan, satu rumah semi permanen sedang dirobohkan. Menurut Gusti, itu adalah rumah aktivis LSM AMAN Flores Bagian Timur. Aktivis LSM sengaja membangun satu rumah semi permanen dan mengundang media merekamnya, seolah-olah seluruhnya rumah seperti itu. “Padahal selebihnya adalah pondok darurat. “Penyerobotan adalah kejahatan,” katanya.

Menurut Gusti, seharusnya kelompok aktivis LSM AMAN tidak boleh menghasut warga membangun basecamp untuk menduduk lahan 380 hektar yang jelas-jelas milik HGU PT Krisrama. “Seharusnya mereka mendorong Pemkab Sikka atau BPN untuk segera mendistribusikan tanah 500 ha yang sudah dilimpahkan ke pemerintah untuk didistribusikan kepada warga,” ujar Gusti.

Tim Advokasi FKKF menegaskan, PT Krisrama memiliki legal standing, data yuridis yang kuat. Selain itu, PT Krisrama juga memiliki bukti atau data fisik yang juga kuat, seperti menguasai dan tidak menelantarkan lahan, perkebunan kelapa tetap produktif, karyawan atau pekerja serta perusahaan tetap bekerja produktif. “PT Krisrama aktif menguasai dan mengelolah lahannya,” kata Gusti.

Ada tudingan, PT Krisrama melanggar HAM ketika “menggusur rumah-rumah warga” beberapa waktu lalu. Tim Advokasi FKKF membantahnya. “Tidak ada pelanggaran HAM, yang ada penyerobotan, perbuatan melawan hukum,” kata Paskalis Askara da Cunha SH dari Tim Advokasi. Dari penjelasan itu, Kementerian HAM diharapkan memahami bahwa tidak ada pelanggaran HAM.

Penyerobotan dilakukan oleh sekelompok warga yang diduga kuat dihasut oleh oknum aktivis LSM masyarakat setempat. Mereka memainkan isu “tanah ulayat” dan “masyarakat adat”. Padahal di wilayah Kabunaten Sikka tidak dikenal apa yang disebut “masyarakat adat, tanah adat, atau tanah ulayat”, sebagaimana telah disampaikan oleh Tim Terpadu Pemkab Sikka.

Marsel menambahkan, pada saat perusahaan Belanda menjual ke Vikariat Apostolik Sunda Kecil (yang kemudian menjadi Vikariat Apostolik Ende, lalu terakhir menjadi Keuskupan Agung Ende) pada 1926, luas seluruhnya sekitar 1.500 hektar. Namun pada 1957, Vikariat Apostolik Ende menyerahkan ke Pemerintahan Swaparaja Sikka, 750 ha. Setelah tsunami Flores 1992, diserahkan lagi 29 ha.

“Penyerahan ketiga, yang terakhir adalah 500 hektar. Jadi, sudah 3 kali keuskupan menyerahkan tanah kepada negara untuk didistribusikan kepada warga. Kami menyarankan Pemkab Sikka dan BPN segera mempercepat redistribusi kepada warga dan langsung penengakan hukum, serta memberikan perlindungan hukum kepada Keuskupan Maumere,” kata Marsel.

“Jangan sampai Keuskupan Maumere dituding sebagai oligarki yang melanggar HAM. Ini kan tidak benar,” kata Marsel lagi, yang lalu disambut Wamen Mugiyanto dengan sebuah penegasan,” Padahal yang melanggar sebenarnya umatnya”. Marsel mengamini, “Iya, betul.”. Lalu Marsel melanjutkan, “Kami tidak meminta pembelaan dari Kementerian HAM, tetapi meminta untuk mendudukan kasus secara sebenar-benarnya, sesuai aspek legal, untuk memberikan edukasi kepada warga.”

Wamen Mugiyanto mengatakan, “Saya mengharapkan kasus ini segera selesai. Justru karena aspek HAM-lah kasus ini seharusnya selesai tidak boleh ada pihak mana pun yang mengeksploitasi HAM. Sebaliknya, tidak boleh memanipulasi HAM. Secara prinsip, kita harus menghormati HAM itu clear. Kita harus menghormati masyarakat adat, itu clear, tetapi harus dengan cara yang benar.”

Menurut Wamen HAM, Kementerian HAM akan datang jika diperlukan hadir di lokasi di Nangahale. “Tujuannya untuk memfasilitasi menuju penyelesaian. HAM itu berdiri di atas semua pihak,” katanya, sambil mengucapkan apresiasi bahwa informasi yang disampaikan Tim Advokasi FKKF sangat penting agar kementerian tidak salah dalam mengambil sikap.

Pengacara senior, Petrus Selestinus, memberikan sebuah pernyataan penutup yang kuat. Dia mengatakan, sebenarnya LSM AMAN yang diduga menghasut warga untuk menduduki lahan perkebunan PT Krisrama itu dimotori seorang oknum aktivis JB, yang telah memberikan data-data paslu tentang pelanggaran HAM ke Kementerian HAM.

Pengaduan JB ke Wamen Mugiyanto sebelumnya sangat mendiskreditkan Keuskupan Maumere. “Sebenarnya apa yang dilakukannya adalah semata-mata untuk kepentingan pribadi. Masyarakat setempat sebenarnya sudah tidak mengenal lagi apa yang disebut masyarakat adat dan tanah adat, atau tanah ulayat,” kata Petrus.***

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maaih Suasana Lebaran, Tukang Ojek Pangkalan (POTER) Terminal Tipe A Tidar Magelang Gelar Acara Halal Bihalal

    Maaih Suasana Lebaran, Tukang Ojek Pangkalan (POTER) Terminal Tipe A Tidar Magelang Gelar Acara Halal Bihalal

    • calendar_month Minggu, 20 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 251
    • 0Komentar

    KOTA MAGELANG,JARRAKPOS.COM – Para Tukang Ojek Pangkalan Terminal Tidar Magelang (POTER) baru saja menggelar acara Halal Bihalal di rumah Sriyanto di Desa Dudan Kecamatan Tidar Utara, Kota Magelang, Minggu (20/4/2025). Sekitar 30 tukang ojek yang tergabung dalam POTER hadir dalam kegiatan halal bihalal di Desa Dudan ini. Ketua POTER yang turut serta acara, hariyanto, mengungkapkan […]

  • Dukung Pengembangan Ekonomi Kreatif, BI NTT Tingkatkan Kapasitas UMKM

    Dukung Pengembangan Ekonomi Kreatif, BI NTT Tingkatkan Kapasitas UMKM

    • calendar_month Kamis, 13 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 224
    • 0Komentar

    NTT, Jarrakpos.com- Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (BI NTT) perkuat kapasitas UMKM untuk memajukan ekonomi kreatif di NTT. Provinsi NTT memiliki UMKM potensial di bidang ekonomi kreatif yang tersebar di berbagai wilayah. “NTT Memiliki produk-produk ekonomi kreatif UMKM yang berkualitas, seperti karya wastra dan kriya, namun kontribusinya masih terbatas. BI akan terus berkomitmen mengembangkan […]

  • Pemprov NTT Rapat Implementasi Hasil Pertemuan dengan 24 Kementerian/ Lembaga dan Gubernur DKI Jakarta

    Pemprov NTT Rapat Implementasi Hasil Pertemuan dengan 24 Kementerian/ Lembaga dan Gubernur DKI Jakarta

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.266
    • 0Komentar

    NTT, Jarrakpos.com- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) gelar rapat khusus membahas implementasi hasil pertemuan antara Gubernur dan Kepala Daerah Provinsi NTT dengan 24 Kementerian/ Lembaga dan Gubernur DKI Jakarta. Rapat ini dipimpin langsung oleh Gubernur NTT, Melki Laka Lena didampingi Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma. Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Gubernur pada Kamis […]

  • Sebelum Menjaga Listrik Tetap Menyala, PLN UPK Timor Lebih Dulu Menjaga Keselamatan Pekerjanya

    Sebelum Menjaga Listrik Tetap Menyala, PLN UPK Timor Lebih Dulu Menjaga Keselamatan Pekerjanya

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Matakompas
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Matakompas.com- Ada banyak hal yang harus dipastikan agar listrik tetap menyala. Pembangkit harus andal, sistem harus terjaga, dan para pekerja yang berada di balik operasionalnya harus dapat bekerja dalam lingkungan yang aman. Bagi PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Timor, keselamatan pekerja menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut. Komitmen itu kembali diwujudkan melalui kegiatan […]

  • Pemkab Bangli Gaungkan Semangat Sumpah Pemuda ke-98: Patriotik, Gigih, Berempati untuk Indonesia

    Pemkab Bangli Gaungkan Semangat Sumpah Pemuda ke-98: Patriotik, Gigih, Berempati untuk Indonesia

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16
    • 0Komentar

    BANGLI, MATACOMPAS.COM — Pemerintah Kabupaten Bangli mengajak seluruh generasi muda untuk terus menumbuhkan semangat patriotisme, kegigihan, dan kepedulian sosial dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang jatuh pada Rabu, 28 Oktober 2026. Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, peringatan tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki […]

  • Dibawah Komando Irfan Wibowo Kejari Kota Bandung Raih Rekor MURI Pembagian KIA Terbanyak, Begini Sosoknya

    Dibawah Komando Irfan Wibowo Kejari Kota Bandung Raih Rekor MURI Pembagian KIA Terbanyak, Begini Sosoknya

    • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Jarrakpos.com Jakarta – Kepala Kejaksaan Negeri Kota Bandung, Irfan Wibowo, menorehkan prestasi gemilang setelah dianugerahi penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas keberhasilan program Pembagian Kartu Identitas Anak (KIA) Terbanyak di Indonesia. Penghargaan diserahkan pada acara di Lanaya Hall, Kiara Artha Park, Kota Bandung, Kamis (21/8/2025). Rekor tersebut tercatat melalui pendampingan Kejari Bandung bersama […]

expand_less