Emanuel Luan: “Mahasiswa Harus Berpihak pada Rakyat, Bukan Ditunggangi Kepentingan Politik”
- account_circle Redaksi Matakompas
- calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NTT, Matakompas.com- Suara kritis datang dari tokoh muda Malaka, Emanuel Luan, yang menyoroti sikap sebagian mahasiswa asal Malaka di Jakarta.
Ia menilai aksi damai yang dilakukan oleh sejumlah anggota Ikatan Mahasiswa Malaka (IMMALA) Jakarta di Kantor DPP Partai Golkar baru-baru ini menyimpan tanda tanya besar.
Menurut Emanuel, aksi tersebut tampak tidak murni sebagai gerakan moral mahasiswa, melainkan berpotensi ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu.
“Kami melihat aksi itu seolah ingin menggiring opini bahwa Ketua DPD II Partai Golkar Malaka melakukan tindakan anarkis. Ini sangat disayangkan, karena mahasiswa seharusnya menjadi pengontrol moral, bukan alat kepentingan politik,” tegas Emanuel (11/11/2025).
Ia menambahkan, jika memang ada kader partai yang diduga bersalah, biarlah partai yang menyelesaikannya sesuai mekanisme dan aturan internal.
Namun yang lebih penting, mahasiswa seharusnya menaruh perhatian pada persoalan besar yang langsung menyentuh kepentingan rakyat kecil.
“Saya heran, mengapa ketika muncul dugaan korupsi proyek Rumah Seroja, RS Pratama, dan pembangunan septik tank yang merugikan rakyat miskin, IMMALA Jakarta justru diam. Mengapa suara mereka tak terdengar saat rakyat menderita?” kritik Emanuel dengan nada tajam.
Bagi Emanuel, keberpihakan mahasiswa seharusnya berpijak pada nilai-nilai keadilan sosial dan kebenaran publik, bukan diarahkan untuk menyerang individu tertentu demi kepentingan politik sesaat.
Ia menilai, mahasiswa harus menjadi mata dan telinga rakyat, bukan tangan kekuasaan.
“IMMALA Jakarta jangan kehilangan jati diri. Mahasiswa harus menjadi kekuatan moral yang berdiri di atas semua kepentingan, berpihak pada rakyat dan kebenaran,” tegasnya menutup pernyataan.
Pernyataan Emanuel Luan ini menjadi pengingat keras bagi gerakan mahasiswa di mana pun: idealisme tidak boleh digadaikan. Ketika suara rakyat terabaikan, mahasiswa seharusnya berdiri di garis depan, bukan di bawah bayang-bayang kepentingan politik.*** Eky
- Penulis: Redaksi Matakompas



Saat ini belum ada komentar