Kepemimpinan Gubernur Koster Berbasis Kearifan Lokal, Arah Pembangunan Bali dalam Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, Matakompas.com — Kepemimpinan Gubernur Bali, Dr Ir Wayan Koster M.M, menegaskan arah pembangunan Pulau Dewata yang tidak semata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menempatkan keseimbangan antara alam, manusia, dan kebudayaan sebagai fondasi utama.
Melalui visi besar “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, pemerintah provinsi mengusung konsep pembangunan semesta berencana yang menyeluruh, terintegrasi, dan berbasis nilai-nilai kearifan lokal Bali. Pendekatan ini mengedepankan harmoni antara dimensi sekala (fisik) dan niskala (spiritual), sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Bali.
Dalam tataran kebijakan nyata, pendekatan sekala diwujudkan melalui berbagai regulasi strategis. Di sektor lingkungan, Pemerintah Provinsi Bali menerbitkan kebijakan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai serta mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber. Langkah ini diperkuat dengan upaya perlindungan ekosistem danau, sungai, dan laut sebagai bagian dari komitmen menjaga kelestarian alam Bali.
Di bidang budaya dan adat, penguatan desa adat menjadi salah satu pilar utama. Melalui regulasi daerah, desa adat diberikan ruang dan peran strategis dalam menjaga tradisi, nilai, serta identitas budaya Bali. Penggunaan busana adat dan bahasa Bali juga terus didorong sebagai bagian dari upaya pelestarian jati diri masyarakat.
Sementara itu, sektor energi dan infrastruktur diarahkan menuju keberlanjutan melalui penerapan energi bersih dan pengembangan kendaraan listrik. Kebijakan ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menjawab tantangan global terkait perubahan iklim dan krisis lingkungan.
Tak hanya pada aspek fisik, pendekatan niskala turut menjadi ciri khas kepemimpinan Koster. Pemerintah secara konsisten memuliakan alam melalui pelaksanaan berbagai upacara adat dan ritual keagamaan, seperti Karya Pangurip Gumi dan peringatan enam Rahina Tumpek, sebagai wujud harmonisasi antara manusia dan alam semesta.
Gaya kepemimpinan Wayan Koster dikenal berani dan tegas dalam mengambil kebijakan, termasuk langkah-langkah yang kerap menuai polemik. Penertiban vila ilegal, pengaturan perilaku wisatawan asing, hingga kebijakan penanganan tempat pembuangan akhir menjadi bagian dari upaya menjaga marwah dan keberlanjutan Bali dalam jangka panjang.
Lebih jauh, arah pembangunan Bali dirancang dengan perspektif jangka panjang hingga 100 tahun ke depan. Visi ini menegaskan komitmen pemerintah dalam memastikan kebudayaan Bali tetap menjadi “jangkar” utama di tengah arus globalisasi dan modernisasi.
Melalui sinergi antara pemerintah, desa adat, dan masyarakat, kepemimpinan ini berupaya menghadirkan model pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai lokal. Sebuah pendekatan yang menempatkan Bali bukan sekadar destinasi, melainkan ruang hidup yang lestari dan berbudaya. (Red/Van)
- Penulis: admin



Saat ini belum ada komentar