Bupati Sanjaya: Jatiluwih Harus Tetap Jadi Lumbung Pangan Bali, Pariwisata Adalah Bonus yang Menguatkan Ekonomi Rakyat
- account_circle admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TABANAN – Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk menjaga Jatiluwih sebagai kawasan pertanian warisan dunia yang tetap lestari, sekaligus memastikan manfaat sektor pariwisata benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal.
Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Jatiluwih Festival VII Tahun 2026, Sabtu (20/6/2026), yang mengusung tema In Balance with Nature, Inspired by Tradition.
Dalam sambutannya, Sanjaya menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh masyarakat Jatiluwih yang selama tujuh tahun konsisten menggelar festival sebagai ruang promosi budaya, pertanian, UMKM, seni, dan pariwisata berbasis masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan festival hingga memasuki tahun ketujuh menjadi bukti semakin kuatnya kolaborasi masyarakat dalam menjaga identitas Jatiluwih sebagai destinasi wisata kelas dunia yang tetap berpijak pada nilai-nilai lokal.
“Festival ini bukan sekadar sebuah perayaan, tetapi menjadi media untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dari bawah, mengangkat budaya, memperkuat sektor pertanian, serta menjaga warisan leluhur agar tetap hidup,” ujar Sanjaya.
Bupati asal Dauh Pala itu menegaskan bahwa Jatiluwih bukan sekadar hamparan sawah terasering yang indah dipandang mata, melainkan simbol peradaban agraris Bali yang diwariskan secara turun-temurun melalui sistem Subak yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana.
Ia menjelaskan, pengakuan UNESCO terhadap Jatiluwih pada tahun 2012 bukan hanya karena keindahan bentang alamnya, melainkan karena sistem tata kelola air Subak yang dinilai sebagai warisan budaya yang unik dan masih bertahan hingga kini.
“Kalau sawah, banyak daerah memiliki. Tetapi sistem tata kelola air seperti Subak tidak dimiliki semua daerah. Itulah yang menjadi keunggulan Bali dan diakui dunia,” tegasnya.
Sanjaya mengatakan, Kabupaten Tabanan dikaruniai bentang alam yang lengkap melalui konsep Nyegara Gunung, yakni perpaduan pegunungan, danau, sungai hingga laut yang menjadikan wilayah tersebut sangat subur untuk pertanian.
Menurutnya, warisan alam tersebut merupakan anugerah yang wajib dijaga, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat.
Di sisi lain, Sanjaya mengingatkan bahwa berkembangnya sektor pariwisata juga membawa tantangan besar berupa ancaman alih fungsi lahan pertanian.
Karena itu, ia menegaskan pembangunan pariwisata di Tabanan tidak boleh mengorbankan lahan produktif maupun merusak nilai-nilai budaya yang menjadi kekuatan utama daerah.
“Tabanan tetap berkomitmen mempertahankan wilayah pertanian sebagai lumbung pangan Bali. Pariwisata adalah bonus yang harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat tanpa menghilangkan identitas pertanian yang kita miliki,” katanya.
Menurut Sanjaya, penyelenggaraan Jatiluwih Festival merupakan salah satu strategi nyata untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Festival tidak hanya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani, pelaku UMKM, pengrajin, seniman, sanggar tari, hingga pelaku usaha kuliner lokal.
“Hasil pertanian bukan hanya dijual dalam bentuk beras, tetapi diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti kuliner tradisional, minuman berbahan beras merah, hingga berbagai produk kreatif masyarakat. Inilah ekonomi yang harus terus kita dorong,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keaslian lanskap Jatiluwih. Menurutnya, pembangunan fasilitas pendukung pariwisata harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mengurangi nilai kawasan yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.
Salah satu persoalan yang saat ini menjadi perhatian pemerintah, kata Sanjaya, adalah kebutuhan lahan parkir yang memadai tanpa merusak panorama sawah terasering.
Ia memastikan pemerintah bersama masyarakat akan mencari solusi terbaik agar peningkatan kunjungan wisatawan tetap berjalan seiring dengan pelestarian kawasan.
Selain itu, Sanjaya mengajak masyarakat untuk mempertahankan karakter bangunan tradisional Bali, termasuk penggunaan material alami pada fasilitas wisata sehingga tetap menyatu dengan lanskap Jatiluwih.
“Kita ingin masyarakat lokal menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Pariwisata harus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat, bukan justru menggeser mereka dari ruang hidupnya,” tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Panitia Jatiluwih Festival VII sekaligus Manajer DTW Jatiluwih, John K. Purna, menyampaikan bahwa festival tahun ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Ia juga mengungkapkan bahwa Jatiluwih kembali menorehkan prestasi internasional dengan meraih penghargaan Leading UNESCO Culture Landscape Tourism Destination dalam ajang Asian Tourism and Hospitality Awards 2026, melengkapi berbagai pengakuan dunia yang telah diterima sebelumnya.
Mengakhiri sambutannya, Bupati Sanjaya secara resmi membuka Jatiluwih Festival VII Tahun 2026.
“Dengan mengucapkan Om Awighnam Astu Namo Siddham, Jatiluwih Festival Tahun 2026 secara resmi saya nyatakan dibuka. Semoga festival ini terus menjadi penggerak pelestarian budaya, pertanian, serta kesejahteraan masyarakat menuju pariwisata yang berkelanjutan,” pungkasnya.
- Penulis: admin




Saat ini belum ada komentar