Ketegangan Sempat Mewarnai Persembahyangan Tangkas Kori Agung, Dialog Tokoh Adat Redam Suasana
- account_circle admin
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KLUNGKUNG – Ribuan semeton Kawitan Tangkas Kori Agung dari berbagai penjuru Bali memadati kawasan Pura Kawitan Tangkas Kori Agung Pusat di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Minggu (9/8/2026). Mereka datang dari Buleleng, Karangasem, Nusa Penida, hingga sejumlah daerah lainnya dengan satu tujuan utama, yakni melaksanakan persembahyangan.
Namun, di tengah khidmatnya kegiatan keagamaan tersebut, sempat muncul ketegangan menyusul beredarnya informasi mengenai larangan bagi sejumlah semeton untuk melakukan persembahyangan di kawasan pura yang saat ini masih dalam proses perbaikan.
Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi dialog antara dua kelompok internal warga Tangkas Kori Agung. Meski sempat memanas, kondisi tidak sampai berkembang menjadi kericuhan.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan keamanan, Polres Klungkung menerjunkan sekitar 50 hingga 70 personel gabungan. Personel ditempatkan di sejumlah titik strategis untuk melakukan pengamanan, pengaturan arus lalu lintas, sekaligus memantau situasi di sekitar kawasan pura.
Kapolres Klungkung AKBP Mikael Hutabarat menegaskan bahwa kehadiran aparat bukan untuk mencampuri persoalan internal, melainkan memastikan seluruh rangkaian persembahyangan berjalan aman dan tertib.
“Kami hadir untuk melayani. Tugas kami memastikan seluruh rangkaian persembahyangan berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Tempat suci harus kita jaga bersama kekhidmatannya,” tegasnya.
Ketegangan sempat terlihat ketika berlangsung dialog antara sejumlah tokoh dari dua kelompok internal. Salah satu penglingsir pura yang hadir bahkan menyampaikan jaminan bahwa krama yang datang memiliki niat untuk sembahyang dan siap menjaga ketertiban.
Perwakilan umat juga menegaskan bahwa mereka tidak bermaksud memaksakan diri memasuki area utama pura.
“Kami hanya sembahyang di areal parkir, bukan di jeroan pura,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan pengusaha asal Nusa Penida, I Made Wijaya, S.Kom. Menurutnya, perjalanan semeton dari berbagai daerah ke Pura Kawitan Tangkas Kori Agung semata-mata dilandasi niat untuk melaksanakan persembahyangan.
“Tujuan semeton datang jauh-jauh dari Nusa Penida dan daerah lain ini hanya satu, yaitu untuk melakukan persembahyangan. Tidak ada maksud lain,” ujarnya.
Melihat dinamika tersebut, aparat keamanan bersama tokoh adat dan pemangku pura mengambil langkah persuasif. Para pihak kemudian diarahkan untuk mengedepankan komunikasi dan musyawarah agar persoalan internal tidak melebar menjadi konflik terbuka.
Hasilnya, dialog disepakati dilanjutkan secara terbatas dengan melibatkan para tokoh, penglingsir, pemangku, dan pihak-pihak yang dianggap berkepentingan.
Langkah tersebut terbukti efektif. Ketika dialog berlangsung, ribuan umat memilih menunggu dengan tertib di area parkir. Mereka tidak memasuki jeroan pura dan tetap menghormati proses musyawarah yang sedang dilakukan.
Pemandangan ini sekaligus menunjukkan bahwa di tengah perbedaan pandangan, ruang dialog masih menjadi jalan untuk menjaga suasana tetap kondusif.
Sinergi antara aparat kepolisian, tokoh adat, pemangku, serta masyarakat akhirnya mampu meredam potensi eskalasi. Tidak terjadi kericuhan maupun gangguan keamanan yang berarti hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Polres Klungkung pun mengimbau seluruh semeton Kawitan Tangkas Kori Agung untuk tetap mengedepankan persatuan, menghormati dresta adat, serta menyelesaikan setiap persoalan internal melalui jalur musyawarah dan kekeluargaan.
“Kami berharap segera ada titik terang dari hasil dialog para tokoh. Mari bersama kita jaga Klungkung tetap aman dan harmonis,” tutup Kapolres Klungkung.
Peristiwa di Pura Kawitan Tangkas Kori Agung ini menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan di tengah komunitas adat dan keagamaan sebaiknya tidak berkembang menjadi pertentangan. Ketika komunikasi, rasa saling menghormati, dan musyawarah dikedepankan, suasana yang sempat memanas pun dapat kembali diredam.
Di tengah ribuan umat yang datang dengan niat suci untuk bersembahyang, ketenangan akhirnya menjadi pilihan bersama.
(Red/JB)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar