Sejak SMA, Wayan Koster Sudah Membaca Masalah Pura Agung Besakih, Kini Ditata Menyeluruh
- account_circle admin
- calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KARANGASEM, Matakompas com — Penataan besar di kawasan suci Pura Agung Besakih ternyata bukan lahir dari proses birokrasi semata. Gagasan itu berakar dari ingatan lama seorang pelajar yang datang untuk sembahyang, lalu diam-diam mencatat ketidakteraturan yang ia lihat.
Gubernur Bali, Wayan Koster, mengungkapkan bahwa ide menata Besakih sudah muncul sejak dirinya masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Singaraja. Saat itu, ia rutin tangkil, termasuk ketika Karya besar tahun 1979 berlangsung.
“Sejak SMA sudah ada pikiran itu. Saya ke sini tidak hanya sembahyang, tapi memperhatikan kondisi pelinggih satu per satu,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Di tengah kesakralan Besakih, Koster muda justru menangkap hal lain: ketidakteraturan yang berlangsung lama tanpa penataan. Pelinggih berdiri dengan material berbeda, warna tak seragam, hingga ukiran yang tidak selaras. Beberapa bahkan tampak lapuk dimakan usia.
“Ada yang reot. Jadi tidak harmonis,” katanya.
Catatan itu tidak pernah hilang. Ia tersimpan selama puluhan tahun, hingga akhirnya menemukan momentumnya ketika Koster memimpin Bali. Pengamatan masa SMA itu kini menjelma menjadi kebijakan konkret yang dijalankan secara bertahap.
Tahap pertama difokuskan pada penataan akses dan parkir—persoalan klasik yang selama ini kerap memicu kemacetan saat upacara besar. Pemerintah Provinsi Bali membangun fasilitas parkir terpadu, wantilan, serta margi agung dengan total anggaran mencapai Rp911 miliar.
Hasilnya mulai terlihat sejak 2023. Arus kendaraan lebih tertib, dan umat tidak lagi terjebak antrean panjang saat tangkil. Namun, bagi Koster, pembenahan itu baru menyentuh permukaan.
Tahap kedua yang kini berjalan menyasar inti persoalan: penataan Parahyangan. Sebanyak 30 pura direstorasi, terdiri dari 26 pelinggih utama dan 4 pura pesemeton. Pendekatan yang digunakan bukan sekadar rehabilitasi, melainkan restorasi menyeluruh.
Bangunan dikembalikan ke bentuk aslinya, dengan standar material dan estetika yang seragam sesuai pakem.
“Harus kembali ke pakem. Tidak boleh lagi berbeda-beda seperti dulu,” tegas Koster.
Untuk tahap ini, total anggaran mencapai Rp266 miliar, yang bersumber dari APBD Provinsi Bali sebesar Rp63 miliar serta Bantuan Keuangan Khusus Kabupaten Badung senilai Rp203 miliar. Target penyelesaian ditetapkan pada November 2026.
Koster bahkan memasang tolok ukur yang lebih konkret: saat Karya Ida Bhatara Turun Kabeh tahun 2027, seluruh parahyangan di Besakih harus sudah tertata dalam kondisi baik.
Penataan Besakih hari ini pada dasarnya merupakan jawaban atas persoalan lama—pembangunan yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri tanpa standar yang jelas. Kini, pendekatannya dibalik: satu sistem, satu pakem.
Di kawasan suci ini, yang sedang dibangun bukan hanya fisik. Lebih dari itu, yang sedang diselesaikan adalah catatan lama seorang siswa SMA yang akhirnya menemukan waktunya untuk diwujudkan.
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar