Giri Prasta: Bali Boleh Maju, Tapi Jangan Kehilangan Akar Adat dan Budaya.
- account_circle Redaksi Bali
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, Matakompas.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menegaskan pentingnya menjaga adat, tradisi, agama, seni, dan budaya sebagai fondasi utama pembangunan Bali di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi.
Pesan tersebut disampaikan Giri Prasta saat menghadiri Peringatan HUT ke-3 Forum Gerakan Adat Se-Nusantara (Forgas) Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Rabu (9/9/2026).
Peringatan HUT ke-3 Forgas Bali tahun ini mengusung tema “Strategi Ngemargiang Sad Kerthi Loka Bali, Ngajegang Tradisi, Adat lan Budaya Nusantara”.
Menurut Giri Prasta, keberadaan Forgas memiliki arti penting sebagai wadah pemersatu sekaligus bagian dari gerakan masyarakat dalam menjaga kelestarian adat, tradisi, agama, seni, dan kebudayaan Nusantara.
Di tengah semakin kuatnya pengaruh budaya luar, Forgas diharapkan tidak hanya menjadi organisasi yang menjaga warisan masa lalu, tetapi juga mampu memastikan nilai-nilai luhur tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Giri Prasta juga menitipkan pesan agar Forgas terus mengedepankan kerukunan umat beragama, baik antarumat beragama maupun di internal masing-masing umat. Dalam kehidupan masyarakat Bali, kerukunan tersebut harus berjalan seiring dengan komitmen untuk menjaga adat dan dresta Bali sebagai bagian dari jati diri.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia harus mampu menerima perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa Nusantara. Pesan yang dikaitkan dengan Bung Karno tersebut, menurutnya, tetap relevan di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.
“Bali boleh maju, tetapi kemajuannya jangan sampai menggerus akar budaya, adat, dan tradisi,” tegas Giri Prasta.
Ia menegaskan, Bali dibangun dan diwariskan oleh para leluhur dengan kekuatan adat, tradisi, budaya, agama, dan seni yang menjadi sumber taksu Bali. Seluruh kekuatan tersebut harus dijaga bersama agar pembangunan dan kemajuan tidak membuat Bali kehilangan karakter serta identitasnya.
Semangat itu, kata Giri Prasta, sejalan dengan visi pembangunan Provinsi Bali melalui “Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.”
Menurutnya, tema yang diangkat Forgas pada peringatan HUT ke-3 menunjukkan adanya kesamaan semangat antara gerakan masyarakat adat dengan Pemerintah Provinsi Bali, yakni menjaga kesucian, keharmonisan, serta keberlanjutan kehidupan Bali beserta seluruh isinya.
Giri Prasta menekankan, nilai Sad Kerthi tidak boleh berhenti sebagai konsep, tetapi harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Atma Kerthi, misalnya, dapat diwujudkan melalui pemeliharaan kehidupan spiritual, ritual, dan upacara adat. Jana Kerthi diwujudkan dengan melibatkan lintas generasi dalam menjaga keberlanjutan adat, tradisi, dan budaya. Sementara Jagat Kerthi bermuara pada terciptanya keharmonisan kehidupan masyarakat di tengah keberagaman Nusantara.
Karena itu, menjaga adat tidak berarti menutup diri terhadap kemajuan. Demikian pula melestarikan tradisi bukan berarti menolak perkembangan zaman.
Masyarakat Bali justru dituntut mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan perubahan global, namun tetap memiliki pijakan yang kuat pada nilai-nilai lokal.
Dalam konteks tersebut, Giri Prasta mendorong pemanfaatan teknologi melalui penerapan desa digital. Digitalisasi dinilai dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas berbagai kegiatan di tingkat desa maupun banjar.
Salah satunya dalam pengelolaan dana kegiatan keagamaan. Dengan sistem digital, masyarakat dapat mengetahui, memantau, dan memahami penggunaan serta peruntukan dana secara lebih terbuka.
Menurutnya, teknologi seharusnya tidak menjadi ancaman bagi adat dan tradisi. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperkuat tata kelola kehidupan masyarakat adat agar semakin transparan, efektif, dan sesuai tuntutan zaman.
Pada kesempatan tersebut, Giri Prasta juga mengajak seluruh jajaran dan anggota Forgas di kabupaten/kota untuk terus bergandengan tangan dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga warisan leluhur.
Kolaborasi yang telah terbangun selama tiga tahun diharapkan menjadi fondasi untuk memperluas kerja sama dan melahirkan gerakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ketua DPD Forgas Bali, Kadek Arya Bagiastra, menyampaikan komitmen organisasinya untuk berjalan beriringan dengan program dan visi Pemerintah Provinsi Bali, khususnya dalam menjaga serta melindungi adat dan budaya Bali dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai dan kultur masyarakat.
Memasuki usia tiga tahun, Forgas berkomitmen semakin solid dan dewasa dalam memberikan kontribusi terhadap terciptanya kedamaian, toleransi, dan keberagaman.
Ke depan, Forgas juga akan memperkuat sinergi dengan desa adat serta mendorong kaderisasi generasi muda agar tetap mengenal, menggunakan, dan melestarikan bahasa serta aksara Bali sebagai bagian penting dari warisan leluhur.
Lebih luas, Forgas diharapkan mampu menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai elemen kebudayaan Nusantara dari Sabang sampai Merauke.
Gerakan adat, menurut semangat yang dibawa dalam peringatan tersebut, tidak harus bersifat eksklusif. Menjaga akar budaya dapat berjalan beriringan dengan sikap terbuka terhadap keberagaman dan perkembangan zaman.
Forgas hadir bukan untuk menolak kemajuan, melainkan memastikan agar kemajuan tidak menghapus identitas.
Semangat tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa modernisasi dan kebudayaan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Kemajuan dapat diraih, teknologi dapat dimanfaatkan, dan perubahan dapat diikuti, selama masyarakat tetap memiliki akar yang kuat.
Pada akhirnya, adat, tradisi, budaya, dan nilai kebangsaan menjadi fondasi untuk menjaga Bali tetap memiliki karakter di tengah perubahan dunia.
Bali boleh bergerak maju mengikuti zaman, tetapi jati diri, adat, dan akar budayanya harus tetap menjadi pijakan.
Reporter : Putu Ivan.
Redaktur : Agus Jaya.
Sumber : Rilis Pemprov Bali.
- Penulis: Redaksi Bali









Saat ini belum ada komentar