HUT ke-25 Demokrat Bali, Dewa Badra Titip Pesan: Hormati Kader Baru, Jangan Lupakan Jasa Pejuang Lama
- account_circle admin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR |Tokoh sesepuh, deklarator, sekaligus pendiri Partai Demokrat di Bali, Dewa Gede Bagus Badra mengungkap tiga hal penting yang perlu direnungkan bersama dalam momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat.
Hal tersebut disampaikan Tokoh sesepuh, deklarator, sekaligus pendiri Partai Demokrat di Bali, Dewa Gede Bagus Badra, saat memberikan sambutan dalam peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat Provinsi Bali di Sekretariat DPD Partai Demokrat Bali, Denpasar, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, usia 25 tahun bukan sekadar angka. Momentum seperempat abad Partai Demokrat harus menjadi kesempatan untuk mengingat sejarah, melihat tingkat kedewasaan organisasi, sekaligus melakukan refleksi terhadap perjalanan partai.
1. Memperingati Hari Lahir Organisasi
Dewa Bagus Badra mengatakan, ulang tahun merupakan momentum untuk memperingati hari lahir sebuah organisasi, termasuk Partai Demokrat yang digagas pada awal Agustus 2001 oleh dua tokoh utama, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Vence Rumangkang.
Partai Demokrat kemudian secara resmi didaftarkan ke Departemen Hukum dan HAM pada 9 September 2001, bertepatan dengan hari ulang tahun SBY.
“Pendaftaran ini diprakarsai oleh 99 orang pendiri, salah satunya adalah sahabat kita dari Bali, Bapak Drs. I Wayan Sugiana, seorang dosen di Jakarta,” kata Dewa Bagus Badra.
Seiring proses tersebut, mandat dan surat tugas pembentukan pengurus daerah kemudian diserahkan kepada Ir. Anak Agung Susila Jelantik, M.S., kerabat dari Ajik Sudarsi.
Pergerakan pembentukan Partai Demokrat selanjutnya dimulai di Provinsi Bali. Dewa Bagus Badra mengingat kembali tantangan yang dihadapi para pendiri ketika membangun partai politik baru di Bali.
Menjelang verifikasi partai politik, Partai Demokrat Bali berhasil membentuk kepengurusan di tujuh dari sembilan kabupaten/kota.
Setelah kepengurusan di tujuh daerah terbentuk, Partai Demokrat Bali menggelar Musyawarah Daerah (Musda) di salah satu rumah makan di Jalan Ida Bagus Mantra. Dalam Musda tersebut, Dewa Badra ditunjuk sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Bali.
“Persyaratan saat itu memang hanya memungkinkan 7 kabupaten/kota. Kisah lengkap perjalanan ini nantinya akan dituangkan dalam buku 25 Tahun Partai Demokrat Provinsi Bali yang dipimpin oleh Pak Sudiartha, Pak Ida Bagus Astawa, serta rekan-rekan lainnya,” kata Dewa Bagus Badra.
Dewa Bagus Badra menambahkan, dari tahun ke tahun Partai Demokrat selalu berupaya mematuhi dan mengikuti aturan yang ditetapkan oleh KPU Pusat maupun KPU Provinsi Bali.
2. Pertambahan Usia dan Kedewasaan
Hal kedua yang disoroti Dewa Badra adalah pertambahan usia sekaligus proses pendewasaan organisasi.
Partai Demokrat yang berdiri sejak 2001 kini telah melewati perjalanan selama 25 tahun.
Menurutnya, perjalanan tersebut merupakan proses panjang untuk membentuk kematangan dalam memahami dinamika politik.
Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, usia 25 tahun dinilai sudah cukup matang untuk memahami konstelasi politik, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Oleh karena itu, momentum HUT ke-25 harus dimaknai bukan hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai penanda bahwa Partai Demokrat Bali telah melewati berbagai fase dalam perjalanan politiknya.
3. Refleksi Diri dan Penegakan Visi-Misi
Hal ketiga yang dianggap penting adalah melakukan refleksi atas perjalanan partai selama 25 tahun.
Dewa Bagus Badra menyebut refleksi perlu dilakukan terhadap berbagai hal, baik konsolidasi internal maupun konsolidasi eksternal.
“Refleksi terpenting adalah bagaimana visi, misi, dan platform Partai Demokrat dapat diwujudkan secara nasional maupun daerah,” ujarnya.
Menurutnya, platform Partai Demokrat bertumpu pada tiga pilar utama, yakni nasionalis, pluralis dan humanis. Ketiga nilai tersebut kemudian berpadu menjadi pilar nasionalis-religius.
Dewa Bagus Badra juga mengingat kembali masa awal pembentukan Partai Demokrat di Bali, khususnya setelah tragedi Bom Bali. Saat itu, menurutnya, masyarakat Bali sangat membutuhkan rasa aman.
Para pendiri partai tidak hanya berpikir mengenai perolehan kursi legislatif, tetapi juga ingin mewujudkan tagline Partai Demokrat, yakni menciptakan masyarakat yang aman, sejahtera, dan demokratis.
“Kondisi Bali saat itu sangat membutuhkan rasa aman. Dari keamanan, pariwisata dapat pulih kembali, dan dari pariwisata itulah kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Nilai-nilai inilah yang kita tawarkan ke masyarakat sehingga banyak tokoh yang tertarik untuk bergabung,” paparnya.
Dewa Bagus Badra juga menyinggung perjalanan politik Partai Demokrat pada masa awal, termasuk ketika partai tersebut bersama kekuatan politik lainnya mengusung pasangan SBY dan Jusuf Kalla.
Meskipun saat Pilpres syarat pengusungan calon presiden adalah 3 persen dan secara nasional Partai Demokrat meraih 7,5 persen, sementara di Bali mencapai sekitar 6 persen, teman-teman dari partai lain akhirnya dapat bersatu dalam Barisan Partai Demokrat untuk mengusung pasangan SBY dan Jusuf Kalla.
Hormati Kader Baru, Hargai Pejuang Lama
Pada kesempatan tersebut, Dewa Bagus Badra berharap seluruh kader bersama-sama membesarkan Partai Demokrat agar dapat terus berkontribusi bagi masyarakat sesuai amanah Pembukaan UUD 1945.
Dewa Bagus Badra menyebut ada dua prinsip utama yang perlu dipegang untuk membesarkan partai. Pertama, menghormati setiap orang yang datang dan ingin bergabung. Kedua, menghargai orang-orang yang telah terlebih dahulu berjuang dan menjadi pengurus partai.
Prinsip tersebut, kata Dewa Badra, juga diterapkan ketika menyambut bergabungnya sejumlah tokoh, seperti Pak Oles, Putu Suasta, Made Karda, Turah Santika, serta tokoh-tokoh lainnya.
“Jika kita mampu merangkai dua prinsip ini, yaitu menghormati yang baru datang dan menghargai yang sudah ada di dalam niscaya Partai Demokrat ke depan akan jauh lebih maju, lebih baik, dan semakin dicintai rakyat. Demokrat! Jaya! Demokrat! Jaya! Demokrat! Jaya! AHY! Yes!,” tutupnya.
Reporter: Wiguna
Redaktur: Ivan Ernawan
- Penulis: admin









Saat ini belum ada komentar